Khazanah Tafsir: Kitab Tafsir tanpa Huruf Bertitik

0
317

BincangSyariah.Com – Para mufasir mempunyai cara masing-masing untuk mengekspresikan pemikiran dan kemampuannya dalam berinteraksi dengan Al Quran, tentu saja, diantara mereka ada yang “hanya” mengikuti metode-metode sebelumnya, tapi, tidak sedikit pula yang berinovasi mengembangkan metode unik, yang menjadikan tafsirnya menarik perhatian para pengkaji tafsir.

Dan berikut ini diantara para mufassir yang menerapkan metode unik dalam menafsirkan al-Qur’an, yaitu dengan menghindari penggunaan huruf bertitik. Jadi, kita takkan menemukan huruf berikut dalam tafsirnya, yaitu

ب، ت، ث، ج، خ، ز، ظ، ض، ف، ق، ن، ي

Berikut ini nama-nama pengarang beserta judul karangan kitab tafsirnya,

1- Faydhullah bin Mubarak al Akbar Abaadi, terkenal dengan nama Imam Faydhy. (954 – 1004 H).

Beliau lahir dan besar di India, Kakeknya adalah Syekh Khidhir berasal dari Yaman dan hijrah ke India. Kitab tafsirnya berjudul

سواطع الإلهام لحَلّ كلام الله الملك العلاّم

Sawaathi’ al-Ilham li Halli Kalaamillah al-Malik al-‘Allaam

Tafsir ini mempunyai sistematika penyajian yang unik, yaitu dari awal sampai akhir, al Faydhi menghindari penggunaan huruf bertitik. Padahal kitab ini dicetak dalam 6 jilid, dan tentu saja, nampak sekali takallufnya (bahasa jawa: ketok meksone). Dia mengawalinya dengan kalimat berikut demi untuk menghindari hamdalah yang ada titiknya,

أحامد المحامد ومحامد الأحامد لله مصعد لوامع العلم وملهم سواطع الإلهام، مرصص أساس الكلم، ومؤسس محكم الكلام… إلخ

Di akhir tafsir ini, beliau menambahkan semacam mu’jam utk menjelaskan kata-kata yang menurutnya asing yang ada dalam tafsirnya. Ya, tentu saja, siapapun yang menghindari huruf bertitik pasti akan terpaksa menggunakan lafaz yang tidak familiar.

Dalam tafsir ini, beliau membahas permasalahan kebahasaan, menjelaskan qiroat-qiroat, dan menampilkan perbedaan para ulama lalu memilih yang kuat diantaranya, disamping beliau juga menjelaskan tema tema yang terkandung dalam ayat.

Baca Juga :  Pengajian Ihya Gus Ulil: Empat Benteng Melawan Rintangan dalam Bersuluk

2- Mahmud bin Muhammad al Hamzawi al Hanafi (1236-1305 H)

Beliau adalah mufti negara Syam pada masanya, dan termasuk penulis buku yang produktif di berbagai bidang. Kitab tafsirnya berjudul:

دُرّ الأسرار في تفسير القرآن بالحروف المهملة

Durr al-Asraar fi Tafsir al-Qur’an bi al-Huruuf al-Muhmalah

Tafsir ini terdiri dari 2 jilid, dan dari awal sampai akhir hanya menggunakan huruf-huruf muhmalah (huruf tanpa titik). Membaca tafsir ini, kita akan merasakan kehebatan bahasa Arab dan keunikannya di tangan sang mufasir. Untuk menghindari basmalah yang ada titiknya, beliau menulis,

اسم الله العلام أول الكلام.

Kemudian kata

النبي

diungkapkannya dengan kata

الرسول محم

untuk menghindari titik di kata an-Nabiyy

Kemudian, kata

صلى الله عليه وسلم

digantinya dengan:

صلى الله على روحه وسلم

demi tujuan menghindari kata ‘alaihi as-Salam yang bertitik.

Contoh terakhir misalnya kata

عليه السلام

diungkapkannya dengan

ردّد الله له أكمل السلام

tanpa titik sama sekali.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here