Nasihat Nabi saat Haji Wada

0
134

BincangSyariah.Com – Haji wada’ terjadi pada tahun 10 hijriah. Ia dianggap sebagai tanda perpisahan sahabat dengan Rasulullah Saw. Karena tak lama setelah itu, beliau dipanggil Allah Swt. untuk selama-lamanya. Sebagian sahabat yang paham akan isyarat ini, mereka tak kuasa membendung air mata ketika mendengarkan khutbah Nabi Saw.

Di penghujung usianya, Nabi Muhammad Saw. berpesan kepada umatnya agar selalu berpegang teguh kepada Alquraan dan sunnah rasul (HR: Malik). Selama berpatokan kepada dua sumber tersebut dipastikan tidak akan sesat hidup di dunia dan akhirat.

Pada saat haji wada’ pula, Nabi Saw. memberi pelajaran penting kepada para sahabat. Pelajaran itu tentu sangat berguna untuk memperkuat pondasi keislaman kita. Dalam hadis riwayat Ahmad disebutkan:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم في حجة الوداع: ألا أخبركم بالمؤمن؟ من أمنه الناس على أموالهم وأنفسهم، والمسلم من سلم الناس من لسانه ويده، والمجاهد من جاهد نفسه في طاعة الله، والمهاجر من هجر الخطايا والذنوب

“Nabi Saw. bersabda saat haji wada’: ‘Maukah kalian kuberitahu pengertian mu’min? Yaitu orang yang bisa memberi keamanan pada orang lain, baik keamanan harta ataupun jiwa. Sementara muslim ialah orang yang menyelamatkan orang lain dari (bahaya) lisan dan tangannya. Adapun mujahid adalah orang yang bersungguh-sungguh dalam keta’atan pada Allah Swt. dan muhajir ialah orang yang hijrah (beralih) dari kesalahan dan dosa.”

Dari defenisi yang dijelaskan Nabi ini, baik defenisi mukmin, muslim, mujahid, dan muhajir, dapat dipahami bahwa Islam bukanlah agama yang individual. Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan semata, tapi juga menjaga hubungan sesama manusia.

Menjadi orang beriman berati juga harus mampu memberi kenyamanan dan keamanan pada orang lain. Walaupun kita tidak bisa berbuat banyak terhadap orang lain, minimal jangan sampai tingkah laku dan perkataan kita menyinggung dan menyakiti perasaan orang lain.

Baca Juga :  Parenting Islam; Ini 14 Tipikal Karakter Anak yang Harus Kamu Tahu

Begitu pula dengan mujahid, julukan mujahid tidak hanya diberikan untuk orang yang mengikuti perperangan, namun siapapun yang melakukan sesuatu atas dasar keta’atan pada Allah, maka ia dapat dikatakan mujahid. Sementara muhajir, tidak hanya orang yang hijrah dari Mekah ke Madinah, tapi muhajir ialah orang yang mau beralih dari dosa menuju kebaikan. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here