An-Nadr bin Harits bin Kaladah : Tabib yang Terbunuh Pasca Perang Badar

0
30

BincangSyariah.Com – Sebelumnya sudah dikisahkan perihal Harits bin Kaladah sebagai seorang tabib di masa Nabi. Kendati kebenaran sejarahnya diliputi kontroversi, tapi toh ia banyak diriwayatkan dalam kitab-kitab thabaqat maupun tarikh.

Sekarang kita akan membahas tabib lain yang hidup di masa Nabi. Merujuk pada ‘Uyunul Anba’ fi Thabaqatil Athibba’ karya Ibnu Abi Usaibiah, tercatat bahwa di masa awal Islam, banyak tabib-tabib yang “melakukan praktek” pengobatan, baik dari kalangan muslim sendiri maupun non-muslim. Sebagai catatan, cara para tabib itu mengobati tentu berdasarkan wawasan yang sama sekali lain dengan era ketika Islam sudah banyak dipengaruhi pengetahuan medis Yunani.

Kita akan membahas tabib yang disebutkan sebagai anak dari Al Harits bin Kaladah, bernama An-Nadr bin Harits bin Kaladah. Sebagai bagian dari himpunan besar suku Quraisy di Makkah, silsilah An-Nadr disebutkan masih cukup dekat kekerabatannya dengan Nabi.

Semasa muda, An-Nadr belajar pada tokoh-tokoh di Makkah dan sekitarnya. Berkat kecerdasannya, ia segera diakui sebagai bagian dari para intelektual maupun tokoh agama baik Yahudi maupun Kristen terkemuka di masa itu, khususnya di lingkup Makkah. Ia disebutkan menguasai banyak ilmu, di antaranya adalah filsafat dan logika. Terkhusus dalam bidang pengobatan, orang yang pertama mengajarinya adalah ayahnya sendiri, al-Harits bin Kaladah. Orang-orang dari Bani Tsaqif berobat padanya, dan ia pun diakui sebagai tabib yang kompeten oleh kaum tersebut.

Tahun lahir tokoh ini tidak diketahui. Namun satu peristiwa yang mengangkat namanya adalah ketika berkecamuk Perang Badr di tahun kedua Hijriyah. Pada perang Badr, kita tahu telah terjadi pertempuran antara kalangan kafir dengan muslim, dengan ketimpangan jumlah pasukan yang nyata. Masyarakat kafir Quraisy berjumlah sekitar 1000, sedangkan kaum muslimin hanya 313 orang.

Perang itu berakhir dengan kemenangan kaum muslimin, dan kaum kafir dipukul mundur. Di pihak kaum kafir banyak yang terbunuh, dipenjara, atau dihukum mati. Nah, di antara orang-orang yang diputusi hukman mati, khususnya dari Bani Tsaqif, adalah Uqbah bin Abi Mu’ayt dan An-Nadr bin Al-Harits bin Kaladah. Dalam satu riwayat yang disitir oleh Ibnu Abi Usaibiah, disebutkan bahwa Uqbah bin Abu Muayt ini dieksekusi oleh Ashim bin Tsabit bin Abul Aflah dari kalangan Anshar ketika Perang Badr telah dipastikan dimenangi kaum muslimin.

Lain lagi dengan An-Nadr bin Harits bin Kaladah. Mulanya, ia diputuskan untuk dipenjara. Namun Ketika tiba di daerah As-Safra, sekitar 17 mil dari area pertempuran di Badr. Ali bin Abu Thalib yang diminta mengeksekusi anak al-Harits bin Kaladah ini. Ibn Abi Usaibiah memberikan komentar bahwa tampaknya Nabi Muhammad tidak langsung mengeksekusi An-Nadr dengan menimbang berbagai faktor. Namun akhirnya ketika tiba di Al-Safra, Nabi memutuskan bahwa mengeksekusi An-Nadr adalah keputusan terbaik.

Pada akhirnya An-Nadr pun terbunuh. Terkait eksekusinya ini, Ibnu Abi Usaibiah menyertakan satu keterangan dari Abul Faraj al-Isfahani bahwa Qutaila, saudara An-Nadr yang juga putri Al Harits bin Kaladah, menulis syair sekaligus berisi pleidoi mengiringi kematian An-Nadr. Disebutkan: seandainya Nabi mendengar syair Qutaila tersebut sebelum eksekusi an-Nadr, niscaya beliau akan memertimbangkan untuk membatalkan eksekusi.

Menurut Abul Faraj al-Isfahani sebagaimana dicatat Ibnu Abi Usaibiah, isi syair tersebut sangat sendu dan penuh kepedihan. Bahkan sebagai wujud protes yang cukup memilukan, Qutaila binti Al Harits ini menyebutkan, “Di antara orang-orang yang kau bunuh, An-Nadr adalah kerabat terdekatmu.”

Dicatat oleh Ibnu Abi Usaibiah dalam Uyunul Anba’, sebuah riwayat menyebutkan bahwa An-Nadr adalah salah satu musuh Nabi yang licin dan berbahaya di kalangan Bani Tsaqif. Dengan kapasitas intelektualnya, ia menjadi bagian dari tokoh yang menyebarkan desas-desus miring untuk meruntuhkan reputasi Nabi Muhammad, serta berusaha membuat masyarakat tidak mengakui kenabian Muhammad. Di satu sisi, An-Nadr disebutkan juga cukup percaya diri dengan keilmuan dan kecerdasannya sehingga dapat menentang klaim-klaim kenabian Muhammad.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here