“An-Nadhafatu Minal Iman”, Hadis atau Bukan?

2
48685

BincangSyariah.Com – Sering kali kita dengar kalimat “Kebersihan adalah sebagian dari iman” atau “An-Nadhafatu Minal Iman” yang digunakan sebagai jargon kampanye menjaga kebersihan. Lalu apakah kalimat tersebut adalah hadis atau bukan?

Syekh Yusuf Qardhawi, seorang cendekiawan Mesir sekaligus ulama kontemporer saat ini telah menjawab pertanyaan ini dalam website resminya (klik di sini). Beliau mengatakan,

هذه الكلمة (النظافة من الإيمان) بهذا اللفظ لم ترد عن النبي -صلى الله عليه وسلم- فيما أعلم، بسند صحيح ولا حسن ولا ضعيف.

Kalimat ini (An-nadhafatu minal iman) tidak bersumber dari Nabi saw. sebagaimana saya ketahui dengan sanad sahih, tidak hasan, dan tidak pula daif.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa sebenarnya Imam At-Thabrani di dalam kitabnya Al-Mu’jam Al-Ausath telah meriwayatkan sebuah hadis dari Ibnu Mas’ud r.a. (yang redaksinya hampir mirip dengan kalimat An-nadhafatu minal iman).

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَخَلَّلُوْا فَإِنَّهُ نَظَافَةٌ وَالنَّظَافَةُ تَدْعُوْ إِلَى الْإِيْمَانِ وَالْإِيْمَانُ مَعَ صَاحِبِهِ فِى الْجَنَّةِ (رواه الطبراني)

Buanglah sisa-sisa makanan di gigimu, karena perbuatan itu adalah kebersihan, dan kebersihan itu akan mengajak (menggiring) kepada iman, dan iman itu akan bersama orang yang memilikinya dalam surga. (HR. At-Thabrani)

Namun, menurut Imam Al-Haitsami di dalam kitabnya Majma’ Az-Zawaid mengatakan bahwa di dalam sanadnya terdapat Ibrahim bin Hayyan yang oleh Imam Ibnu ‘Adi (seorang kritikus pakar rawi hadis) mengatakan bahwa hadis-hadisnya (Ibrahim) banyak yang palsu.

Meskipun secara matan kalimat An-Nadhafatu minal iman tidak valid dan tidak ditemukan siapa yang mengatakan hal ini. Tetapi, secara makna kalimat tersebut adalah sahih. Hal ini selaras dengan teks-teks hadis sahih yang mengatakan bahwa kebersihan memang sangat penting.

Baca Juga :  'Abidah al-Madaniyyah: Hamba Yang Menjadi Ulama Perempuan

عَنْ أَبِيْ مَالِكٍ الأَشْعَرِىِّ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الطُّهُورُ شَطْرُ الإِيْمَانِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلأُ الْمِيْزَانَ. وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلآنِ – أَوْ تَمْلأُ – مَا بَيْنَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَالصَّلاَةُ نُورٌ وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَائِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوبِقُهَا ». (رواه مسلم)

Dari Abi Malik Al-Asy’ari, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Kesucian itu sebagian dari iman, Alhamdulillah memberatkan timbangan, Subhanallah walhamdulillah memenuhi ruang antara langit dan bumi, salat itu cahaya, sedekah itu bukti nyata, sabar itu pelita, Al-Qur’an itu hujjah (yang membela atau menghujat). Setiap manusia bekerja sampai ada yang menjual dirinya, hingga ia jadi merdeka atau jadi celaka.” (HR. Muslim)

Hadis tersebut juga diriwayatkan oleh imam Ahmad, At-Tirmidzi, serta termasuk bagian dari hadis yang dimasukkan imam Nawawi di dalam kitab Arbainnya yang fenomenal itu.

Kata thuhur di dalam hadis tersebut mempunyai arti suci. Dan kesucian di dalam agama Islam itu mencakup kesucian maknawi seperti suci dari kekufuran, kemaksiatan, serta kehinaan. Bisa juga mencakup kesucian secara hissi (dapat dilihat indrawi), yakni kebersihan. Kesucian juga merupakan syarat sahnya salat, baik suci dari hadas yang dapat dihilangkan dengan cara berwudu dan mandi, maupun suci dari najis yang harus dibersihkan sehingga sucilah pakaian, badan, dan tempat yang akan digunakan untuk shalat.

Oleh karena itu, bab thaharah atau kesucian ini menjadi pelajaran pertama yang harus dipelajari dalam fiqih Islam. Hal ini disebabkan karena kesucian adalah adalah pengantar kita menuju salat. Sedangkan kunci surga adalah salat, dan kuncinya salat adalah bersuci.

عَنْ أَبِي الْمَلِيحِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةً بِغَيْرِ طُهُورٍ وَلَا صَدَقَةً مِنْ غُلُولٍ (رواه النسائي)

Baca Juga :  Nabi Saw Membaca Doa ini Saat Bangun Tidur

Dari Abil Malih dari bapaknya, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Allah tidak akan menerima salat dengan tanpa bersuci. Dan Allah tidak akan menerima sadaqah dari korupsi.” (HR. An-Nasa’i)

Selain itu, di dalam ayat-ayat Al-Qur’an pun banyak pujian yang ditujukan kepada orang-orang yang respek terhadap kebersihan dan kesucian. Di antaranya adalah ayat sebagai berikut.

لَا تَقُمْ فِيْهِ اَبَدًاۗ لَمَسْجِدٌ اُسِّسَ عَلَى التَّقْوٰى مِنْ اَوَّلِ يَوْمٍ اَحَقُّ اَنْ تَقُوْمَ فِيْهِۗ فِيْهِ رِجَالٌ يُّحِبُّوْنَ اَنْ يَّتَطَهَّرُوْاۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِيْنَ

Janganlah engkau melaksanakan salat dalam masjid itu selama-lamanya. Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar takwa, sejak hari pertama adalah lebih pantas engkau melaksanakan salat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Allah menyukai orang-orang yang bersih. (Q.S. At-Taubah/108)

Demikianlah penjelasan tentang An-Nadhafatu minal iman hadis atau bukan yang diterangkan oleh Syekh Yusuf Qardhawi. Ternyata kalimat itu bukanlah hadis. Hanya saja spirit menjaga kebersihan ada di dalam Islam yang salah satunya terdapat dalam hadis-hadis dan ayat sebagaimana tersebut di atas. Di mana orang yang beriman pastinya akan menjaga kesuciannya sebagai syarat melaksanakan salat dan ibadah lainnya. Wa Allahu A’lam bis Shawab.

2 KOMENTAR

  1. Perlu di perhatikan Suci dan bersih itu beda …bersih belum tentu suci ,dan Suci tidak dapat di ukur dari kebersihan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here