Tafsir Surah al-Anbiya Ayat 107; Maksud Nabi Diutus Sebagai Rahmat bagi Alam Semesta

0
1367

BincangSyariah.Com – Allah Swt. berfirman dalam QS Al-Anbiya’ (21) ayat 107:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Dan tiadalah Aku mengutus kamu (wahai Nabi Muhammad), melainkan karena rahmat (belas kasih) bagi semesta alam.” (QS Al-Anbiyaa’: 107).

Pada ayat ini secara tegas Allah Swt. menyatakan bahwa rahmat adalah satu-satunya alasan Allah mengutus Nabi Muhammad saw. Tapi, bagaimana bisa seorang Nabi yang diutus karena rahmat, oleh Allah diperintahkan memerangi orang-orang kafir?

Syekh Sulaiman al-Jamal, dalam kitab tafsirnya yang berjudul Al-Futuhat al-Ilahiyyah (komentar atas kitab Tafsīr al-Jalalain), menjelaskan bahwa dalam perspektif ilmu gramatika bahasa Arab (nahwu), kata rahmah pada ayat di atas berposisi sebagai maf’ūl lah (alasan) di balik diutusnya Nabi Muhammad saw. Pendek kata, diutusnya saja sudah menjadi rahmat bagi semesta alam. Tak terkecuali orang kafir.

Buktinya tidak ada riwayatnya kaum yang enggan beriman pada Nabi Muhammad saw. ditenggelamkan banjir sebagaimana umat Nabi Nuh a.s. Tidak ada pula ceritanya kaum kafir Quraisy mendapatkan azab dengan dikutuk menjadi kera seperti penduduk Ailah. Karena Nabi Muhammad, Allah Swt. mengasihi mereka. (Tafsir Surah al-Baqarah ayat 143; Umat Terbaik Versi Al-Qur’an)

Atau, kata rahmah di atas berposisi sebagai hāl; kata yang disebutkan untuk menjelaskan sebuah keadaan. Dengan demikian, ayat tadi kurang lebih akan bermakna begini:

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”

Artinya, pribadi Nabi adalah esensi dari rahmat itu sendiri, sebagaimana penjelasan Syekh Sulaiman al-Jamal di bawah ini:

المراد بالرحمة الرحيم. وهو ﷺ كان رحيما بالكافرين أيضا. ألا ترى أنهم لما شجوه وكسروا رباعيته حتى خر مغشيا عليه، قال بعد إفاقته: اللهم اهد قومي فإنهم لا يعلمون. فاندفع ما قيل: كيف قال ذلك ذلك مع أن النبي ﷺ لم يكن رحمة للكافرين بل نقمة.

Baca Juga :  Rumi dan Syair Cintanya

“Yang dimaksud dengan rahmat adalah ar-rahīm (bersifat penyayang). Nabi saw. adalah orang yang bersifat penyayang, tak terkecuali kepada orang kafir. Tidakkah Anda melihat bahwa saat orang kafir melukai Nabi dan mematahkan beberapa gigi beliau hingga beliau terjatuh dan pingsan, lalu ketika sadar beliau berdoa kepada Allah, ‘Ya Allah, berilah petunjuk pada kaumku, sesungguhnya mereka tidak tahu’?!”

“Dengan ini maka terbantahlah pertanyaan yang berupa: ‘Bagaimana Allah berfirman demikian padahal Nabi tidak menjadi rahmat orang kafir dan justru menjadi kutukan.’”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here