Ngaji al-Hikam: Jangan Lihat dari Penampilan Luar Saja

0
18

BincangSyariah.Com — Ada sebuah pepatah yang sangat familiar di telinga saya, dan mungkin bagi para pembaca sekalian yang budiman. Pepatah itu berbunyi, “Janganlah menilai sesuatu hanya dari penampilan luar saja”.

Nampaknya pepatah tersebut berbanding terbalik hari ini.

Dan ya, meskipun terkesan sederhana, namun dalam praktiknya, pepatah tersebut merupakan salah satu tindakan yang sangat sulit dilakukan.

Ambil contoh, mungkin seringkali kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kita dalam perjalanan, mungkin di pinggir jalan, mungkin juga di lampu merah, pasti kita sering melihat ada segerombolan anak-anak dengan penampilan, yang mungkin bisa dikatakan seperti preman sedang ngamen.

Apa yang akan terbesit pertama kali ketika melihat mereka?

Ada yang ketika melihat mereka beranggapan bahwa mereka adalah segerombolan orang yang tidak jelas masa depannya dan senantiasa berbuat kejahatan. Dan oleh karena itu, kita harus sebisa mungkin mennghindarinya.

Atau dalam contoh lain, seringkali ketika ada seseorang yang selalu tidur di pagi hingga siang hari kemudian muncul anggapan bahwa dia adalah seorang yang pemalas yang bangun selalu kesiangan dan tentu saja memiliki masa depan yang suram.

Sedangkan makna dari dua contoh di atas justru seringkali kita abaikan.

Pada peristiwa pertama, mungkin saja, di balik penampilan yang demikian, ada hal yang sebenarnya sedang ia perjuangkan. Mungkin saja hanya dengan berpenampilan dan bekerja yang demikian, mereka dapat mendapatkan uang untuk menafkahi keluarganya.

Pada peristiwa kedua, mungkin saja di balik tidurnya itu, pada malam harinya di saat yang lainnya sedang terlelap dalam tidurnya, ia justru sibuk belajar atau ibadah kepada Tuhan-Nya.

Syekh Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari (w. 709 H)—Allah Yarham—dalam kitabnya al-Hikam memberikan pesan yang menohok terhadap kita yang senantiasa terjebak dalam siatuasi dan kondisi yang demikian. Ia memulai nasihatnya dengan menyatakan:

أَبَاحَ لَكَ أَنْ تَنْظُرُمَا فِيْ الْمُكَوَّنَاتِ, وَمَا أَذِنَ لَكَ أَنْ تَقِفَ مَعَ ذَوَاتِ الْمُكَوَّنَاتِ: قُلِ انْظُوُوْا مَاذَا فِيْ السَّمَوَاتِ, لِئَلَّا يَدُلَّكَ عَلَى وُجُوْدِ الْاَجْرَامْ

“Allah Swt. mengizinkan Anda untuk melihat semua yang terdapat di alam semesta. Akan tetapi, Dia tidak menginginkan Anda untuk sampai di situ saja. Katakanlah: ‘Lihatlah sesuatu yang ada di langit, Dia membukakan bagi Anda pintu pemahaman dan tidak mengatakan ‘Lihatlah langit’. Semua itu dilakukan-Nya untuk menunjukkan kepada Anda tentang keberadaan benda langit”.

Berangkat dari redaksi nasihat di atas, apa yang telah diungkapkan Syekh Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari ini setidaknya ada poin penting yang justru seringkali kita abaikan.

Bahwa dari setiap sesuatu yang terlihat secara jelas dalam pandangan mata senantiasa memiliki makna di belakangnya. Baik itu yang melekat di balik alam semesta maupun setiap manusia—beserta tindakan dan sifat-sifatnya—sebagai ciptaan-Nya.

Artinya, kita pada dasarnya tidak diperintahkan Allah Swt. untuk berhenti dalam melihat sesuatu terbatas pada sisi luarnya.

Sebab, ketika pembacaan kita terhenti pada sisi luarnya saja, pada saat yang bersamaan kita pada dasarnya tidak mampu untuk menangkap segala makna yang Allah Swt. letakkan dalam segala peristiwa.

Dan dalam keadaan itulah sebenarnya, sebagaimana diungkapkan Syekh Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari, kita dapat membedakan antara seorang yang arif dan seorang yang jahil. Wallahualam…

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here