Muhammad Iqbal: Penyair dan Filsuf dari Pakistan

0
337

BincangSyariah.Com – Muhammad Iqbal dikenal sebagai seorang penyair, filsuf serta tokoh pembaharu Islam. Iqbal adalah tokoh Islam penting dari Pakistan yang dilahirkan di Sialkot, Punjab. Iqbal lahir pada 9 November 1877 M.

Kakeknya, Syaikh Rafiq adalah seorang pedagang selendang yang berasal dari Loehar, Khasmir. Ibunya, Imam Bibi, dikenal sebagai seorang perempuan yang sangat religius. Bibi membekali lima anaknya, tiga perempuan dan dua laki-laki dengan pendidikan dasar dan disiplin keilmuan yang sangat kuat.

Pola pengasuhan tersebut membuat pandangan terhadap dunia Iqbal tidak dibangun melalui spekulasi filosofis, tapi diwarisi oleh kedua orang tuanya. Konon, leluhur Iqbal berasal dari lingkungan Brahmana, Subkasta Sapru.

Dalam buku Seri Tokoh Filsafat: Muhammad Iqbal (2003), Donny Gahral Adian mencatat bahwa ayah Iqbal bernama Nur Muhammad yang merupakan seorang Muslim yang saleh. Sang ayah adalah pengamal tasawuf atau sufisme dan mendorong Iqbal untuk menghafal Al-Qur’an secara teratur. (Baca: Lima Dasar Perjalanan Tasawuf)

Kondisi kondisi tersebut membuat Iqbal memiliki jiwa keagamaan dan kecenderungan spiritualitas yang teguh. Kondisi tersebut juga memengaruhi perilaku Iqbal secara menyeluruh. Iqbal dikenal sangat mencintai ibunya. Saat sang ibu meninggal pada 9 November 1914 di Sialkot, ia mengekspresikan kesedihannya dalam puisi elegi.

Pada 1892, Iqbal dijodohkan dengan Karim Bibi yang merupakan putri dari seorang dokter Gujarat yang kaya bernama Bahadur Atta Muhammad Khan. Ia dikaruniai tiga orang anak yakni Mi’raj Begum yang meninggal di usia muda dan Aftab Iqbal yang mengikuti jejak Iqbal belajar filsafat.

Iqbal menempuh pendidikan pertama di Murray Collage, Sialkot. Pada saat menempuh pendidikan Murray Collage tersebutlah, ia bertemu dengan seorang ulama besar bernama Sayyid Mir Hasan yang merupakan guru serta sahabat karib dari orang tuanya.

Baca Juga :  Habib Idrus bin Salim Al-Jufri dan Syair Kemerdekaan Indonesia

Sayyid Mir Hasan segera menyadari kecerdasan Iqbal dan memberikan saran agar ia terus menuntut ilmu. Pendidikan yang diterima Iqbal oleh sang guru sangat menyentuh hatinya hingga membuat ia berkomitmen terhadap Islam secara utuh.

Pendidikannya di Sialkot ini selesai pada 1895. Iqbal pindah ke Lahore, salah satu kota di wilayah India yang menjadi pusat kebudayaan, pengetahuan dan seni.

Di Lahore, Iqbal tergabung dengan perhimpunan sastrawan yang sering diundang musya’arah. Ia juga menghadiri pertemuan-pertemuan para penyair dan turut membacakan sajak-sajaknya. Hal tersebut adalah tradisi yang masih berkembang di Pakistan dan India sampai saat ini.

Muhammad Iqbal juga melanjutkan pendidikan sarjana dan mengajar filsafat di Goverment Collage. Ia berhasil gelar Bachelor of Arts (B.A.) atau sarjana muda dalam bidang filsafat, Sastra Inggris dan Sastra Arab pada 1897.

Iqbal berhasil lulus dengan predikat Cum Laude. Usai memperoleh gelar sarjana muda, ia kembali melanjutkan studinya dan mengambil program Magister of Arts (M.A.) dalam bidang filsafat.

Pada saat magister itulah ia bertemu dengan Sir Thomas Arnold yang merupakan seorang orientalis Inggris terkenal yang mengajar Filsafat Islam. Keduanya terlibat dalam hubungan intim melebihi hubungan guru dengan murid, sebagaimana tertuang dalam kumpulan sajaknya yakni Bang-iDara (1924).

Dalam bimbingan Sir Arnold, Iqbal tumbuh menjadi seorang penyair yang hebat. Puisi-puisinya pun banyak diminati oleh masyarakat Lahore. Sir Arnold adalah tokoh yang juga memotivasi Iqbal untuk melanjutkan studi lebih tinggi lagi di benua Eropa.

Dari situlah Iqbal kemudian dikenal sebagai Shair-e-Mushriq, Penyair dari Timur. Iqbal juga disebut sebagai Muffakir-e-Pakistan dan Hakeem-ul-Ummat. Iran dan Afganistan mengenalnya sebagai Iqbal-e Lahori, Iqbal dari Lahore).

Baca Juga :  Seniman-Seniman di Masa Rasulullah

Muhammad Iqbal sangat dihargai atas karya-karya berbahasa Persia. Karena hal tersebut, pemerintah Pakistan memberikan penghargaan untuknya sebagai penyair nasional. Hari ulang tahunnya yang disebut sebagai Yom-e Weladat-e Mu, Allama Iqbal menjadi hari libur di Pakistan.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here