Murtadha Muthathhari: Pencetus Dua Tradisi Besar dalam Filsafat Islam

0
879

BincangSyariah.Com – Murtadha Muthathhari adalah seorang filsuf Muslim yang lahir di Faryan, sekitar 120 KM dari Masyad, ibukota propinsi Khurasan, pada tanggal 2 Februari 1920. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, ia pindah ke Masyad untuk meneruskan pendidikan dengan guru-guru yang otoritatif di bidang masing-masing.

Pada tahun 1936, ia memutuskan untuk meninggalkan Masyad dan pergi ke Qum. Keputusannya dipengaruhi oleh wafatnya seorang guru terkenal dalam filsafat islam yakni Mirza Mehdi Sahidi Ravizi. Saat pergi pertama kali, ia tidak menetap disana. Ia baru memutuskan untuk menetap di Qum pada tahun 1937 untuk mempelajari filsafat. (Baca: Benarkah Filsafat Islam Sudah Tidak Relevan?)

Petualangan intelektualnya berlanjut pada tahun 1941. Ia pergi ke dari Qum menuju Isfahan untuk mempelajari Nahjul Balagah dengan Hajj Mirza Ali Aqa Syirazi Isfahani, guru yang memiliki otoritas Naskah Syiah. Setahun kemudian yakni tahun 1945, ia mempelajari sebuah naskah filosofis, Manzhumah, karangan Hajj Mullah Hadi Sabzawardi bersama dengan Ayatullah Khumaini.

Pada tahun 1946, Murtadha Muthathhari mulai mempelajari kitab Kifayah al-Ushul, sebuah kitab hukum karangan Akhund Khurasani bersama dengan Ayatullah Khumaini. Pada tahun 1949 ia mulai mengkaji al-Asfhar al-Arbaah karangan Mulla Shadra.

Murtadha Muthathhari mulai mengajar di fakultas teologi di Tehran University pada tahun 1954. Ia kemudian aktif dalam organisasi masyarakat religius bulanan serta menerbitkan majalah bulanan sejak menjelang awal tahun 60-an.

Murtadha Muthathhari sempat dicekal saat terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh Imam Khumaini pada Juni 1963. Pencekalan tersebut mengakibatkan majalah yang diterbitkan oleh keorganisasiannya sempat dilarang beredar. Pencekalan ini hanya terjadi sebentar.

Ia turut andil dalam pembuatan Husyeiniyah Ershad, sebuah organisasi religius yang didirikan secara pribadi pada tahun 1965. Bangkitnya gerakan Revolusi pada rentang waktu tahun 1977-1979 membuat Murtadha Muthathhari menjadi sosok satu-satunya wakil di Iran yang bertanggung jawab untuk mengumpulkan serta menyalurkan zakat karna pengasingan Khumaini.

Baca Juga :  Al-Ghazali, Hermetisme, dan Dualisme Ketuhanan

Pada waktu yang bersamaan, ia juga memberi kuliah serta menulis tentang isu-isu keagamaan dan sosial. Ia wafat karna terbunuh pada tanggal 1 Mei 1979, beberapa saat setelah kemenangan revolusi Iran.

Murtadha Muthathhari menyatakan bahwa ada dua tradisi besar filsafat dalam Islam, berbeda dengan Sayyid Husein Nasr yang menyatakan ada Tiga Madzhab Utama dalam filsafat Islam. Dua Tradisi dalam Filsafat Islam menurut pandangan Murtadha Muthathhari adalah Tradisi Paripatetik yang dimulai dari Ibnu Sina atau Avecina dan Tradisi Illumionis yang diwakili oleh Suhrawardi al Maqtul.

Tradisi pertama cenderung menekankan Keutamaan Wujud atau Ashalah al Wujud sementara yang kedua cenderung menekankan pada Keutamaan Esensi atau Ashalah al Mahiyah atau praktisnya lebih dikenal dalam kata modern dengan eksistensialis dan esensialis.

Dalam buku Nalar Religius, Mulyadhi Kartanegara menyatakan bahwa jika berbicara tentang metode filosofis atau ilmiah dalam kamus islam menurutnya, Muthahari membedakannya menjadi tiga macam:

Pertama, metode deduktif yang diilhami filsafat paripatetik yang sering digunakan oleh para filsuf Muslim. Kedua, metode illuminasionis yang diwakili oleh Suhrawardi. Terakhir, metode Irfani yang umumnya digunakan oleh para kaum sufi.

Murtadha Muthathhari adalah sosok yang memiliki kecenderungan yang kuat dalam filsafat Islam. Ia menyatakan bahwa filsafat bukan sekadar cara berpikir atau cara menemukan suatu kebenaran semata. Baginya, filsafat adalah suatu senjata idiologi yang ampuh untuk menghadapi rudal-rudal sekulerisasi yang menyebar cepat ketika itu, pada masa ia hidup.

Pentingnya kedudukan filsafat Islam di matanya membuat ia bekerja keras untuk membangkitkan kembali tradisi filosofis. Murtadha Muthathhari percaya bahwa filsafat adalah prioritas utama dalam segala makna di seluruh cabang ilmu pengetahuan.

Selain sebagai senjata ampuh ideologis, ia juga menyatakan bahwa filsafat bukanlah suatu hak istimewa kaum barat seperti apa yang terjadi dalam kehidupan masyarakat yang secara langsung atau tidak langsung menyatakan bahwa filsafat adalah suatu lingkup khusus yang sering menjadi wacanan menarik dalam ideologi barat.

Baca Juga :  Tiga Objek dalam Filsafat Islam yang Harus Kamu Tahu

Murtadha Muthathhari percaya bahwa Yunani Kuno yang menjadi lambang bagi filsafat Barat memeroleh awal keberhasilannya melalui dunia Timur pada abad-abad sebelum ada banyak para pemikir dari Barat yang hijrah berulang kali ke dunia Timur untuk mempelajari pemikiran-pemikiran yang ada di Timur yang kemudian mereka sebarkan di Barat.

Sepulangnya dari Timur, para pemikir tersebut membuat pernyataan dan mendapatkan dukungan dari sejarah Islam klasik. Pernyataannya memang cenderung diskriminatif terhadap Barat. Ia melakukan hal tersebut bukan karna ingin memojokkan dunia Barat, tapi karena berorentasikan pada umat Islam sendiri.

Ia ingin umat Islam menyadari bahwa bukan hanya Barat yang memiliki tradisi filsafat. Daerah Timur juga memiliki tradisi filsafat sendiri yang kuat dan khas, khususnya dalam agama Islam.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here