Muhammad bin Tumart Mengaku Sebagai Imam Mahdi

0
236

BincangSyariah.Com – Beberapa pemikiran Muhammad bin Tumart yang ekstrim dan tindakannya yang menyimpang sangatlah tidak mencerminkan ajaran Nabi Muhammad. Meski tujuannya adalah untuk menegakkan agama Allah dan menghidupkan syariat Islam, perbuatannya menunjukkan sebuah perilaku yang tidak pernah dicontohkan terlebih dahulu oleh Nabi yang langsung menerima risalah. Sikap-sikap ekstrimnya terlihat lahir dari nafsu dan ambisi. Terlebih saat ia mengaku sebagai al-Mahdi. Ia memelintir ayat-ayat Alquran dan hadis agar orang-orang percaya akan pengakuannya.

Motifnya melakukan hal tersebut adalah untuk menarik simpati orang-orang agar mau menjadi pengikutnya dan mewujudkan visinya meruntuhkan Dinasti Murabithun. Setelah menghimpun hadis tentang keutamaan al-Mahdi, kemudian ia mengaku sebagai a-Mahdi sambil menarik garis keturunannya sampai Nabi Muhammad Saw. Orang-orang pun percaya dan melakukan baiat terhadapnya sebagai al-Mahdi. Selain mengaku sebagai al-Mahdi, ia juga mengaku sebagai orang yang ma’shum (dijaga Allah dari dosa),  menuduh orang-orang Murabithun sebagai mujassimah (menganggap Allah seperti makhluk) dan kafir, serta menganggap halal darah orang-orang Murabithun.

Saat ia sudah mendapat dukungan dengan memprogandakan hal tersebut, ia memulai aksinya untuk membunuh orang-orang Murabithun bersama timnya yang berjumlah 50 orang. Namun mereka dikepung oleh pasukan milik Abu Bakar bin Muhammad al-Lamtuni, sang penguasa Sousa dari arah Harga. Karena merasa posisinya terdesak, Muhammad bin Tumart meminta pertolongan dari saudara-saudaranya di wilayah Hantata dan Thenmala. Atas bantuan dari saudara-saudaranya itulah pasukan Abu Bakar bisa dikalahkan.

Pasukan dari Muwahhidun berhasil membuat benteng pertahanan di Thenmala. Dari tempat itulah ia menggerakkan pasukannya untuk menyerang orang-orang Murabithun. Lalu mereka berhasil melakukan ekspansi ke beberapa wilayah sekitarnya. Muhammad bin Tumart beserta pasukannya sudah mengalamai beberapa kali pertempuran dengan orang-orang Murabithun. Total pertempurannya adalah sembilan kali, tujuh kali mereka menang, sisanya mereka mengalami kekalahan.

Baca Juga :  Rahasia Tidur Miring Ala Nabi

Sejarawan muslim, Abdul Wahid al-Marakasyi menyebutkan bahwa pada tahun 1124 M, Abdul Mu’min bin Ali, sang murid dari Muhammad bin Tumart dan kawan setianya itu menyiapkan pasukan dalam jumlah yang cukup banyak. Bahkan beberapa pasukan dari Sousa, wilayah kekuasaan Abu Bakar bin Muhammad al-Lamtuni bergabung bersama pasukan mereka.

Ia berkata kepada pasukannya untuk menyerang orang-orang murtad tersebut alias orang-orang Murabithun. Jika orang-orang Murabithun mau mengikuti seruan mereka dan mengakui Muhammad bin Tumart sebagai Imam al-Mahdi yang ma’shum, maka orang-orang Murabithun dianggap sebagai saudara. Jika tidak maka lakukan penyerangan.

Pasukan tersebut dipimpin oleh Abdul Mu’min bin Ali atas perintah dari Muhammad bin Tumart. Ia mengatakan kepada pasukannya bahwa Abdul Mu’min bin Ali adalah pemimpin mereka. sejak itulah Abdul Mu’min berhak menyandang gelar Amirul Mukminin (Pemimpin Orang-orang Mukmin).

Mereka bertemu dengan pasukan Murabithun di daerah Bahirah. Pasukan Murabithun dipimpin oleh putra sang Amir, az-Zubair bin Ali bin Yusuf bin Tasyfin. Pasukan dari Muwahhidun menyampaikan sepucuk surat dari Muhammad bin Tumart berisi ajakan untuk mengikuti mereka.

Ajakan tersebut langsung ditolak oleh sang Amir, Ali bin Yusuf bin Tasyfin. Bahkan ia memberi peringatan kepada pasukan Muwahhidun agar berhenti melakukan fitnah dan pertumpahan darah. Peringatan tersebut justru tak diindahkan oleh Abdul Mu’min bin Ali, ia malah semakin berambisi untuk menyerang orang-orang Murabithun. Pertempuran akhirnya dimenangkan oleh orang-orang Murabithun dan menewaskan banyak orang dari pasukan Muwahhidun. Tapi Abdul Mu’min bin Ali berhasil menyelamatkan diri.

Kekalahan tersebut hanya ditanggapi santai sekali oleh Muhammad bin Tumart. Hal yang terpenting baginya adalah keselamatan Abdul Mu’min bin Ali, karena ia yang akan sangat berperan membantunya dalam mewujudkan misinya.

Baca Juga :  Muhammad bin Tumart: Penggagas Dinasti Muwahhidun

Mengenai pengakuannya sebagai al-Mahdi, salah satu muridnya yang begitu setia namun dikenal sebagai penjilat bernama Abu Bakar bin Ali as-Shanhaji menulis kitab Akhbar al-Mahdi ibn Tumart yang tidak dipercaya keabsahannya. Karena ia tak menampilkan data-data yang jelas mengenai tahun dan hal-hal penting lainnya. Abu Bakar merupakan salah satu orang yang menyatakan sumpah atau baiat kepada Muhammad bin Tumart di Thenmala.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here