Muhammad Asad dan Tafsir “The Message of The Qur’an”

0
257

BincangSyariah.Com- The Message of The Qur’an merupakan terjemahan dan tafsir Alquran terkenal yang ditulis oleh Muhammad Asad. Asad sendiri dulunya bernama Leopold Wiss keturunan Yahudi kelahiran Austria yang masuk Islam.

Di masa kecilnya, beliau dididik dengan ajaran Yahudi yang ketat. Beliau merupakan anak seorang Rabi yang terkenal di kalangan yahudi Austria.

Namun kemudian perjalanan hidupnya mengantarkan Muhammad Asad untuk masuk Islam dan menjadi muslim sejati.

Di awal rencananya karya tafsir dalam bentuk footnote ini akan diselesaikan dalam dua tahun penulisan namun perjalanan intelektualnya dalam mengarungi pemikiran Islam terutama dalam bidang tafsir dan bahasa Arab telah menghabiskan tujuh belas tahun umurnya.

Hal demikian amat wajarlah jika karyanya ini sering dijadikan rujukan di kalangan muslin dan non-muslim Barat dalam memahami dan menerjemahkan Alquran.

Dan jika tidak berlebihan, The Message of The Qur’an ini bisa disebut sebagai ringkasan karya-karya tafsir klasik dan modern dengan corak yang sangat rasionalis. Bahasanya singkat, padat namun penuh dengan makna.

Jika dilihat dari metode dalam menerjemahkan dan menafsirkan Alquran, paling tidak, Muhammad Asad mempertimbangkan tiga aspek; pertama, aspek linguistik Alquran; kedua, aspek intekstualitas ayat-ayatnya dan ketiga; aspek moral-etis yang terkandung dalam narasi sejarah dan kisah-kisah yang ditampilkannya.

Karena keterbatasan ruang lingkup, tulisan ini hanya akan membahas aspek yang pertama, yakni aspek kebahasaan yang digunakan Alquran.

Untuk aspek yang pertama, Muhammad Asad mengkritik model penerjemahan kata-kata Alquran yang tidak mempertimbangkan sense linguistik yang teliti yang sesuai dengan yang terpahami di masa turunnya.

Bagi Asad, terjemahan Alquran harus sedekat mungkin maknanya dengan sense yang dipahami oleh masyarakat yang pertama kali menerimanya.

Berangkat dari sini kemudian Asad mengatakan bahwa Alquran tidak akan dipahami secara utuh jika kita memahaminya berangkat dari kerangka pandang Islam yang sudah mengalami pelembagaan. Terkait hal ini, Asad menegaskan:

“Jelaslah bahwa Alquran tidak akan terpahami dengan baik jika kita membacanya hanya berdasarkan kepada perkembangan ideologi belakangan. Kita akan kehilangan maksud asli dan makna awal yang terpahami oleh generasi yang mendengarkannya secara langsung dari lisan Nabi SAW sendiri.”

Dengan kata-kata lain, bagi Asad, Alquran harus dipahami dari perspektif ashru ma qabla al-khilaf (masa sebelum munculnya ideologi-ideologi keagamaan dalam Islam) atau masa sebelum ajaran-ajaran Islam dibakukan ke dalam serangkaian kaidah-kaidah hukum, keyakinan dan praktik keagamaan, yakni masa Nabi sendiri.

Baca Juga :  Menurut Mazhab Kami Atau Mazhab Kalian?

Cara pemahaman seperti ini mirip dengan yang pernah digaungkan oleh Ibnu Rusyd, Ibnu Hazm dan Ibnu Taymiyyah yang berlandaskan pada prinsip ar-ruju ila al-asl (kembali ke sumber asal) dalam memahami dan menafsirkan fenomena keagamaan, filsafat dan lain-lain.

Berangkat dari pertimbangan aspek kebahasaan yang dipakai di zaman Nabi ini, Asad kemudian mencontohkan beberapa kata, di antaranya ialah kata muslim dan kata Islam.

Bagi generasi umat Islam pertama yang mendengarkan kata-kata ini dari Nabi secara langsung, yang terbersit dalam benak mereka ialah bahwa Islam itu berarti sikap berserah diri kepada Tuhan (Man’s self-surrender to God) dan muslim berarti orang yang berserah diri kepada Tuhan (one who surrender himself unto God ) tanpa  membatasi pengertiannya kepada komunitas agama tertentu.

Misalnya, dalam QS. 3: 67, Ibrahim dinarasikan oleh Alquran sebagai orang yang berserah diri kepada Tuhan (kana musliman) atau dalam QS. 3: 52, murid-murid Yesus mengatakan: Saksikanlah bahwa kami benar-benar berserah diri kepada Tuhan (bi annana Muslimun).

Lebih jauh lagi, Asad menerjemahkan QS. 3: 19 sebagai Behold, the only [true] religion in the sight of God is [man’s] self-surrender unto Him…(ingatlah bahwa agama yang paling benar di sisi Allah ialah sikap berserah diri kepada-Nya) dan QS. 3: 85 sebagai For, if one goes in search of a religion other than self-surrender unto God, it will never be accepted from Him…(Karena itu, jika seseorang mencari agama selain dari sikap pasrah kepada Tuhan, maka ia tidak akan diterima oleh-Nya).

Menurut Asad, penggunaan kata Islam dan muslim dalam Alquran tidak selalu spesifik ditujukan kepada agama yang didirikan Nabi Muhammad Saw. dan para pengikutnya. Istilah ini luas meliputi agama dan penganut agama sebelum Nabi Saw. [yakni agama nabi-nabi terdahulu].

Hal demikian juga berlaku bagi kata kufr. Menurut Asad kata kufr yang arti sebenarnya ialah penolakan terhadap kebenaran dan kafir yang arti sebenarnya ialah orang yang menolak kebenaran telah diterjemahkan secara keliru baik oleh muslim maupun non-muslim sebagai unbelief, unbeliever atau infidel.

Bagi Asad terjemahan seperti ini jelas menghilangkan konotasi spiritual yang luas yang diberikan Alquran terhadap kata-kata ini.

Baca Juga :  Terhapusnya Dosa Karena Sulitnya Mencari Nafkah Halal

Lebih jauh lagi Asad juga mencontohkan kata kitab yang dipakai oleh Alquran. Kata ini sering diterjemahkan “book” dalam bahasa Inggris.

Kata Asad, hal demikian tentu keliru karena Alquran diwahyukan secara berangsur-angsur selama dua puluh tiga tahun. Selama rentang masa ini, generasi umat Islam yang pertama kali mendengar kata kitab tentu tidak memahaminya sebagai sebuah buku yang dijilid dan dibaca.

Hal demikian karena Alquran saat itu belum dibukukan dan baru dikodifikasikan beberapa decade setelah Nabi Saw. wafat. Karena itu kata Asad, kitab harus dikembalikan ke makna generiknya yang berasal dari kata kataba yang berarti menulis atau memerintahkan.

Dari sini kemudian Asad menerjemahkan kata kitab sebagai divine writ yang berarti titah ilahi atau wahyu. Pengertian sebagai titah ilahi atau wahyu ini juga berlaku bagi jenis-jenis wahyu yang diturunkan sebelum Alquran.

Alquran sendiri selalu menegaskan bahwa wahyu-wahyu terdahulu telah mengalami penyelewengan seiring dengan perkembangan waktu. Oleh karena itu, kitab-kitab suci (holy books) yang berisi wahyu itu saat ini tidak merepresentasikan wahyu-wahyu Tuhan yang asli.

Melalui pemaknaan wahyu atau titah ilahi terhadap kata kitab ini, Asad menerjemahkan Ahli Kitab bukan sebagai people of the book melainkan sebagai followers of earlier revelations ‘para penganut ajaran wahyu-wahyu terdahulu’.

Selain kata islam, muslim, kufr, kafir, kitab dan ahli kitab yang harus diterjemahkan sedekat mungkin dengan sense yang dipahami di awal kemunculannya, Asad juga menerjemahkan kata-kata sentral Alquran lainnya seperti taqwa, al-ghaib, as-sama dan lain-lain.

Dalam menerjemahkan kata taqwa, Asad juga mengkritik penerjemahan kata taqwa. Menurutnya kata ini diterjemahkan sebatas pada pengertian melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangannya, atau takut kepada Allah.

Bagi Asad, kata taqwa yang diterjemahkan demikian tidak mencerminkan maknanya yang utuh. Karena itu, ia menerjemahkan kata taqwa sebagai God’s consciousness [kesadaran ketuhanan] dan muttaqin sebagai all the God-conscious [orang-orang yang selalu sadar akan kehadiran Tuhan] .

Kata al-Ghaib yang sering diterjemahkan sebagai unseen [yang tidak terlihat] juga tak luput dari kritikan Asad. Bagi Asad, terjemahan unseen tidak mencerminkan makna yang sebenarnya. Asad kemudian menawarkan terjemahan kata ini dengan beyond the reach of human perception [realitas yang berada di luar jangkauan nalar manusia].

Baca Juga :  St. John Sang Pembaptis dan Tafsir Kata "As-Sabiin" dalam Alquran

Bagi Asad, al-ghaib merupakan realitas yang tidak bisa dijangkau oleh nalar manusia dan tentunya tidak bisa dibuktikan atau ditolak melalui pengamatan ilmiah. Dengan demikian, bagi Asad, kepercayaan kepada al-ghaib ini merupakan dasar bagi keimanan kepada Allah Swt.

Yang menarik lagi ialah tafsiran Muhammad Asad terhadap kata as-sama yang berarti langit. Asad dengan mengutip pandangan ahli bahasa Arab mengatakan bahwa as-sama itu ialah semua hal yang berada di atas kita.

Kemudian Asad memperluas maknanya dengan menafsirkannya sebagai sistem kosmos. Menurut Asad, ketika Alquran menyebut tujuh langit [sab’a samawat], yang perlu diperhatikan adalah kata sab’un-nya itu.

Seperti yang dikutipnya dari Lisan al-Arab, Muhammad Asad mengatakan bahwa kata tujuh dalam bahasa Arab mengandung arti beberapa dan ini sama seperti halnya tujuh puluh atau tujuh ratus yang dalam bahasa Arab mengandung arti banyak [many]. Dari sini kemudian Asad menafsirkan kata sab’a samawat [tujuh langit] sebagai aneka ragam sistem kosmik.

Demikianlah sekelumit contoh mengenai hal-hal menarik dari terjemahan dan tafsir yang sering dijadikan rujukan di dunia Barat ini. Contoh di atas paling tidak menggambarkan bagaimana telitinya sosok Muhammad Asad dalam menerjemahkan dan menafsirkan Alquran ke dalam bahasa Inggris.

Namun, kendati banyak kelebihannya terutama jika dilihat dari segi kehati-hatiannya dalam menerjemahkan kata Alquran, tafsir ini tidak luput dari kekurangan. Mungkin karena penjelasannya yang ringkas, ada beberapa kata tertentu dalam Alquran yang tafsirnya masih mengundang tanda tanya.

Meski demikian, di samping tafsir-tafsir klasik Alquran yang berbahasa Arab, tafsir ini bisa juga menjadi alternatif bacaan bagi seorang muslim. Terutama yang menguasai bahasa Inggris ketimbang bahasa Arab. Harus dikatakan The Message of The Qur’an ini sangat kuat rujukannya kepada tafsir-tafsir klasik. Namun dengan sudut pandang yang rasionalis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.