Kisah Mukjizat Rasulullah Menyembuhkan Tunanetra

0
16

BincangSyariah.Com – Sebagai seorang nabi dan utusan Allah, Rasulullah Saw diberikan banyak mukjizat. Tentu mukjizat Rasulullah Saw yang paling besar dan agung adalah Al-Quran. Meski demikian, disebutkan dalam banyak kitab-kitab hadis bahwa terdapat beberapa mukjizat Rasulullah selain Al-Quran yang berkaitan dengan medis, di antaranya menyembuhkan tunanetra.

Pertama, Rasulullah Saw menyembuhkan mata ayah Hubaib bin Fudaik yang berubah menjadi putih karena sengatan ular. Ini sebagaimana disebutkan dalam riwayat Imam Al-Thabrani berikut;

ﻋﻦ ﺣﺒﻴﺐ ﺑﻦ ﻓديك ﺃﻥ ﺃﺑﺎه ﺧﺮﺝ ﺑﻪ ﺇﻟﻰ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻭﻋﻴﻨﺎﻩ ﻣﺒﻴﻀﺘﺎﻥ ﻻ ﻳﺒﺼﺮ ﺑﻬﻤﺎ ﺷﻴﺌﺎ، ﻓﺴﺄﻟﻪ ﻣﺎ ﺃﺻﺎﺑﻪ ﻗﺎﻝ: ﻮﻗﻌﺖ ﺭﺟﻠﻲ ﻋﻠﻰ ﺑﻴﺾ ﺣﻴﺔ ﻓﺄﺻﺒﺖ ﺑﺒﺼﺮﻱ، ﻓﻨﻔﺚ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻓﻲ ﻋﻴﻨﻴﻪ ﻓﺄﺑﺼﺮ، ﻓﺮﺃﻳﺘﻪ ﻳﺪﺧﻞ اﻟﺨﻴﻂ ﻓﻲ اﻹﺑﺮﺓ ﻭﺇﻧﻪ ﻻﺑﻦ ﺛﻤﺎﻧﻴﻦ ﺳﻨﺔ ﻭﺇﻥ ﻋﻴﻨﻴﻪ ﻟﻤﺒﻴﻀﺘﺎﻥ

Dari Hubaib bin Fudaik bahwa suatu ketika dia bersama ayahnya mendatangi Rasulullah Saw dan kedua mata ayahnya berwarna putih sehingga dia tidak melihat apapun. Kemudian Rasulullah bertanya padanya apa penyebabnya. Dia berkata; Suatu ketika kakiku menginjak telur ular, lantas ular tersebut menyengat mataku. Lalu Rasulullah meniup kedua matanya, dan dia langsung bisa melihat. Kemudian aku melihat dia bisa memasukkan benang pada jarung pada usia delapan puluh tahun dan kedua matanya tetap berwarna putih.

Kedua, Rasulullah menyembuhkan mata Abu Dzarr karena terkena terluka saat perang Uhud. Ini sebagaimana disebutkan dalam riwayat Abu Ya’la berikut;

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ عُبَيْدٍ عَنْ جَدِّهِ، قَالَ: أُصِيبَتْ عَيْنُ أَبِي ذَرٍّ يَوْمَ أُحُدٍ فَبَزَقَ فِيهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَكَانَتْ أَصَحَّ عَيْنَيْهِ

Abdurrahman bin Harits bin Ubaid meriwayatkan bahwa kakeknya berkata; Mata Abu Dzarr terluka pada saat perang Uhud. Kemudian Rasulullah meludahinya, maka mata yang terluka tadi menjadi mata yang paling sehat.

Ketiga, menyembuhkan mata Qatadah yang bergelantungan di pipinya sewaktu perang Badar. Ini sebagaimana disebutkan dalam riwayat Imam Al-Baihaqi berikut;

Baca Juga :  Empat Ciri Utama Pluralisme dalam Islam

عَنْ قَتَادَةَ بْنِ النُّعْمَانِ، أَنَّهُ أُصِيبَتْ عَيْنُهُ يَوْمَ بَدْرٍ فَسَالَتْ حَدَقَتُهُ عَلَى وَجْنَتِهِ، فَأَرَادُوا أَنْ يَقْطَعُوهَا، فَسَأَلُوا رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: لَا، فَدَعَا بِهِ فَغَمَزَ حَدَقَتَهُ بِرَاحَتِهِ، فَكَانَ لَا يَدْرِي أَيَّ عَيْنَيْهِ أُصِيبَتْ

Diriwayatkan bahwa Qatadah bin Nu’man matanya terkena senjata pada saat perang Badar hingga bola matanya bergelantungan di pipinya. Semula para sahabat hendak memotongnya. Untungnya, mereka menanyakannya lebih dahulu kepada Rasulullah. Dan beliau pun melarang; Jangan dipotong. Kemudian beliau memanggil Qatadah dan mengembalikan bola matanya dengan telapak tangan beliau. Sampai-sampai Qatadah pun tidak tahu mata mana yang sebelumnya terluka. (Baca: Cairan Bening dari Luka Najis Atau Suci?)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here