Nabi Khidir Sebut Imam asy-Syafi‘i Sebagai Wali Abdal

1
2285

BincangSyariah.Com – Dalam perkembangannya, Imam asy-Syafi‘i ra. menjadi panutan sebagian umat Islam dan tokoh utama dalam mazhab asy-Syafi‘i yang masih eksis sampai sekarang dan terus berkembang melintasi zaman, benua, dan negara. Menurut The Royal Islamic Strategic Studies Centre dalam The Muslim 500: The World’s 500 Most-Influential Muslims, 2020 (2019: 30), terdapat 90% pengikut mazhab Sunni dari seluruh umat Islam yang ada di dunia dengan rincian: Hanafi (45%), asy-Syafi‘i (28%), Maliki (15%), dan Hanbali (2%).

Kenyataan ini tidak mengherankan mengingat Imam asy-Syafi‘i ra. sendiri adalah sosok luar biasa, baik dari segi keilmuan maupun spiritual. Beliau hapal al-Qur’an ketika berusia 7 tahun, hapal Muwaththa’ karya Imam Malik ra. (yang disinyalir sebagai kitab hadis pertama) ketika berusia 10 tahun, dan memberikan fatwa ketika berusia 15 tahun (Habib Zain bin Smith, al-Fawa’id al-Mukhtarah, hlm. 486).

Beliau berguru kepada 19 ulama terkemuka: 5 dari Mekah, 10 dari Madinah, dan 4 dari Irak. Selain itu, beliau juga berguru kepada ulama-ulama Yaman. Bahkan beliau pernah berguru (dalam bidang ilmu fikih dan hadis) kepada ulama Muktazilah, Ibrahim bin Abi Yahya yang ada di Madinah (Imam Fakhruddin ar-Razi, Manakib al-Imam asy-Syafi‘i, hlm. 43-44).

Beliau memiliki kualitas hapalan yang sangat kuat dan cepat dalam menghafal. Bahkan ketika beliau membaca sebuah kitab menaruh lengan bajunya di lembaran sebelah kiri agar tidak hapal mendahului lembaran sebelah kanan. Kalau misalkan dibacakan seratus bait syair atau kasidah di hadapannya, maka beliau langsung hapal seketika itu. Beliau berkata: “tidak satupun perkara yang pernah aku dengar dan setelah itu aku lupakan (al-Fawa’id al-Mukhtarah, hlm. 488). Artinya, beliau senantiasa ingat (hapal) semua hal yang pernah didengar.

Baca Juga :  Rasulullah Tegur Sahabatnya yang Bersikap Rasis

Selain itu, beliau adalah sosok yang tekun beribadah dan senantiasa haus terhadap ilmu pengetahuan. Beliau membagi malamnya menjadi tiga bagian: sepertiga untuk salat, sepertiga untuk mempelajari keilmuan, dan sepertiga terakhir untuk tidur (hlm. 488). Sementara menurut ar-Rabi‘, sepertiga pertama untuk menulis, sepertiga kedua untuk tidur, dan sepertiga terakhir untuk salat (Manakib al-Imam asy-Syafi‘i, hlm. 352). Sehingga beliau melahirkan sekitar 140 karya tulis, seperti al-Kitab al-Umm, as-Sunan al-Ma’tsurah, ar-Risalah, Musnad asy-Syafi‘i, dan lain sebagainya (lihat pengantar al-Kitab al-Umm, Dar Qutaibah, I, 1996: 75-76 ).

Dalam kesempatan lain, Husain al-Karabisi bercerita: “aku pernah bermalam bersama asy-Syafi‘i sekitar 80 malam. Ketika waktu sepertiga malam tiba, maka dia melaksanakan salat dan membaca sekitar 50 ayat. Bahkan terkadang lebih banyak sampai 100 ayat. Setiap kali melewati ayat rahmat, maka dia memohon rahmat kepada Allah untuk dirinya dan semua orang mukmin. Begitu pula ketika melewati ayat siksa, dia meminta perlindungan dan keselamatan kepada Allah untuk dirinya dan semua orang mukmin. Sehingga seakan-akan dia memadukan antara khauf dan raja’ dalam satu waktu sekaligus (Manakib al-Imam asy-Syafi‘i, hlm. 352).

Menurut al-Humaidi, Imam asy-Syafi‘i ra. khatam al-Qur’an sebanyak 30 kali dalam sebulan. Sedangkan ketika bulan Ramadan, beliau khatam 60 kali dalam sebulan. Hal ini selain ayat-ayat yang beliau baca dalam salat (hlm. 352). Kenyataan ini diperkuat oleh Habib Zain bin Smith bahwa Imam asy-Syafi‘i ra. khatam al-Qur’an satu kali dalam sehari dan 60 kali selama bulan Ramadan (al-Fawa’id al-Mukhtarah, hlm. 187).

Aktivitas spiritual ini tidak menghalangi Imam asy-Syafi‘i ra. menyebarkan ilmu pengetahuan yang dimiliki secara langsung kepada masyarakat. Beliau memiliki majelis ilmu yang dimulai dari habis salat subuh sampai mendekati separuh siang (Zuhur). Setelah itu, beliau pulang ke rumahnya. Para peserta (santri) majelis tersebut memiliki latar belakang keilmuan yang berbeda-beda dan datang secara bergantian sesuai jadwal masing-masing.

Baca Juga :  Ciri Wali Abdal Menurut Kiai Sholeh Darat

Jadwal pertama diikuti oleh ahli al-Qur’an; jadwal kedua diikuti oleh ahli hadis yang bertanya tentang tafsir dan makna hadis kepada Imam asy-Syafi‘i ra.; jadwal ketiga diikuti oleh orang-orang yang datang untuk berdiskusi; dan jadwal keempat diikuti oleh ahli bahasa (Arab), ‘arudh, nahw, dan syair (Manakib al-Imam asy-Syafi‘i, hlm. 365).

Dengan demikian, tidak heran kalau Imam asy-Syafi‘i ra. termasuk salah satu abdal, sebagaimana diungkapkan oleh Nabi Khidir as. Bilal al-Khawwash berkata: “Aku sedang berada di padang sahara Bani Isra’il dan tiba-tiba ada seorang laki-laki menghampiriku.” Akupun kaget dan diilhamkan kepadaku bahwa dia adalah Khidir. Aku berkata kepadanya: “Demi kebenaran yang Maha Hak siapa anda? Dia berkata: “Aku adalah saudaramu, Khidir.”

Aku berkata kepadanya: “Saya ingin bertanya sesuatu kepada anda.” Dia berkata: “Silahkan.” Aku berkata: “Apa yang anda katakan tentang asy-Syafi‘i?” Dia berkata: “Dia adalah sebagain dari abdal.” Aku berkata: “Apa yang anda katakan tentang Ahmad (bin Hanbal)?” Dia berkata: “Dia adalah lelaki yang benar.” Aku berkata: “Apa yang anda katakan tentang Bisyr bin al-Harits?” Dia berkata: “Dia adalah lelaki yang Allah tidak akan menciptakan seorangpun setelah dia yang menyerupainya.” Aku berkata: “Sarana apa yang telah membuat saya bisa melihat anda?” Dia berkata: “Karena berkat ibumu (Imam as-Sakhawi, al-Maqashid al-Hasanah, 1985: 46).”

Abdal sendiri adalah salah satu tingkatan wali dalam dunia sufisme. Beberapa tingkatan wali dalam sufisme adalah (hlm. 44 & 46-47): an-Nuqaba’ sebanyak 300 orang (berada di Maroko), an-Nujaba’ sebanyak 70 orang (berada di Mesir), al-Budala’ (abdal) sebanyak 40 orang (22 berada di Syam dan 18 berada di Irak), al-Akhyar sebanyak 7 orang (mengelilingi bumi), al-‘Umudu sebanyak 4 orang (berada di setiap pojok bumi), dan al-Gauts sebanyak 1 orang (berada di Mekah).

Baca Juga :  Dinasti Ayyubiyah: Mengembalikan Mazhab Sunni di Mesir, Runtuh oleh Perang Saudara

Imam as-Sakhawi menyebutkan beberapa ciri abdal, di antaranya: memiliki kedermawanan jiwa dan keselamatan dada (hati), memberikan nasihat kepada umat, rela terhadap ketetapan Allah, sabar terhadap perkara-perkara yang diharamkan Allah, marah karena Allah, ahli ilmu, dan tidak suka melaknat atau mengutuk sesuatu apapun selama-lamanya (hlm. 44-46). (Ciri Wali Abdal Menurut Kiai Sholeh Darat)

Menurut Imam Ma‘ruf al-Karkhi, sebagaimana disebutkan dalam al-Maqashid al-Hasanah, siapa saja yang membaca doa berikut setiap hari akan dicatat sebagai bagian dari abdal (hlm. 46), yaitu:

اَللهُمَّ ارْحَمْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

“Ya Allah, sayangilah umat Nabi Muhammad saw.”

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa barangsiapa yang membaca doa berikut setiap hari sebanyak 10 kali akan dicatat sebagai bagian dari abdal, yaitu:

اَللهُمَّ أَصْلِحْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، اَللهُمَّ فَرِّجْ عَنْ أُمَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، اَللهُمَّ ارْحَمْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

“Ya Allah, perbaikilah umat Nabi Muhammad saw. Ya Allah, lapangkanlah umat Nabi Muhammad saw. Ya Allah, sayangilah umat Nabi Muhammad saw. ” Wa Allah wa A‘lam wa A‘la wa Ahkam…

1 KOMENTAR

  1. […] Kelima, pejabat (al-wali) adalah orang yang dipasrahkan untuk mengurusi kemaslahatan umat, seperti pemerintah dan hakim. Oleh karena itu, dia harus melaksanakan tugas dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat yang sejalan dengan syariat Islam dan dilakukan secara ikhlas. Perbuatan ini bagi seorang pejabat adalah lebih utama daripada menyibukkan diri dengan zikir. (Baca: Nabi Khidir Sebut Imam asy-Syafi‘i Sebagai Wali Abdal) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here