Ngaji Gus Baha: Kitab Kuning Sebagai Inspirasi Ulama Ketika Melawan Penjajah

0
929

BincangSyariah.Com – Kita semua saat ini tentu tidak asing lagi dengan K.H Bahaudin Nursalim atau yang lebih dikenal dengan Gus Baha. Apalagi berdasarkan penelitian dari Alvara Research Center mempublikasikan bahwa ceramah beliau di dunia maya menduduki urutan kedua yang paling banyak diikuti masyarakat selama bulan Ramadhan tahun ini.

Dalam ceramah terbaru beliau di Haul K.H Wahab Hasbullah pada tanggal 2 Juli kemarin di Tambakberas, beliau bercerita mengenai perjuangan ulama terdahulu seperti Mbah Hasyim Asy’ari dan Mbah Wahab Hasbullah dalam melawan penjajah. Beliau menuturkan bahwa dalam perjuangannya melawan penjajah, khazanah islam menjadi inspirasi para ulama dalam perlawanannya.

“Cerita (dari) buyut-buyut saya, ketika (melawan) Belanda atau Jepang itu yang dicari di geladak (buyut) saya ya kitab (kuning)”, cerita Gus Baha.

Beliau menjelaskan bahwa salah satu khazanah islam yang dapat dijadikan inspirasi melawan penjajah Indonesia yaitu perang Dzatil Usrah atau perang Tabuk pada bulan Rajab tahun 9 Hijriah (630 M) yang merupakan perang terakhir Rasulullah saw. Dalam perang tersebut, baik orang miskin atau pun kaya juga sama-sama ikut menyumbangkan harta bendanya. Apa yang mereka lakukan itu atas kehendak mereka sendiri, karena mereka memilki jiwa yang partriotik.

Begitu juga bangsa Indonesia ketika melawan penjajah, baik orang miskin atau tidak juga ikut menyumbangkan harta bendanya. Poin pentingnya bukanlah seberapa besar harta yang mereka sumbangkan, akan tetapi dengan hal itu dapat menunjukkan bahwa mereka memiliki watak atau mental ingin berkontribusi dengan bangsa. Sehingga berkat kolektivitas bersama, Indonesia lebih mudah untuk merdeka.

Selain itu, Gus Baha juga menuturkan bahwa melalui khazanah islam, tatanan sosial yang dibuat belanda juga dilawan. Meskipun status Belanda di Indonesia sebagai penjajah, tetapi mereka mendapatkan panggilan Ndoro yang merupakan bahasa jawa dari kata “Tuan”.

Baca Juga :  Gus Baha dan Kiai Najih Maimun Soal Peci Santri

“Orang arab itu kadang agak, dalam tanda kutip, menyindir kita. Lha wong, penjajah kok dipanggil Ndoro”, tutur Gus Baha.

Beliau menceritakan bahwa pada awalnya sebagian para kiyai di Indonesia menganggap bahwa Belanda itu sudah berbuat baik, karena mereka membangun masjid di setiap alun-alun kota. Tetapi lewat diskursus  khazanah keislaman, sebagian kiyai sadar bahwa Belanda sesungguhnya merupakan ancaman bagi bangsa Indonesia lewat penjajahnya di berbagai bidang.

Sehingga berkat kontribusi ulama seperti Mbah Hasyim Asy’ari dan Mbah Wahab Hasbullah, keluarlah resolusi jihad ketika Belanda lewat NICA datang kembali ke Indonesia.

“Kaya apa pentinya ilmu, kaya apa pentingnya fikih. Karena di fikih (dengan) jelas (menuturkan bahwa) jihad untuk melawan penjajah itu fardhu kifayah”, tutur Gus Baha.

Melalui khazanah fikih ini didapatkan sebuah konsesus hukum bahwa berjuang melawan penjajah adalah fardhu kifayah. Bahkan ketika penjajah tersebut sudah memasuki wilayah sebuah daerah, maka orang yang berada di radius 80 KM berkewajiban secara pribadi melawan menjajah meskipun dia adalah seorang wanita.

Maka tidak heran jika di indonesia terdapat beberapa pahlawan wanita seperti Cut Nyak Dien, Cut Nyak Mutia termasuk R.A Kartini dan lain-lainya.

“Jadi kita tidak pernah kehilangan khazanah untuk menjawab problem-problem zaman, yang penting kita selalu mengaji (dan) belajar”, ungkap Gus Baha.

Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here