Nawal Sa’dawi; Perjuangkan Hak Asasi Perempuan Mesir Lewat Novel

0
16

BincangSyariah.Com – Bagi penggemar karya sastra khususnya novel tentu sudah tidak asing dengan nama Nawal Sa’dawi. Novel-novelnya yang sarat akan kritik sosial ramai diperbincangkan dunia. Meski sebenarnya, novel tersebut sempat tertolak di negaranya sendiri (Mesir) dan beberapa negara Arab lainnya sebab dinilai terlalu membahayakan.

Basic pendidikan Nawal sebenarnya adalah medis. Namun karena kegetiran, marjinalisasi dan diskriminasi terhadap perempuan yang ia lihat di lingkungannya membuatnya berkecimpung dalam dunia feminisme. Oleh karena itu, selain menjadi seorang dokter dan  psikiater, ia pun merangkap sebagai novelis dan aktivis hak asasi perempuan.

Latar Belakang

Nawal Sa’dawi lahir di desa Kafr Tahla, Mesir Utara pada 27 Oktober 1931. Ayahnya bekerja sebagai Pengawas Pendidikan, sementara ibunya adalah Direktur Umum Rekrutasi Tentara. Darah pejuang Nawal berasal dari sang ayah. Ia terlibat dalam revolusi 1919. Akibat keberaniannya, ia sempat diasingkan dan tidak mendapat promosi kerja selama hampir 10 tahun.

Ia hidup di masa dimana budaya patriarki masih kental. Bahwa laki – laki diutamakan mendapat pendidikan. Beruntung, karena lahir dari keluarga berpendidikan, Nawal mendapat fasilitas pendidikan yang layak. Karir belajarnya terbilang sukses. Ia pernah menjajaki kampus kampus kenamaan seperti Universitas Cairo Medical School dan Universitas Columbia.

Pejuang Hak Asasi Perempuan

Dengan terbuka lebarnya keran demokrasi, desakan – desakan warga menuntut kebebasan menggema dimana – mana. Kaum hawa yang selama ribuan tahun mendekap sebagai manusia kelas dua setelah laki – laki ikut berjuang demi nasib yang lebih baik.

Upaya perjuangan atas nama perempuan terwujud dalam beragam aksi. Tentara berjuang di lapangan, politisi berjuang di parlemen, aktivis dan mahasiswi berjuang di jalanan sementara Nawal sebagai novelis berjuang di ruangannya. Siapa sangka hanya bermodal pena dan tinta, suara jeritan perempuan Mesir mampu terdengar di sepenjuru dunia.

Baca Juga :  Rifa’at at-Tahtawi: Mendorong Gagasan Memajukan Perempuan di Mesir

Beberapa karya Nawal sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia seperti Perempuan Di Titik Nol, Jatuhnya Sang Imam, Matinya Mantan Seorang Menteri, Zeina, Perempuan dalam Budaya Patriarki dan Memoar Seorang Dokter Perempuan.

Dalam setiap goresan tintanya ia selipkan kesan – pesan keras terhadap penguasa dan kaum lelaki. Misalnya dalam novel Imraah ‘inda Nuqtath Sifr (Perempuan Di Titik Nol). Firdaus (perempuan) tokoh utama dalam novel tersebut sering dianggap remeh, tidak dihormati, dieksploitasi dan hanya dijadikan objek pemuasan hawa nafsu.

Pernikahan Firdaus bukanlah pernikahan yang ia inginkan, tapi akibat desakan ekonomi dan legitimasi narasi agama. Firdaus kala itu baru berusia 19 tahun, dinikahkan dengan Syekh Mahmoud yang berusia sekitar 60 tahun. Hartanya cukup melimpah sehingga mampu membayar mahar seharga 100 – 200 pond kepada pamannya yang sedang membutuhkan uang.

Dalam novel tersebut ia juga menceritakan praktek pelanggaran dan penyalahgunaan dalil agama yang kerap dilakukan oleh penguasa dan kaum pria misalnya kebolehan tindak kekerasan terhadap istri. Dikisahkan Firdaus sering mendapat pukulan dari suaminya Syekh Mahmoud.

“Pada suatu peristiwa dia memukul seluruh badan saya dengan sepatunya. Muka dan badan saya menjadi bengkak dan memar. Lalu saya tinggalkan rumah dan pergi ke rumah paman. Tetapi paman mengatakan kepada saya bahwa semua suami memukuli istrinya”.

Firdaus heran dan menyangkal, “Paman adalah seorang syeikh terhormat, terpelajar dalam hal ajaran agama. Dan karena itu tidak mungkin memiliki kebiasaan memukuli istrinya”.

Pamannya menjawab, “Justru laki – laki yang memahami agama itulah yang suka memukul istrinya. Aturan agama mengijinkan untuk melakukan hal itu, dan seorang istri yang bijak tidak layak mengeluh tentang suaminya”.

Baca Juga :  Empat Ratu yang Pernah Memimpin Kesultanan Aceh

Padahal sudah jelas, dalam Islam segala bentuk kekerasan kepada istri sangatlah dilarang. Sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadist “Sebaik-baik suami adalah yang paling baik kepada istrinya, sejelek-jelek suami adalah yang paling buruk kepada istrinya”. (HR Muslim). Hadist lainnya mengatakan, “Rasulullah tidak pernah memukul istrinya walau sekalipun” (HR Muslim).

Setelah mendapat kekerasan Firdaus kabur tanpa tujuan yang jelas, terkatung-katung dijalanan. Ia mendapat pelecehan seksual dari beragam oknum termasuk kepolisian. Hingga pada akhirnya membawanya terjerembab ke dalam dunia pelacuran.

Pengalaman pahitnya sebagai seorang istri yang dijual pamannya kepada seorang lelaki tua bangka, lalu dijadikan babu oleh suaminya dan kerap merima KDRT membuatnya muak. Sampai – sampai ia memandang pernikahan tidak lebih dari pelacur dengan harga murah.

“Saya tahu bahwa profesiku ini diciptakan oleh lelaki dan bahwa lelaki menguasai dua dunia kita, yang di bumi ini dan di alam baka. Bahwa lelaki mamaksa menjual tubuh mereka dengan harga tertentu dan bahwa tubuh paling murah dibayar adalah sang istri”.

Ia juga menyoroti diskriminasi terhadap perempuan. “Ketika paman naik ke atas kereta api dan mengucapkan selamat tinggal, saya menangis dan merengek supaya dia membawa saya bersamanya ke Kairo.

Tetapi paman bertanya,”Apakah yang akan kau perbuat di Kairo, Firdaus?”. Lalu saya menjawab,”Saya ingin ke Al Azhar dan belajar seperti paman. Kemudian ia tertawa dan menjelaskan bahwa Al Azhar hanya untuk kaum pria saja”.

Pada akhir cerita ia ditiduri oleh seorang pangeran. Pangeran tersebut membayarnya dengan jumlah fantastis yakni 3000 ponds. Seketika Firdaus teringat masa – masa kecilnya. Dimana ia hidup kelaparan dan bekerja setiap saat. Namun disini seorang pengausa justru menghambur – hamburkan uangnya untuk kepentingan sendiri.

Baca Juga :  Makna Mengikuti Sunah Nabi

Firdaus terlibat cekcok dengan pangeran tadi dan memukulnya dengan keras. Ia pun diciduk. Sebelumnya ia pernah buron pasca membunuh seorang germo. Di balik jeruji ia akui kasusnya itu. Hukuman mati telah menunggu. Ia punya kesempatan bebas jika saja mau meminta permohonan maaf ke Presiden.

Namun ia tidak pernah mau melakukan itu. Sebab menurutnya, perbuatannya itu bukanlah kejahatan. Kejahatan sebenarnya adalah kejahatan yang dilakukan oleh mereka yang terlihat baik tapi ternyata penuh akan kebohongan dan permainan kotor.

“Saya mengatakan bahwa kamu semua adalah penjahat: para bapak, paman, suami, germo, pengacara, wartawan dan semua lelaki dari semua profesi,” ucap Firdaus. Tokoh Firdaus yang sebenarnya sangat berprestasi di sekolah tidak mampu melawan kerasnya dunia sehingga ia pun memilih mati dalam kebanggan.

Begitulah Nawal memperjuangkan nasib perempuan. Melalui tulisan-tulisannya ia sampaikan bahwa perempuan adalah manusia yang sama derajatnya dengan pria.

Bahwa mereka layak mendapat hak untuk hidup dengan damai dan aman. Bahwa mereka layak dihormati dan dimuliakan sebagaimana dunia melakukan laki-laki. Bahwa Islam tidak memperkenankan kekerasan terhadap siapapun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here