Muhammad Asad Shahab dan Gerakan Anti-Penjajah dari Mbah Hasyim Asy’ari

1
871

BincangSyariah.Com – Dalam konteks kemerdekaan Indonesia yang jatuh kemarin, saya merasa menarik untuk membicarakan sedikit tentang biografi Mbah Hasyim Asy’ari, ulama dan tokoh kemerdekaan Indonesia. Yang membuat ini penting dibicarakan adalah biografi singkat (hanya 58 halaman) ini adalah ditulis dalam bahasa Arab oleh Muhammad Asad Shahab, warga keturunan Arab yang menjadi wartawan di Indonesia. Tentang profil Asad Shahab dapat dibaca di laman detik.com (https://news.detik.com/berita/d-3603084/m-asad-shahab-wartawan-sejarahwan-intelektual-dan-diplomat).

Buku yang ia tulis berjudul “Muhammad Hasyim Asy’ari: Awwalu Wadhi’ Labinati Istiqlal Indunisiyya” (Muhammad Hasyim Asy’ari: Peletak Batu Pertama Kemerdekaan Indonesia). Dalam edisi yang kami dapat, tertulis bahwa buku tersebut diterbitkan pada tahun 1971 dan diterbitkan penerbit Dar al-Shadiq, Beirut. Berdasar pengalaman pribadi, ini adalah buku Asad Shahab kedua yang saya temukan setelah sebelumnya seorang teman menunjukkan karya Asad Shahab  tentang sejarah Indonesia berjudul Shafahat min Tarikh Indunisia (Lembar-Lembar Sejarah Indonesia).

Buku Serial Tokoh Muslim Indonesia

Seperti yang ia sampaikan dalam mukadimahnya, Asad berkeinginan untuk menuliskan biografi singkat tokoh-tokoh muslim di Indonesia. Namun, ia tidak ingin menulis sebuah dokumen sejarah yang detail, karena itu ia menolak biografinya ini disebut sebagai “sumber sejarah” karena ia hanya memaparkan secara ringkas beberapa peristiwa terkait tokoh yang ia tulis. Beberapa tokoh yang ditulis seperti Sunan Ampel, Maulana Malik Ibrahim, Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Cut Nyak Dien, hingga putra Mbah Hasyim sendiri, Abdul Wahid Hasyim (ayah Gus Dur).

Asad Shahab juga mengatakan bahwa ia tidak akan menulis biografi kecuali tokoh tersebut sudah wafat. Ia mengatakan:

            خصصت لكل من هؤلاء الأبطال والأعلام كتبا خاصة على حدة، ترجمت لهم باختصار، واكتفيت بترجمة أولئك الذين قد ذهبوا إلى ربهم رضي الله عنهم. ولم أتعرض للأحياء منهم لأن جهادهم وأعمالهم لا تزالون مستمرّة متواصلة. وقد يقومون بأعمال كبيرة عظيمة

Baca Juga :  Kemerdekaan dalam Kaca Mata Sejarah Islam pada Masa Rasulullah (Video 4)

“saya persiapkan secara khusus untuk setiap tokoh atau pahlawan tersebut satu buku biografi yang saya tulis secara singkat. Saya mencukupkan untuk menulis biografi tokoh yang sudah kembali kepada haribaan-Nya saja. Saya (memutuskan) tidak memilih (menulis) yang masih hidup karena perjuangan dan kontribusi mereka (kepada bangsa) masih terus berlanjut. Boleh jadi, mereka akan membuat kontribusi-kontribusi yang besar (nantinya).” (h. 7).

Mbah Hasyim dalam Konteks Orang Islam dan Tokoh Bangsa

Asad mulai menerangkan dengan pujiannya terhadap Mbah Hasyim. Secara pribadi, Asad merasa terkesan bahwa tokoh utama dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia dalam bentuk seruan jihadnya adalah dari barisan ulama yang pernah belajar di Mekkah. Secara umum, seperti kata Gus Dur, sejak awal abad ke-18 mulai banyak santri Nusantara yang belajar  di Haramain (Mekkah dan Madinah) dan generasi mereka adalah keturunan generasi santri yang telah kuat secara ekonomi.

Asad kemudian meneruskan penjelasannya tentang kiprah Mbah Hasyim setelah pulang ke Hindia Belanda. Mbah Hasyim segera mendirikan pondok pesantren di wilayah Tebuireng, Jombang. Perlu diketahui bahwa wilayah tersebut terdapat pabrik gula dan kejahatan masih merajarela disana. Asad menyebut bahwa tantangan yang dihadapi Mbah Hasyim adalah adalah penghalangan dari Pemerintah Hindia Belanda. Dalam catatan biografi ini, Pemerintah Hindia Belanda setelah tidak berhasil menghalangi secara formal pendirian Tebuireng, Belanda bekerjasama dengan pelaku kejahatan untuk menteror Mbah Hasyim. Peristiwa ini menyebabkan terjadinya baku hantam antara para peneror dengan santri-santri dan guru di Tebuireng waktu itu. Beberapa bangunan juga rusak.

Di bagian selanjutnya, ketika melanjutkan menjelaskan tentang peran Mbah Hasyim dalam pendirian Nahdatul Ulama, Asad menggambarkan bagaimana Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan kebijakan-kebijakan untuk menghalangi perkembangan NU. Di masa itu, NU terus diawasi pergerakannya. Belanda juga mengeluarkan siasat lain berupa tuduhan bahwa gerakan yang dilakukan Mbah Hasyim ini sebenarnya menentang Belanda sebagai pemerintah yang sah (al-hukumah al-syar’iyyah) versi Belanda (h. 15)

Baca Juga :  Mau Menikah? Tiga Hal yang Perlu Diwaspadai Bagi Calon Pasutri dari Mbah Hasyim Asy'ari

Tapi itu tidak membuat NU goyah. Mbah Hasyim terus mengembangkan NU dimulai dari Tebuireng. Beberapa tokoh nasional penting seperti Bung Tomo dan Jenderal Sudirman juga memiliki kedekatan khusus dengan Mbah Hasyim.

Mbah Hasyim juga menjalankan strateginya dengan mengeluarkan fatwa-fatwa agar masyarakat secara bertahap meninggalkan simpatinya sama sekali terhadap pemerintah Hindia Belanda. Mbah Hasyim memulai dengan fatwa pengharaman menerima bantuan dari Belanda dalam bentuk apapun (h. 18). Ketika Kekaisaran Jepang mulai melancarkan serangannya ke Indonesia, Belanda meminta bantuan rakyat Hindia Belanda untuk mau membantu dengan dalih membela “tanah” mereka yang akan direbut oleh Belanda. Mbah Hasyim kemudian berfatwa bahwa haram hukumnya untuk ikut serta membantu Belanda (h. 19). Dari bukti-bukti ini, apa yang ditulis Asad menjadi sangat penting karena sedang menyampaikan peran kebangsaan ulama di Hindia Belanda terhadap penjajah kepada masyarakat Timur Tengah.

Mbah Hasyim Mendukung Gerakan Anti-Penjajahan 

Di awal abad ke-20 waktu itu, di berbagai tempat mulai berkembang upaya-upaya untuk melepaskan diri dari cengkeraman kolonialisme barat. Mbah Hasyim, dalam hal ini – dicatat Asad – membangun komunikasi dengan banyak tokoh-tokoh pergerakan Islam di dunia seperti Ali Jinnah dan Muhammad Iqbal (Pakistan) sampai Syakib Arslan (Syam/Suriah)

Ketika terjadi pemberontakan di Maroko melawan Spanyol dan Prancis pada tahun 1924 di bawah pimpinan ‘Abd al-Karim al-Khattabi, Mbah Hasyim mengadakan gerakan masa dan sekian pertemuan untuk mendukung gerakan al-Khattabi. Belanda mengkhawatirkan gerakan-gerakan seperti ini karena akan menyebabkan eksistensi pemerintah jajahannya akan terganggu. Karena itu, gerakan Mbah Hasyim kembali dihalangi (h. 29).

 

Buku yang Penting Sampai Hari Ini

 

            Penulisan buku-buku Asad dalam bahasa Arab membuat posisinya sangat penting dalam rangka menginformasikan tentang ulama-ulama asal Indonesia atau pendapat mereka di berbagai bidang. Yang paling menarik dari buku ini adalah konsistensi antara judul dengan isinya. Asad membingkai sosok Mbah Hasyim sebagai ulama yang mendukung kemerdekaan Indonesia, peletak fondasi kebangsaan Indonesia juga.  Karena itu, dalam setiap penjelasannya, beliau selalu mencari sisi kehidupan Mbah Hasyim yang patriotik dan cinta tanah air, berupa pembelaan terhadap tanah airnya.

Baca Juga :  Mengapa Allah Menyukai Orang yang Makan Secukupnya? Ini Kata Imam al-Ghazali

Terakhir, seperti yang dikisahkan dalam buku, Mbah Hasyim saat belajar di Haramain pernah rapat bersama teman-temannya dari negara yang dijajah oleh kolonialisme Barat. Lalu, beliau-beliau berdoa di hadapan Ka’bah agar diberi kekuatan untuk berjihad melawan penjajah saat pulang nanti. Lihat kan, kebangsaan adalah sesuatu yang juga menjadi bagian dari misi para ulama. Semoga kita mensyukuri kemerdekaan yang ke-73 ini, dan tidak merongrongnya dengan (gaya penjajah) lagi dengan bertanya, apa dalilnya mengikuti acara peringatan kemerdekaan, Wallahu A’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here