Mu’adz bin Jabal: Ulama Muda di Masa Rasulullah

0
1682

BincangSyariah.Com – Ketika rombongan Yatsrib datang menemui Rasulullah saw untuk melakukan baiat di bukit ‘Aqabah pada gelombang kedua yang dikenal dengan peristiwa Bai’at Aqabah kedua, di antara laki-laki berjumlah 70 orang itu, ada seorang anak muda berusia 18 tahun dengan paras tampan, perawakan kekar, postur tubuh tinggi dan kulit putih bersih. Dialah Mu’adz bin Jabal. Begitulah keterangan yang tertulis dalam kitab Siyar A’lam al-Nubala.

Anas bin Malik meriwayatkan sebuah hadis tentang kecerdasaan Mu’adz bin Jabal sebagaimana dikutip dalam al-Thabaqat al-Kubra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Orang yang paling paham tentang masalah halal dan haram dari umatku adalah Mu’adz bin Jabal.”

Nasab dan Keluarga

Mu’adz bin Jabal al-Anshari adalah pemuda dari suku Aus. Anak dari pasangan Jabal bin Amr dan Hindun binti Sahl. Ayahnya berasal dari Bani Uday sedang Ibunya dari Bani Juhainah. Mu’adz telah ditinggal mati ayahnya sejak kecil. Ibunya kemudian menikah lagi dengan al-Jad bin Qais yang berasal dari Bani Salimah. Sehingga Mu’adz dibesarkan dalam lingkungan Bani Salimah.  Sebelum Islam sampai ke Madinah, Mu’adz telah ditinggal ibunya dan hidup mandiri.

Sayangnya, ayah tiri Mu’adz bin Jabal termasuk orang munafik. Tercatat dalam Sirah Ibnu Hisyam bahwa al-Jad bin Qais terkenal sebagai orang yang kikir, sering menghalang-halangi dakwah Rasulullah saw.

Dikisahkan bahwa ketika Rasulullah saw hendak pergi ke Tabuk, Ia meminta kepada al-Jad bin Qais untuk ikut bersamanya. Rasulullah saw berkata, “Apakah engkau punya waktu untuk mengantarkan kami sebagai petunjuk jalan ke Bani al-Ashfar?”

Al-Jad menjawab, “Ya Rasul, izinkanlah aku untuk tidak ikut, janganlah engkau fitnah aku. Engkau tahu bahwa aku ini termasuk orang yang mudah mendapatkan godaan dari perempuan. Aku takut jika melihat perempuan dari Bani al-Ashfar, aku tidak akan tahan.”

Baca Juga :  Sahabat Perempuan yang Meninggal pada Bulan Ramadan

Rasul menjawab, “Baiklah, aku mengizinkanmu.”

Peristiwa ini dimaktub dalam al-Quran Q.S al-Taubah ayat 48 sebagaimana ditulis oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Quran al-‘Adzim.

Beruntung ia memiliki saudara tiri bernama Abdullah bin al-Jad. Saudaranya ini termasuk dalam sahabat yang setia kepada ajaran Islam. Abdullah ikut menyatakan sumpah setia kepada Rasulullah saw dan ikut membela Islam.

Kehidupan bersama Rasulullah

Sepulang Mu’adz bin Jabal dari Mekah, ia langsung menuju rumahnya di perkampungan Bani Salimah. Bersama Tsa’laban bin ‘Anabah dan Abullah bin Unais, Mu’adz bin Jabal menghancurkan berhala-berhala yang ada di rumah dan di perkampungannya.

Ketika Rasulullah saw bersama para sahabat hijrah dari Mekah ke Madinah, untuk menjaga kohesi sosial di antara umat muslim, beliau mempersaudarakan antara kelompok orang yang berhijrah (muhajirin) dan orang-orang yang menerima mereka (Anshor). Ibnu Hisyam menyebutkan bahwa Mu’adz dipersaudarakan dengan Ja’far bin Abi Thalib, sepupu Rasulullah saw. Namun ketika itu, Ja’far bin Abi Thalib masih berada di Habasyah.

Namun menurut catatan dalam kitab Usdul Ghabah, Mu’adz bin Jabal dipersaudarakan dengan Abdullah bin Mas’ud. Dari saudaranya yang terkenal sebagai ahli al-Quran inilah Mu’adz bin Jabal bertalaqqi (mendengar dan mempelajari) tentang al-Quran dari ayat-ayat yang turun sebelum hijrah.

Ketika terjadi perang Badar di tahun ke-2 H, Mu’adz bin Jabal baru genap berusia 21 tahun. Dengan gagah berani ia maju menghadapi musuh-musuh meskipun usia mereka jauh lebih matang darinya. Begitu pun pada tahun-tahun berikutnya, ia tidak pernah absen menjadi bagian dari prajurit pemberani dalam menghadapi perang Uhud, Khandaq, dan perang-perang lain.

Tak heran jika kedudukan Mu’adz di sisi Rasulullah saw amat tinggi. Diceritakan bahwa ketika Rasulullah bersama para sahabat dalam perjalanan menuju Tabuk untuk menghadapi pasukan Romawi Timur, Rasulullah saw berkata, “Wahai Mu’adz mendekatlah. Tidak ada bagiku orang lain seperti kedudukanmu.”

Baca Juga :  Kisah Sindiran Allah kepada Ibrahim bin Adham

Setelah mendekat, seperti tidak menyia-nyiakan kesempatan Mu’adz bin Jabal berkata, “Ya Rasul, izinkan aku untuk bertanya tentang masalah yang sangat menggangguku, seringkali masalah ini menjadikanku sedih dan sakit.”

Rasul menimpali, “Bertanyalah apa yang engkau kehendaki.”

Mu’adz berkata, “Wahai Rasul, beritahulah aku tentang suatu amal yang dapat mengantarkanku ke surga. Hanya ini pertanyaanku.”

“Teramat baik pertanyaanmu ini (laqad saalta bi’adzim),” Rasulullah hingga tiga kali mengulang ungkapan ini. Rasulullah saw melanjutkan, “engkau beriman kepada Allah dan hari Akhir, mendirikan shalat, dan beribadah hanya kepada Allah tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun hingga engkau mati dalam jalan ini.”

Dialog tentang Dasar Berijtihad

Setelah perang Tabuk berakhir pada tahun ke-9 H dengan kemenangan berada di pihak kaum Muslimin, pada tahun ini pula Rasulullah kedatangan tamu utusan dari Yaman. Utusan ini diutus oleh Raja  Yaman untuk mengajarkan penduduknya ajaran Islam dan al-Quran. Diutuslah Mu’adz bin Jabal, Abu Musa al-Asy’ari, Malik bin ‘Ubadah dan lainnya pergi ke Yaman.

Sebelum kepergian Mu’adz ke Yaman, terjadilah percakapan populer antara Rasulullah saw dengan MU’adz yang termaktub dalam kitab-kitab sejarah maupun hadis. Rasulullah saw bertanya, “apa pedomanmu dalam memutuskan sesuatu wahai Mu’adz?”

Mu’adz menjawab, “Kitabullah.”

“Jika tidak ada dalam Kitabullah?”

“Aku putuskan dengan Sunnah Rasul.”

“Jika tidak ada dalam Sunnah Rasul?”

“Aku gunakan akalku untuk berijtihad, dan aku tidak akan berlaku sia-sia.”

“Segala puji bagi Allah Swt yang telah memberikan taufiq kepada utusan Rasulullah saw ini yang telah diridhainya,” ungkap Rasulullah saw dengan wajah yang berseri-seri.

Dalam kitab al-Bidayah wa al-Nihayah diceritakan bahwa mereka membawa surat dari Rasulullah saw yang isinya: “Jika telah datang para utusanku, aku titip perlakukanlah mereka dengan baik. Pemimpin mereka adalah Mu’adz bin Jabal, janganlah engkau kembalikan ia kecuali dalam keadaan baik (ridha). Sungguh aku telah mengutus orang-orang yang saleh, memiliki keutamaan agama, dan keluasan ilmu, maka aku titip mereka agar diperlakukan dengan baik, dan mereka menjadi saksiya. Wassalamu’alaikum Wr Wb.”

Baca Juga :  Ini 5 Peringatan Alam Kubur untuk Manusia

Pasca Rasulullah saw Wafat

Tidak lama berselang, setelah Rasulullah saw melaksanakan haji Wada’ di tahun ke-10 H, akhirnya Nabi agung umat ini wafat. Saat itu Mu’adz bin Jabal tidak sempat melihat jasad manusia paling mulia Rasulullah saw karena posisinya masih berada di Yaman. Akhirnya di masa Abu Bakar al-Shiddiq Mu’adz bin Jabal kembali ke Madinah.

Kemudian di masa Pemerintahan Umar bin Khattab Mu’adz bersama Abu Ubaidah bin al-Jarrah diutus ke Syam untuk membebaskan penduduknya dari cengkeraman kekuasaan Byzantium (kasih link ttg Abu Ubaidah). Tatkala Abu Ubaidah wafat di Syam pada tahun ke-18 H, Umar bin Khattab menunjuk Mu’adz bin Jabal sebagai gubernur menggantikan Abu Ubaidah. Baru menjabat beberapa bulan, Mu’adz bin Jabal akhirnya wafat menyusul dalam usianya yang baru menginjak 33 tahun.

Rasulullah saw bersabda terkait keutamaan Mu’adz, “Mu’adz bin Jabal akan datang di Hari Kiamat sebagai Imamnya Ulama, ia berada di depan.” Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here