Muslim bin Khalid Az-Zanji: Guru Pertama Asy-Syafi’i di Mekkah

0
443

BincangSyariah.Com – Muslim bin Khalid Az-Zanji adalah seorang imam, mufti, dan faqih dari Makkah. Murid dari Imam Muhammad bin Juraij yang berguru pada pakar keislaman dari kalangan sahabat, Abdullah Ibn Abbas ra.

Suatu hari, beliau melihat seorang anak kecil yang sedang serius mendaras. Anak itu matanya tajam, wajahnya bersinar, dan lisannya seolah menggumamkan sesuatu. Setelah diperhatikan lagi, rupanya ia sedang menghafal syair-syair arab yang indah “Coba lafalkan untukku syair yang sedang kau hafal itu Nak!” katanya memulai sapaan.

Bocah tadi terkaget. Tak lama setelah itu, lisannya begitu fasih menyenandungkan syair-syair indah penuh hikmah. Suaranya lantang. Tata bahasanya rapi. Pilihan katanya indah sekali.

“Dari mana asalmu?”

“Aku dari perkampungan al-Hanif, di daerah Mekkah”

Setelah menelisik lebih jauh, tahulah Muslim bin Khalid bahwa anak yatim di depannya ini berasal dari keturunan Muthalib bin Abdi Manaf. Adapun Rasulullah saw adalah cucu dari Hasyim Ibn Abdi Manaf yang merupakan Kakak Muthalib bin Abdi Manaf. Bocah kecil ini ternyata masih berdarah biru keturunan Quraisy.

“Apa yang kau lakukan di kota ini anakku?” tanya Muslim penasaran.

“Belajar bahasa, nahwu, sharaf dan menghafalkan syair-syair Arab”

Sang mufti tertegun. Lalu kemudian melanjutkan “Ketahuilh nak, alangkah baiknya jika kefasihan lisan dan merdunya suaramu kau gunakan untuk menjaga sunnah Rasul, menyampaikan hukum-hukum syariat, dan mengajarkan mereka fiqih sehingga semakin sempurna agama ini”.

Kata-kata itu sangat sederhana. Diucapkan dengan cara yang juga sederhana. Tetapi ia telah tertanam kuat di hati anak kecil tadi untuk mendalami fiqih. Kata-kata itu membangkitkan gelora dan semangat belajar sang anak sehingga kelak ia menjadi bintang yang dikenang sepanjang zaman.

Baca Juga :  Telaah Kasus Tuti Tursilawati: Penerapan Pidana Islam yang Keliru

Ketika sang yatim berusia 15 tahun, ia kembali ke Mekkah setelah menggembrai ilmu dari berbagai penjuru. Muslim bin Khalid az-Zanji pada suatu waktu menarik lengan dan mendudukkannya di majelis ia biasa mengajar dan berfatwa “Berfatwalah Nak, sungguh telah tiba saatnya bagimu untuk berfatwa.” Ujarnya bangga

Penuh ta’dzim remaja itu maju. Ia berfatwa layaknya ulama’ dan fuqaha senior. Perintah sang guru bertahun-tahun lalu masih terngiang di telinganya. Perintah yang membuatnya berhasil menghafal al-Qur’an di usia 7 tahun, menghatamkan al-Muwattha’ karya Imam Malik di hadapan sang penulis di usia 10 tahun, dan mengkaji karya-karya Abdullah ibn Mubarak serta menghafal semua hadis Imam Waki’ dengan penguasaan dan pemahaman tanpa tanding.

Remaja luar biasa itu bernama Muhammad Ibn Idris as-Syafi’i. seorang anak kecil yang tersengat oleh cinta dan ketulusan dari kata-kata seorang jernih hati bernama Muslim Ibn Khalid az-Zanji.

Padanya, kita belajar bahwa kata sederhana yang diucapkan dengan tulus dan penuh cinta mampu mengubah garis hidup seseorang bahkan sejarah dunia. “Andai tak ada Muslim Ibn Khalid az-Zanji”, ujar as-Syafi’i mengenang gurunya dalam sebuah diwan “Tak akan ada asy-Syafi’i. Kecuali mungkin hanya seorang penyair gelandangan yang kebingungan ke sana – kemari”. Wallahu A’lam bis shawab…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here