Mufasir yang Menyusun Tafsir dalam Bentuk Syair (Nazham)

0
556

BincangSyariah.Com – Diantara kehebatan para mufassir dalam berinteraksi dengan al Quran dan umat adalah kemampuan mereka menyajikan materi tafsir dalam bentuk nadzaman (bait-bait) yang mudah dihafalkan oleh para pelajar dan para pengkaji tafsir. sebagian ada yang fokus pada kata-kata ghorib saja, sebagian ada yang memperluas pembahasan pada bidang-bidang penafsiran pada umumnya.
Diantara mufassir-mufassir tersebut adalah:

1- Abdul Aziz bin Ahmad bin Said ad Dumairy (w. 694 H)

Beliau adalah seorang waliyullah, shohibul karaamat, dari daerah Dirin, Propinsi Gharbeya, Mesir, murid dari Syekh Izzuddin bin Abdus Salam. beliau mempunyai banyak karya dan nadzam keilmuan, terkenal karena kecepatannya merangkai bait syair.

Kitab tafsirnya berjudul,

التيسير في علوم التفسير

Tafsir ini terdiri dari 3200-an bait syair berbahar rojaz, bercorak sufi, sangat terkenal di kalangan pengikut ajaran tasawuf. Tafsir ini menjelaskan makna-makna mufrodat (kosakata), pembahasan i’rob, dan terkadang juga balaghah (gaya bahasa). Contohnya, sebagaimana ketika beliau menjelaskan tafsir ayat pertama surat an Nisa berikut:

تساءلون أي تقاسمونا *** بالله في جميع ما تبغونا

ونصب الأرحام أي صلوها *** قل اتقوها أن تقاطعوها

beliau menjelaskan makna kata tasaa’aluuna, dan menjelaskan i’rob al-arhaam serta kandungan maknanya.

2- Al Hafidz al Iraaqi, Abdurahim bin Husain (w. 806 H)

Salah satu ulama Syafiiyah Mesir yang pakar di bidang feqih, hadist, tafsir dan qiroat. Guru dari Ibnu Hajar al Asqolani. Kitab tafsirnya berjudul:

ألفيّة في تفسير غريب القرآن

Kitab ini terdiri dari 1028 bait, dicetak dalam catatan pinggir kitab at-Taysiir karya Imam ad Dumairy. Di dalamnya menjelaskan banyak mufrodat Al-Qur’an yang belum dijelaskan oleh Imam ad-Dumairy. Beliau juga terkadang menjelaskan perbedaan makna dari lafaz yang mirip, juga terkadang juga menjelaskan mufrod-nya lafaznya jamak, atau jamaknya lafaz mufrod. Diantara kehebatan nazham ini adalah Al-Hafidz al-‘Iraaqi menyusunnya dalam perjalanan hajinya, dimulai sejak berangkat dari Mesir dan selesai sepulangnya dari Mekah ketika sampai kawasan Suez, dengan padatnya kesibukan lain beliau dalam perjalanan.

Baca Juga :  Perbedaan Hadis Qudsi dengan Hadis Nabawi

Sebagaimana isyarat dari salah satu nadham beliau di kitab tsb berikut:

نظمتها في سفري لمكة *** بدأ وعودا مع شغل الفكرة

وكملت عند السويس عائدا *** من سفري لفضل ربي حامدا

3- Muhammad az-Zajlawi Ibn al-‘Aalim (w. 1798 M)
Beliau adalah seorang imam yang faqih, muhaddist, ushuuli, mufassir, lughowi, berasal dari daerah zajlo al Jazair, sehingga dinisbatkan padanya, mempunyai banyak karya dan nadhzaman di berbagai bidang keilmuan.

Kitab tafsirnya berjudul,

ألفية في غريب القرآن

Nazham tafsir ini disamping menjelaskan makna-makna kosakata asing (ghorib) dalam al-Qur’an, ia juga menjelaskan beberapa aspek Ulumul Quran. Imam az-Zajlawi membagi nazham tafsirnya menjadi 3 bagian:

1- Kata-kata ghorib yang diurutkan sesuai urutan alfabetik,

2- Kata-kata ghorib yang diurutkan sesuai urutan letaknya dalam mushaf.

3- Kata-kata ghorib dalam al Quran yang mengandung makna bermacam-macam.

4- Ahmad bin Ahmadzayya al Hasani (w. 1968 M)
Beliau ulama dari Mauritania yang alim bidang fiqih, ragam bacaan Al-Qur’an (qiroat) dan bahasa Arab, juga seorang ulama yang menekuni tasawuf dan mengambil ijazah tasawuf dan para mursyid. Bahkan, pernah berguru kepada Syekh al-Khodim Ahmad dari Senegal, Afrika.

Kitab tafsirnya berjudul:

مراقي الأواه إلى تدبر كتاب الله

Sesuai dengan pernyataan beliau di penutup tafsirnya sbb:

نظم تعرض لما كان انبهم *** من ذكرنا معنى وحيث النظم ثم سميته: مراقيَ الأواه *** إلى تدبر كتاب الله

Kitab ini adalah kitab yang paling terkenal dan paling laris di kawasan Syinqith, Mauritania. Nazham-nya berbahar rojaz berjumlah 7962 bait, menafsirkan kosakata al Quran, dengan menggabungkan manhaj bil ma’tsur dan manhaj bil ijtihad.

Beliau juga menjelaskan masalah-masalah nahwu, shorof, balaghah, akidah, hukum, bahkan cerita-cerita dalam Al-Qur’an. disamping terkadang menafsirkan Al-Qur’an dengan bantuan qiroat mutawatirah yang lain.

Baca Juga :  Tafsir Surah al-Kafirun: Batasan Toleransi dalam Islam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here