Najwa Shihab Cerita Soal Kakeknya Seorang Pahlawan

0
1365

BincangSyariah.Com – Agustusan. Begitu masyarakat Indonesia menyebut perayaan kemedekaan negaranya. Pada perayaan kemerdekaan tahun ini, Najwa Shihab turut merayakannya dengan memposting foto kakeknya, Abdurrahman Shihab yang sedang berdiri bersama Soekarno di Instagram.

Najwa menuliskan perjalanan hidup kakeknya dengan singkat di caption instagramnya. Dari caranya bertutur, Najwa menunjukkan rasa bangganya pada sang kakek. Sebagai keturunan Arab, sang kakek memilih memakai peci hitam sebagai simbol identitasnya, bukti kecintaannya pada tanah air, Indonesia.

Anregurutta Prof. Habib Abdurrahman Shihab lahir di Makassar pada 14 Januari 1915. Ia adalah seorang akademikus, politikus, dan ahli tafsir Al-Qur’an atau biasa disebut sebagai mufassir Indonesia. Abdurrahman berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan. Ia pernah menjadi anggota Konstituante Republik Indonesia pada 9 November 1956 – 5 Juli 1959 dari fraksi Partai Masyumi.

Selain menjalani profesi sebagai politikus, ia juga seorang akademikus. Jabatan sebagai rektor Universitas Muslim Indonesia dilakoninya selama 2 periode yakni pada1959–1965. Ia juga menjadi rektor Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar ke-3 periode 1973–1979.

Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar didirikan pada tahun 1954. UMI adalah perguruan tinggi tertua dan perguruan tinggi swasta terbesar di kawasan timur Indonesia. UMI juga merupakan satu-satunya PTS yang terakreditasi sebagai Institusi di Indonesia Timur.

Kini, Universitas Muslim Indonesia diselenggarakan oleh masyarakat dalam bentuk Yayasan yakni Yayasan Wakaf UMI, bergerak dibidang pendidikan dan dakwah. UMI membina pendidikan akademik dari strata Diploma 3, Strata satu (S.1) hingga Strata dua (S.2). Seluruhnya tergabung dalam 12 Fakultas, Pascasarjana dan satu Akademi serta 40 Program Studi.

Selain sebagai akademikus, Abdurrahman mulai aktif berkarier di dunia politik sejak 1950-an. Pada 1950–1951, ia aktif menjadi anggota dan pengurus Masyumi cabang Makassar. Setelah itu, pada 1951–1952, ia pun diangkat menjadi anggota Majelis Syuro Masyumi wilajah Sulawesi, dan pada 1952–1956 diangkat menjadi anggota pimpinan Masyumi untuk wilajah Sulawesi.

Baca Juga :  Belajar Tauhid; Cara Kita Meyakini Sifat Qudrat Allah swt.

Keberhasilan diraih pada pemilihan umum legislatif Indonesia 1955. Abdurrahman berhasil menduduki kursi parleman sebagai anggota Konstituante Republik Indonesia dari fraksi Partai Masyumi pada daerah pemilihan Sulawesi Selatan Tenggara dengan nomor anggota 322.

Berikut adalah cerita Najwa Shihab tentang kakeknya:

Lahir pada 1915 di Makassar, Abdurrahman lakukan segala hal baik yang bisa diperbuat: belajar ilmu tafsir hingga jadi profesor, mengajar hingga jadi rektor, mendidik hingga lahirkan Universitas Muslim Indonesia.

Sebagai politikus Masyumi (ia anggota Dewan Konstituante), ia perjuangkan aspirasi ideologis & politik lewat demokrasi. Baginya, Indonesia ialah rumah yang dibangun dengan konsensus dan hanya dengan jalan itu indonesia bisa tumbuh jadi taman yang merawat segala bunga dengan warna beraneka.

Sebagai peranakan Arab-Hadramaut, ia enggan memakai gelar kebangsawanan keluarga. Dengan sadar dipilihnya peci hitam – membuatnya sebarisan dengan Sukarno yang menjadikan peci hitam sebagai simbol identitas kaum nasionalis.

Seperti John Lie (peranakan Tionghoa) atau Ernest Douwest Dekker (peranakan Belanda), ia bagian dari mereka yang memilih Indonesia sebagai muara kesetiaan kebangsaannya ketimbang tanah leluhurnya. Leluhur selamanya dimuliakan, namun tanah yang dipijak hari ini sama berharganya.

Abdurrahman, lengkapnya Abdurrahman Shihab, adalah kakek saya.

Jadi, siapa pahlawanmu hari ini?

#CatatanNajwa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here