Nasihat Fudhail bin Iyadh untuk Harun al-Rasyid untuk Tidak Menipu Rakyat

0
90

BincangSyariah.Com – Suatu saat, sebagaimana digambarkan dalam Jejak-jejak para Sufi, ketika bermaksud untuk menunaikan ibadah haji, Harun al-Rasyid, seorang tokoh besar umat Islam yang berhasil membuat bangsa Romawi menundukkan kepala akibat kewibaannya tatkala memimpin Kekhalifahan Abbasiyah (14 September 786 – 24 Maret 809 M / 15 Rabiul Awal 170 H – 3 Jumadil Akhir 193 H)—Allah Yarham, menyempatkan diri mengunjungi kediaman Fadhal bin Al-Rabi’, seorang ajudan kesayangan Harun al-Rasyid.

Kunjungan ini, selain ditujukan sebagai ajang silahturahmi, juga ditujukan sebagai sebuah pencarian jawaban atas kegelisahannya selama menjadi seorang pemimpin Kekhalifahan Abbasyiah. (Baca: Ismail Fajrie Alatas: Dinasti Umayyah dan Abbasiyah Belajar dari Imperium Persia dan Romawi)

“Wahai Fadhal! Aku merasa ada sesuatu yang ganjil terselip dalam hatiku. Bisakah engkau tunjukkan kepadaku seseorang yang dapat menjelaskan siapakah sebenarnya diriku ini? Aku sudah sangat bosan dengan kebesaran dan kemewahan dalam hidup,” kata Harun al-Rasyid kepada Fadhal bin Al-Rabi’.

“Baik tuan. Bagaimana jika tuan datang menemui Sufyan bin Uyainah?” usul Fadhal bin Al-Rabi’.

“Antarkan aku kepadanya kalau begitu,” pinta Harun al-Rasyid.

Dengan langkah yang terburu-buru, keduanya bergegas menuju kediaman Sufyan bin Uyainah. Tepat di depan kediaman Sufyan, setelah Fadhal bin Al-Rabi’ mengetuk pintu rumahnya, terdengar sahutan dari dalam rumah Sufyan, “Siapa?”.

“Wahai Sufyan, saya bersama Harun al-Rasyid,” jawab Fadhal bin Al-Rabi’.

Belum sempat sepatah kata keluar dari Sufyan, Harun al-Rasyid berkata, “Adakah yang bisa kubantu, wahai Sufyan? Apakah engkau mempunyai tanggungan utang?”

“Iya tuan, saya mempunyai sejumlah tanggungan utang,” jawab Sufyan bin Uyainah.

“Ini ada sejumlah uang. Bayarlah utangmu,” kata Harun al-Rasyid sembari bergegas meninggalkan Sufyan bin Uyainah.

Baca Juga :  Cara Nabi Muhammad Mendidik Remaja

Merasa belum terlalu puas, Harun al-Rasyid meminta Fadhal bin Al-Rabi’ untuk mengantarkannya kepada orang lain. Dipilihlah kediaman Abdurrazzaq bin Hamam Al-Shan’ani.

Namun hal yang sama terjadi lagi. Sejenak ia menemui Abdurrazzaq menanyakan tentang tanggungan utang, Harun al-Rasyid kemudian bergegas meninggalkannya. Harun al-Rasyid meminta kepada Fadhal bin Al-Rabi’ untuk mencari seseorang lain untuk dapat menghapuskan kegundahan dalam hatinya.

“Maafkan saya tuan jika beberapa orang yang ku sarankan tadi. Ini ada seseorang yang bernama Fudail bin Iyadh. Beliau sangat terkenal akan kezuhudannya, tekun dalam hal beribadah. Barangkali berkat bertemunya engkau dengannya dapat menghapuskan kegundahan dalam hatimu,” tawar Fadhal bin Al-Rabi’ kepada Harun al-Rasyid.

Dengan isyarat menganggukan kepala, keduanya bergegas menuju kediaman Fudhail bin Iyadh. Sesampainya di depan kediaman Fudhail bin Iyadh, terdengar suara lantunan ayat-ayat Al-Qur’an dari dalam rumah. Dengan memberanikan diri, Fadhal bin Al-Rabi’ kemudian mencoba untuk mengetuk pintu rumah Fudhail bin Iyadh.

“Siapa itu? Tidak engkau tahu ini sudah sangat malam,” sahut Fudhail bin Iyadh.

“Saya Fadhal bin Al-Rabi’. Saya datang kemari bersama Amirul Mukminin Harun al-Rasyid”, jawab Fadhal bin Al-Rabi’.

Tanpa disangka, sambutan berbeda diterima oleh Fadhal bin Al-Rabi’ dan juga Harun al-Rasyid. Dengan sedikit menggunakan nada yang tinggi, Fudhail bin Iyadh berkata, “Saya tidak ada urusan dengan beliau.”

Subhanallah, engkau tidak mematuhi sang Amirul Mukminin?” jawab Fadhal bin Al-Rabi’.

Dengan langkah yang dipaksakan, seraya mematikan seluruh lampu, Fudhail bin Iyadh pun membuka pintu rumahnya dan mempersialhkan masuk keduanya. Dengan sedikit meraba-raba, Harun al-Rasyid dibantu masuk oleh ajudannya, Fadhal bin Al-Rabi’.

Setelah Harun al-Rasyid duduk, Fudhail bin Iyadh mengajak salaman seraya berkata, “Alangkah lembutnya tangan ini jika kelak dibebaskan dari api neraka”.

Baca Juga :  Kisah Abu Nawas Disuruh Berubah Menjadi Ayam

“Apa maksudmu?”, tanya Harun al-Rasyid.

Setelah menghelakan nafasnya, Fudhail bin Iyadh pun berkata, “Wahai Amirul Mukminin, dalam sebuah hadits pernah disebutkan bahwa menjadi seorang pemimpin dengan segudang kekuasaan itu adalah sebuah penyesalan dan kenestapaan kelak di hari akhir. Jika engkau mampu untuk tidak memerintahkan orang, maka lakukanlah yang demikian,” ujar Fudhail bin Iyadh.

“Nabi pun pernah bersabda bahwa siapa saja yang di pagi hari harinya menipu orang lain, niscaya ia tidak akan mencium bau surga”, lanjut Fudhail bin Iyadh.

Mendengar hal itu, Harun al-Rasyid menangis sejadi-jadinya hingga ia tidak sadarkan diri. Fadhal bin Al-Rabi’ yang melihat hal itu kemudian menegur Fudhail bin Iyadh, “Sudah hentikan engkau mencederai Amirul Mukminin”.

“Diam kau Hamam! Justru engkaulah yang telah menjerumuskan Harun al-Rasyid!”, jawab Fudhail bin Iyadh sedikit marah.

Mendengar perkataan Fudhail bin Iyadh tersebut, Harun al-Rasyid yang baru saja sadar kembali menangis. “Ia telah menyebutmu dengan Hamam, karena ia telah menyamakanku dengan Fir’aun”, kata Harun al-Rasyid lirih.

“Wahai Syekh! Apakah engkau mempunyai tanggungan hutang?”, tanya Harun al-Rasyid.

“Ya, hutang kepatuhan kepada Allah. Seandainya Dia memaksaku untuk melunasinya, celakalah aku”, jawab Fudhail.

“Maksudku hutang yang perlu dilunasi”, ujar Harun al-Rasyid.

“Aku bersyukur kepada Allah yang telah memberiku kenikmatan yang melimpah. Dan tidak ada alasan bagiku untuk mengeluh kepada hamba-Nya”, jawab Fudhail.

Tanpa berpanjang lebar, Harun al-Rasyid kemudian menyodorkan uang tanda terima kasih kepada Fudhail bin Iyadh karena telah menjawab segala kegundahannya. Dengan sangat tegas, Fudhail bin Iyadh kemudian menolaknya, “Sungguh keterlaluan! Aku mengajakmu kepada keselamatan, engkau malah ingin menjerumuskanku! Berikan uang ini kepada yang berhak!”.

Baca Juga :  Patung Sukarno dan Peran Besarnya dalam Kemerdekaan Aljazair

Wallahu’alam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here