Muhammad bin Tumart: Penggagas Dinasti Muwahhidun

1
80

BincangSyariah.Com – Saat Dinasti Murabithun sedang mengalami kemunduran dan menjelang keruntuhan, muncullah seorang revolusioner dari suku Masmudah Amazig (bangsa Berber) pada tahun 1118. Ia bernama Muhammad bin Tumart. Muhammad bin Tumart melakukan pemberontakan terhadap Pemerintahan Murabithun dan memiliki sistem yang berbeda dengan Abdullah bin Yasin.

Revolusioner satu ini lahir pada tahun 1080 di Maroko dan tumbuh di lingkungan yang agamis di suku Masmudah. Ia mengaku bahwa ia memiliki nasab yang tersambung sampai kepada Sayyidina Hasan bin Abi Thalib. Pengakuannya tersebut dibantah oleh para ulama dan ahli sejarah, mereka justru mengatakan bahwa Muhammad bin Tumart murni dari bangsa Berber.

Saat usianya menginjak ke-27 ia berkelana ke berbagai negeri untuk menuntut ilmu. Melakukan safari ke negeri-negeri Islam. Dimulai dari perjalanannya ke Cordova pada tahun 1107 M. Kemudian melanjutkan ke Iskandaria, lalu ke Mekkah sambil menunaikan ibadah haji. Di Mekkah ia belajar kepada beberapa ulama besar untuk beberapa waktu. Tak puas, ia meneruskan pencarian ilmunya ke Baghdad dan menghabiskan waktu selama sepuluh tahun di sana. Saat itu pembahasan Teologi sedang mencuat, muncullah berbagai macam aliran seperti Sunni, Syiah, Mu’tazilah dan lain-lain. Muhammad bin Tumart berguru kepada beberapa ulama tersebut.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa ia pernah berguru kepada Abu al-Hamid al-Ghazali yang terkenal dengan karyanya, Ihya’ Ulumuddin. Tetapi pernyataan tersebut dibantah oleh beberapa sejarawan dan pemuka agama. Termasuk al-Ustadz Abdullah Annan. Ia menjelaskan dengan detil tentang waktu Muhammad bin Tumart belajar di Baghdad dan Imam Ghazali mengajar di Bagdad. Imam Ghazali mengajar di Universitas Nizamiyah pada rentang tahun 1091-1095 M. Setelah itu ia meninggalkan kota Baghdad untuk melakukan perantauan ke beberapa tempat. Ia baru meninggalkan tanah airnya pada tahun 1107 M. Sungguh jauh sekali selisih waktunya, dan sangat tidak mungkin mereka bertemu.

Baca Juga :  Cara Mengetahui Kredibilitas Perawi Hadis

Setelah menuntut ilmu di kota Baghdad yang menjadi ibu kota pusat pemerintahan Dinasti Abbasiyyah tersebut, ia meneruskan perjalanan ke beberapa negara Maghribi. Menurut penuturan Ibnu Khaldun, Muhammad bin Tumart menjadi seorang ulama yang hebat dan memiliki pengetahuan agama yang cukup mendalam. Oleh sebab itulah, ia menjadi ulama besar saat itu dan mendapat pengakuan dari masyarakat.

Seperti dikatakan sejak awal, ia merupakan revolusioner yang memiliki metode yang berbeda dengan Abdullah bin Yasin. Dalam melakukan Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar, ia melakukannya dengan keras dan mengundang kontroversi. Tindakannya tersebut justru membuat orang-orang lari darinya. Seperti yang ia lakukan di Iskandaria. Tetapi akhirnya ia diusir oleh sang gubernur akibat ulahnya yang ekstrim. Kemudian ia ikut menaiki kapal menuju negara maghribi. Dalam perjalanan di atas kapalpun ia masih melakukan dakwahnya. Ia menyuruh orang-orang membaca Alquran dan melarang minum khamr. Tindakannya membuat ia sering berselisih dengan para penumpang kapal. Akhirnya ia dilemparkan ke laut. Muhammad bin Tumart terus berenang selama setengah hari penuh. Akan tetapi para penumpang kapal merasa iba sampai akhirnya dinaikkan kembali ke kapal. Muhammad bin Tumart turun di Tunisia, tepatnya di wilayah Mahdia.

Di Mahdia ia melipir ke sebuah masjid. Di sana, tiap kali ia melihat kemungkaran berupa permainan alat musik, minuman keras ia akan menghampirinya dan menghancurkannya saat itu juga. Meski ia melakukan tindakan yang ekstrim, namanya yang telah dikenal sebagai ulama besar membuat penduduk Tunisia mendatanginya untuk berguru.

Mengenai tindakan ini, Dr. Raghib as-Sirjani tidak membenarkannya. Karena hal ini menyalahi apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah dan telah disebutkan dalam Alquran yang tercantum di surat Ali Imran [3]: 159,

Baca Juga :  Mengenal Ayang Utriza Yakin; Intelektual Muslim Indonesia Jebolan Prancis (Bag 1)

فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ فَٱعۡفُ عَنۡهُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ فِي ٱلۡأَمۡرِۖ فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ ١٥٩

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here