Muawiyah bin Hudaij; Peletak Syiar Islam di Tunisia dan Isu Pembunuhan Putra Abu Bakar

0
80

BincangSyariah.Com – Jika Abdullah bin Abi Sarh adalah utusan gelombang awal yang dikirim ke Tunisia guna menggali informasi detail mengenai kondisi geografis,  rute-rute sekitar serta menakar berapa besar kekuatan musuh. Maka, Muawiyah bin Hudaij adalah orang yang bertugas mengeksekusi jalannya penaklukan. Dalam invasi perdananya, ia berhasil menembus pertahanan Barbar dan Byzantium untuk pertama kalinya.

Dalam buku Min Abthal al-Fath al-Islami karya Muhammad Ali, Muawiyah bin Hudaij bin Jafnah bin Qatirah at Tujibi al Kindi as Sakuni lahir dan berkembang di Yaman. Ia adalah putra dari  seorang penyair perempuan ulung  Arab, Kabsyah binti Ma’da. Ia masuk Islam di usia muda. Sayangnya, sejarah tidak begitu detail memperhatikan tahun keislaman maupun tahun kelahirannya.

Jika melihat ke belakang, memang pergerakan militer ke Afrika Utara oleh Muawiyah bin Hudaij tampak begitu mentereng di era kepemimpinan Muawiyah bin Abi Sufyan. Namun sebenarnya, pemuda yang kerap dipanggil Abu Naim ini sudah diutus berkelana di benua hitam itu sejak era khalifah ke tiga, Utsman bin Affan.

Peristiwa tersebutlah terjadi pada tahun 34 H. Dimana Muawiyah bin Hudaij bersama para prajuritnya yang didominasi oleh kaum Muhajirin dan Anshar berbondong–bondong menuju Tunisia menyusul Abdullah bin Sa’ad bin Abu as-Sarh Gubernur Mesir yang sudah tiba lebih dahulu di lokasi tersebut.

Dalam pertempuran ini, selain berhasil menggulingkan sejumlah istana dan mendapat harta rampasan melimpah, Muawiyah bin Hudaij juga sukses mendirikan kamp kokoh pertama pertahanan Muslim bernama Kairouan. Selama berlangsungnya peperangan pasukan Muslim beristirahat di kamp tersebut.

Pada babak berikutnya, nama Kairouan terus mencuat terlebih saat kedatangan panglima senior Uqbah bin Nafi’. Ia memindahkan kamp militer ke sebuah lembah rimbun yang tidak lain adalah habitat asli hewan – hewan buas.

Setelah membuka lahan ia tancapkan sebuah tongkat sambil berkata “Inilah Qairouan”. Begitu menurut penuturan Abdussyafi Abdullatif. Di sini peradaban Islam berkembang pesat hingga beralih fungsi tidak hanya untuk kamp militer tapi juga markas pusat penyebaran Islam di Afrika Utara pada masanya.

Di akhir – akhir masa jabatan Utsman, pasca serbuan pertama Muawiyah bin Hudaij, ekspedisi ke Tunisia dan Afrika Utara pada umumnya berhenti. Sebab, umat Muslim disibukkan dengan konflik internal. Tragedi memilukan pembunuhan Ustman bin Affan oleh pemberontak, berujung pada tekanan besar terhadap Ali sebagai khalifah selanjutnya yang diminta publik untuk mengusut tuntas kasus tersebut.

Baca Juga :  Kisah Kelembutan Hati Rasulullah

Pergolakan politik terus bergejolak dibumbui oleh sejumlah oknum yang ikut menunggangi dan memanfaatkan setiap momen yang ada.  Hingga pada ahirnya pecahlah peperangan diantara umat Islam itu sendiri. Maka, prioritas utama Ali pada saat itu bukan untuk menggempur wilayah luar namun lebih menstablikan situasi dalam negeri terlebih dahulu.

Seruan Islam ke Tunisa kembali mendapat perhatian khusus di era Dinasti Umayyah dibawah pimpinan Muawiyyah bin Abi Sufyan. Dalam pandangannya, Tunisia atau Afrika Utara pada umumnya merupakan daerah potensial. Alasannya ada dua. Pertama, wilayah Afrika Utara meliputi perbatasan Mesir bagian barat. Kedua, Afrika Utara dikuasai Byzantium yang tidak lain adalah salah satu musuh terberat Islam.

Berpengalaman dan setia terhadap keluarga kerajaan, itulah sosok Ibnu Hudaij. Sehingga membuatnya lagi – lagi diberi amanah untuk menaklukan Tunisia. Secara umum operasi militer Ibnu Hudaij tahun 45 H adalah yang paling masyhur dikenal sejarah Islam. Namun, dalam penuturan Abdusyafi pengutusan Ibnu Hudaij oleh Muawiyah bin Sufyan tidak terjadi hanya satu kali melainkan dua kali yaitu di tahun 41 H dan 45 H.

Kenapa tahun pertempuran 45 H menjadi begitu familiar, sebab diikuti oleh pasukan besar beranggotakan sepeluh ribu tentara, beberapa  diantaranya merupakan para pembesar Quraisy seperti Abdullah bin Umar bin Khattab, Abdullah bin Zubair, Abdul Malik bin Marwan dan Yahya bin Hakam bin Ash. Pasukan Muslim bertempur dan memenangkan pertempuran heroik melawan Byzantium di Al-Jamm.

Mengetahui kekalahan pasukannya, raja Romawi mengirim Patrikios Niphorus ke Tunisia dengan 30.000 tentara. Ibnu Hudaij bergerak cepat dengan mengutus Abdullah bin Zubair bersama tim kavaleri untuk mengejar Patrikios ke area pesisir kota Sousse. Saat

Saat ia tiba didataran tinggi, ia dapat melihat situasi pesisir. Namun sebelum kedua kubu  berpapasan, Patrikios sudah lari tunggang langgang meninggalkan pesisir pasca mendengar kabar kedatangan pasukan Islam. Dengan begitu, kota Sousse dapat ditaklukan dengan mudah oleh Abdullah bin Zubair.

Di sisi lain, tokoh besar berikutnya yakni Abdul Malik bin Marwan juga ditugaskan Ibnu Hudaij untuk membebaskan kota penting lainnya yakni Jallula yang terletak sekitar 24 mil dari Kairouan. Di sana,  pertempuran sengit tidak dapat dihindari, sehingga memakan banyak korban jiwa. Meski begitu, kemenangan sukses diraih pasukan muslim. Maka, Jallula pun tunduk dalam kekuasaan Islam.

Baca Juga :  Kisah Kecerdasan Imam Abu Hanifah Dalam Berdebat

Menurut Ibnu Idzari dalam Bayan Mughrib setelah dua kemenangan ini, Ibnu Hudaij membawa dua ratus perahu dan bertolak menuju Sisilia, Italia. Dia memimpin langsung pertempuran di lautan, ikut menyerbu sekaligus menangkal serangan – serangan musuh.

Dalam situasi genting ini, beruntung kemenangan tetap berpihak pada umat Islam bahkan diluar dugaan mereka justru mendapat banyak tawanan dan harta rampasan melimpah. Ibnu Hudaij menetap dan menghabiskan waktu selama satu bulan di Sisilia sebelum nantinya kembali ke Tunisia.

Selain dikenal atas kontribusi penuhnya di bidang penaklukan, Ibnu Hudaij sering dikaitkan dengan kasus kematian Muhammad bin Abu Bakar. Ia adalah putra dari Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq yang ditunjuk Ali bin Abi Thalib sebagai gubernur Mesir yang sebelumnya akan ditempati oleh Al-Asytar.

Namun, Al Asytar meninggal di ujung laut merah sebelum sampai ke Mesir. Sebagian orang Al Kharaj meyakini bahwa ia telah diracun oleh orang suruhan Muawiyah bin Abi Sufyan.

Situasi kondusif berhasil diciptakan Muhammad bin Abu Bakar di bulan pertama kepemimpinannya. Setelah itu, carut marut muncul di mana–mana. Hal ini disebabkan karena adanya perlakuan keras terhadap orang–orang yang masih menolak berbaiat kepada Ali bin Abi Thalib. Awalnya mereka dikirimi surat himbauan untuk segera taat. Namun diabaikan.

Selanjutnya, Muhammad bin Abu Bakar melakukan agresi militer. Basis wilayah kekuasaan mereka dilemahkan lalu harta bendanya dirampas, dan beberapa orang ditawan. Pada akhirnya kelompok ini melakukan serangan balik atas perlakuan  tidak mengenakan itu.

Tentu, kondisi ini sangat memperlemah reputasi Muhammad bin Abu Bakar. Padahal sebelumnya ia telah dinasihati Qais bin Sa’ad mantan gubernur Mesir dua periode sebelumnya agar memperlakukan mereka dengan bijaksana sesuai dengan kondisi dan status sosial mereka supaya tidak terjadi huru hara. Namun, hal ini tidak begitu diindahkan, maka tinggal menunggu waktu kedua kubu akan bertarung.

Muawiyah bin Abi Sufyan turut memanfaatkan situasi empuk ini. Ia mengirim pasukan ke Mesir dikepalai oleh panglima ulung Amr bin Ash. Mereka  berkoalisi dengan orang–orang yang murka terhadap Muhammad bin Abu Bakar. Pasukan ini terkumpul hingga lebih dari 10.000 orang. Dua tokoh ternama  yakni Maslamah bin Makhlad dan Muawiyah bin Hudaij ikut bergabung dalam koalisi tersebut.

Baca Juga :  Mengapa Rasul Menyuruh Memisahkan Tempat Tidur Anak?

Tahun 38 H, kedua kubu bertempur. Kemenangan diraih tim koalisi. Sejak saat itu, Mesir terlepas dari Ali bin Abi Thalib dan beralih ke pangkuan Muawiyah bin Abi Sufyan. Konon Muhammad bin Abu Bakar wafat dalam pertempuran mematikan itu. Beredar isu bahwa putra Abu Bakar itu telah dieksekusi oleh Muawiyah bin Hudaij.

Untuk menelusuri kebenarannya, topik ini diangkat oleh ahli sejarah asal Libya,  Ali Muhammad as Shalabi dalam karyanya Asma Mathalib Sirah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib. Menurutnya, kisah–kisah ini dinukil dari Abu Mukhnif asy-Syi’i yang meriwayatkan secara sendirian dan terpisah dari riwayat yang disebutkan oleh At-Thabari.

Abu Mukhnif sendiri merupakan tokoh kontroversial sebab dianggap telah banyak menyimpang dari kenyataan sejarah. Meski begitu, sejumlah ahli sejarah mengambil beberapa kisah yang diriwayatkannya. Seperti al-Ya’kubi yang menyebut adanya pertempuran Amr bin Ash terhadap Muhammad bin Abu Bakar.

Dikisahkan juga bahwa Muawiyah bin Hudaij menyergap dan membunuh Muhammad bin Abu Bakar kemudian membakarnya di atas keledai. Adapun al-Masu’di dan Ibnu Hibban mengisyaratkan adanya pembunuhan tersebut, namun keduanya tidak menjelaskan kejadian rincinya.

Ahli sejarah lainnya, Ibnu Atsir juga menukil riwayat Abu Mukhnif dalam kitab at-Thabari. Sementara itu, An Nuwairi dan Ibnu Katsir mengisahkan hal yang sama seperti Ibnu Atsir. Adapun Ibnu Khaldun lebih memilih untuk menelaah makna riwayat Abu Mukhnif.  Begitu juga Taghri Bardi, ia meringkas riwayat yang sama.

Dari paparan paparasan di atas, as-Shalabi menilai bahwa seluruh riwayat ini datang dari jalur Abi Mukhnif yang dikenal berperan besar dalam isu penyimpangan sejarah dari peristiwa sesungguhnya di masa itu.

As Sallabi memaparkan, riwayat–riwayat ini kemudian menyebar dan diadopsi ke dalam buku – buku kontemporer. Sayangnya, tanpa melewati proses pengujian atau penelaahan lebih dalam terlebih dahulu sehingga meninggalkan sejumlah kejanggalan khususnya bagi para peneliti sejarah.

Muawiyah bin Hudaij meninggal tahun 52 H dan dimakamkan di tanah yang sangat dicintainya, Mesir. Ia begitu menyayangi negeri ini sebab telah banyak memperjuangkannya sejak awal penaklukan Mesir bersama Amr bin Ash hingga pernah diangkat sebagai Gubernur Mesir tahun 44 H.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here