Mohammed Arkoun: Pembuka Cakrawala Baru bagi Umat Islam

0
74

BincangSyariah.Com – Tokoh Islam pembaharu, Mohammed Arkoun, menenkankan bahwa sumbangan Islam dalam wacana peradaban dunia perlu diaktualisasikan kembali. Bagaimana cara Arkoun mewujudkan pemikirannya?

Menurut Arkoun, cara yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan reinterpretasi terhadap tradisi yang ada. Selain itu, umat Islam juga mesti bersikap terbuka dan dialogis dengan budaya lain. Sikap termuka tersebut dilakukan dengan tidak memutuskan diri dari prinsip-prinsip etika dalam Al-Qur’an. (Baca: Cara Membaca Al-Qur’an Ala Mohammed Arkoun)

Metode yang Arkoun tawarkan disebut sebagai Kritik Epistimologi terhadap “Nalar Islam”. Metode tersebut memiliki tujuan untuk membongkar bangunan dan kontruksi keberagamaan Islam yang sudah jumud dan tidak relevan lagi dengan semangat Al-Quran.

Muhammad Iqbal mencatat dalam The Reconstruction of Relegious Thought in Islam (1986) bahwa usaha pembongkaran Mohammed Arkoun adalah untuk membuka cakrawala dan wawasan keberagamaan dalam Islam secara lebih terbuka, demokratis dan inklusif.

Perjalanan Hidup

Muhammed Arkoun lahir di Taorirt-Mimoun, Al-Jazair, pada 1 Februari 1928. Pendidikan sekolah dasar Arkoun diselesaikan di Desa asalnya yang bernama Kabilia. Ia lalu melanjutkan sekolah menengah di kota pelabuhan yang bernama Oran.

Usai menyelesaikan SMA, Arkoun belajar bahasa dan sastra Arab di Universitas Aljazair sejak 1950 sampai 1954. Ia berkuliah sembari mengajar Bahasa Arab pada sebuah SMA di Al-Harrach, daerah pinggiran ibu kota al-Jazair.

Pada masa perang pembebasan al-Jazair dari pemerintah kolonial Prancis pada 1954 sampai 1962, Arkoun memutuskan untuk mendaftarkan diri sebagai mahasiswa di Paris. Sejak saat itulah ia kemudian pindah dan menetap di Prancis.

Meskipun tinggal di Prancis, bidang utama studi dan penelitian atau area of concern Arkoun tidak berubah. Ia tetap fokus pada bahasa dan sastra Arab. Pada perkembangan intelektualnya, ia semakin mempertinggi intensitas perhatian terhadap pemikiran Islam. Pemaduan kedua unsur tersebut adalah cita-cita yang menjadi latar belakang seluruh kegiatan dan karya-karya Arkoun.

Baca Juga :  Habib Bahar Pertentangkan Hukum Fikih dan Hukum Nasional, Apakah Hukum Nasional bukan Hukum Islam?

Arkoun berhasil meraih gelar doktor di bidang sastra pada 1969. Ia lulus di Universitas Sorbonne, Paris tempat di mana ia mengajar tentang humanisme dalam pemikiran etis Ibnu Miskawaih, seorang pemikir yang berasal dari Persia.

Karya-karya Arkoun berusaha membuka cakrawala baru bagi umat Islam. Ia membuka cakrawala tersebut melalui sebuah kajian kritis yang berasal dari tradisi pemikiran Islam. Usaha yang ia lakukan menimbulkan perhatian luas dan aneka reaksi. Ada yang menolak dengan keras, ada juga yang menyambut hangat.

Hal yang perlu digarisbawahi dari pemikiran Arkoun adalah ia tidak membedakan antara pemikiran modern dan pemikiran post modern. Arkoun berpendapat bahwa pemikiran post modern adalah tahap mutakhir dari proses perkembangan nalar modern yang telah dimulai sejak beberapa abad yang lalu dan berlangsung tanpa henti.

Cita-cita Arkoun adalah menggabungkan unsur paling berharga dari nalar Islam dan dari nalar modern. Bagi Arkoun, nalar modern dicirikan oleh sikap kritis dan nasionalisme. ARkoun menekankan bahwa pada prinsipnya, tidak ada yang terletak di luar jangkauan kritik dan nalar sebagai alat atau sarana utama untuk menemukan kebenaran.

Dari penjelasan tentang pengembaraan intelektualnya, Muhammad Arkoun pantas disebut sebagai seorang intelektual yang pertama kali mengarahkan pemikiran pada pembaca di Barat dan orang-orang yang hidup di dalam wilayah yang mayoritas penduduknya adalah Islam.

Pemikiran-pemikirannya lebih banyak ditulis dalam bahasa Prancis. Tulisan-tulisannya tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan bahasa-bahasa lainnya. Selama hidupnya, Arkoun telah menulis lebih dari 100 buku dan artikel.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here