Muhammad Ali Pasha: Tokoh Pembaharu Islam di Mesir

0
10

BincangSyariah.Com – Muhammad Ali Pasha adalah seorang keturunan Turki. Ia adalah tokoh pembaharu Islam di Mesir. Ia lahir pada 1769 M di Kavala, Macedonia, sebuah kota yang terletak di bagian utara Yunani. Ia meninggal di Mesir pada 1849.

Harun Nasution dalam buku Pembaharuan dalam Islam (1996) menuliskan bahwa negeri tempat lahir Muhammad Ali Pasha telah menjadi bagian negara Turki Utsmani sejak ditaklukkan oleh Sultan Muhammad II al-Fatih pada 1453 M.

Ayah Muhammad Ali Pasha bernama Ibrahim Agha yang merupakan seorang imigran Turki dan kelahiran Yunani. Ia memiliki 17 orang putra dan salah seorang diantaranya bernama Muhammad Ali Pasha.

Nur Wahyudin dalam Perkembangan Pemikiran Modern di Dunia Islam (2000) menuliskan bahwa pekerjaan ayah Ali Pasha disamping menjadi penjual rokok, juga mejalankan tugas sebagai kepala petugas pada sebuah kota di daerahnya.

Sejak kecil Muhammad Ali Pasha mesti bekerja keras membantu orang tua. Hal tersebut membuatnya tidak mendapatkan pendidikan layak dan baik. Ia tumbuh menjadi anak yang tidak pandai menulis dan membaca.

Sebelum memasuki dinas militer, Muhammad Ali Pasha menjadi pedagang rokok dan menjadi pemungut pajak. Setelah menjalankan dinas militer, ia menunjukkan kecakapan, keberanian dan kesanggupan luar biasa.

Hal tersebut membuat pangkatnya cepat naik menjadi perwira. Kecakapan dan keberanian tersebut membuat ia dipercaya oleh Sultan Turki Utsmani untuk memangku jabatan panglima pasukan Albania yang dikirim ke Mesir untuk mengusir tentara pendudukan Prancis.

Dalam pertempuran yang terjadi dengan tentara Prancis, Ali Pasha menunjukkan keberanian yang luar biasa dan diangkat menjadi kolonel. Akhirnya, ia beserta pasukannya berhasil mengusir tentara pendudukan Prancis dari Mesir pada 1801 M.

Baca Juga :  Tiga Kesalahan Orangtua dalam Mendidik Anak

Pada 1805 M, rakyat Mesir memilih dan mengangkat Muhammad Ali Pasha sebagai Gubernur Mesir. Tindakan tersebut kemudian disampaikan kepada Sultan Salim III selaku Sultan Turki Utsmani.

Pada 1807, Ali Pasha bersama rakyat Mesir berhasil mematahkan intervensi Inggris ke Mesir. Keberhasilan Ali Pasha mengambil kekuasaan di Mesir didukung oleh beberapa faktor.

Pertama, Ali Pasha mendapatkan dukungan dari rakyat Mesir. Dukungan tersebut diperoleh karena rakyat Mesir menaruh rasa benci terhadap kaum Mamluk. Kebencian yang muncul sebenarnya cukup beralasan.

Sebab, saat kaum Mamluk berkuasa di Mesir, yang secara de facto sampai pada 1798 M, mereka telah melakukan pemungutan pajak dengan cara kekerasan dan bahkan seringkali disertai dengan perlakuan kasar.

Selain rasa benci, hubungan antara rakyat Mesir di satu pihak dan kaum Mamluk di pihak lain juga tidak begitu akrab.

Ketidakakraban tersebut disebabkan karena perbedaan bahasa yang mereka gunakan masing-masing.

Kedua, pasukan yang dipimpin oleh Ali Pasha terdiri atas orang-orang Albania, bukan orang-orang Turki yang memiliki disiplin dan ketaatan yang tinggi serta mendapat latihan yang baik dari seorang kolonel tentara Prancis yang masuk Islam.

Ia kemudian diberi nama Sulaiman Pasya al-Paransawy yang bertindak sebagai pelatih dan mengorganisir pasukan secara modern.

Hal ini terbukti karena mereka telah mampu memukul mundur Turki Utsmani yang ingin menguasai kembali Mesir setelah tentara Prancis pergi.

Ketiga, adanya kedua kelompok yang saling bertikai yang kaum Mamluk dan Turki Utsmani yang berada pada posisi lemah baik secara politik atau militer.

Hal ini terbukti sebab mudahnya ekspedisi Napoleon yang merebut kekuasaan di daerah itu. Kisah ini adalah sebagaimana apa yang tergambar dari perjalanan perang di Mesir.[] (Baca: Khairuddin Pasha at-Tunisi; Pahlawan Revolusioner Tunisia)

Baca Juga :  Hasan al-Banna dan Pemikiran Politiknya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here