Misthah Sepupu Abu Bakar; Penebar Hoaks Perselingkuhan Aisyah

0
29

BincangSyariah.Com – Misthah, begitu Ibn Hisyam dalam kitabnya Sirah Ibn Hisyam menuliskan nama salah satu sahabat Nabi Muhammad. Lahir di Mekkah sepuluh tahun setelah peristiwa penyerangan Ka’bah oleh tentara bergajah. Nama lengkapnya adalah ‘Auf bin Utsatsah bin Ibad bin Muttalib.

Selain sahabat, dia juga keluarga nabi dari jalur Siti Aisyah. Bagaimana tidak, dia adalah sepupu Abu Bakar ra., ayahanda dari istri Nabi Muhammad saw. Dia menutup usianya di tahun ke 72, masih dalam keadaan Islam setelah mengikuti beberapa peperangan bersama Mujahidin (orang yang berjihad memerangi kaum kafir) lainnya pada tahun 32 H, bertepatan dengan 652 M., makamnya berada di Amman, Yordania.

Mengenai sepak terjangnya sebagai sahabat, dengan kondisi hidup ditanggung oleh Abu Bakar ra. karena tidak mampu, Misthah ikut hijrah ke Madinah, dan juga bersama Rasulullah berjuang di perang Badar. Ulama tafsir mendeskripsikan perjalanan misthah tersebut dengan jelas.

وكان مسطح منهم; لأنه كان ممن هاجر من مكة إلى المدينة، وشهد مع رسول الله صلى الله عليه وسلم بدرا

“Misthah termasuk dari mereka (kalangan Muhajirin), karena dia ikut rombongan yang berpindah dari Mekkah ke Madinah, serta dia juga mengikuti perang Badar bersama Rasulullah saw.”. (Al-Thabari, Tafsir Al-Thabari, juz 19, hlm. 136)

Namun demikian, pengorbanannya itu kemudian tercoreng pada peristiwa desas-desus selingkuhnya istri Nabi, Siti Aisyah. Misthah termasuk di antara beberapa tokoh lain yang menebar kabar palsu tersebut. Tentu hal ini memancing amarah di kalangan umat Islam dan para sabat lain yang mendengar.

Saat itu kondisi Misthah sangat terpuruk dengan kebencian mayoritas sahabat padanya.  Di antara mereka ada yang mencela, memboikot, dan menjauhi Misthah. Imam al-Bukhori menceritakan bahwa ibu Misthah sendiri mencelanya saat di perjalanan bersama dengan Siti Aisyah

…فَقَالَتْ: تَعِسَ مِسْطَحٌ…

“(Ibu Misthah, Salma) berkata: celaka Misthah”.

Hadits dari Ibn Hamid juga menceritakan, ketika mendengar bahwa sepupu yang dibiayainya ikut menebar berita bohong itu, Abu Bakar ra. bersumpah untuk menangguhkan biaya hidup Misthah

…قَالَ اَبُوْ بَكَرٍ وَكَانَ يُنْفِقُ عَلَى مِسْطَح لِقَرَابَتِهِ وَحَاجَتِهِ: وَاللهِ لَا أَنْفِقُ عَلَى مِسْطَح شَيْءً اَبَدًا…

“Abu Bakar -sebagai orang yang membiayai kebutuhan Misthah- berkata: demi Allah selamanya aku tidak akan menafkahi Misthah sedikitpun” (H.R. Ahmad) (Baca: Cara Bertaubat Karena Berselingkuh dengan Perempuan Bersuami)

Tak hanya orang-orang di kalangan sahabat, dalam al-Quranpun Allah mengancam pembawa berita bohong ini dengan siksa yang pedih pada Surah al-Nur [24]: 19

إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلۡفَٰحِشَةُ فِي ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ  ١٩

“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu (berita bohong) tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.”

Namun demikian, dalam ranah sosial al-Quran justru mengingatkan bahwa seyogianya dalam peristiwa ini, orang-orang mukmin bisa mengambil pelajaran dalam membedakan orang yang benar-benar beriman dengan orang munafik.

إِنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُو بِٱلۡإِفۡكِ عُصۡبَةٞ مِّنكُمۡۚ لَا تَحۡسَبُوهُ شَرّٗا لَّكُمۖ بَلۡ هُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۚ …

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu”, Q.S. al-Nur [24]:11.

Tak luput dari peringatan itu, Abu Bakar juga disindir mengenai sikapnya dalam menanggapi peristiwa berita bohong ini. Sahabat setingkat Abu Bakar tidak selayaknya menuruti sifat emosionalnya, sehingga dia bersumpah dan memutus silaturrami di antara keluarganya sendiri. Masih dalam surah al-Nur, Allah berfirman pada ayat 22

وَلَا يَأۡتَلِ أُوْلُواْ ٱلۡفَضۡلِ مِنكُمۡ وَٱلسَّعَةِ أَن يُؤۡتُوٓاْ أُوْلِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينَ وَٱلۡمُهَٰجِرِينَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۖ وَلۡيَعۡفُواْ وَلۡيَصۡفَحُوٓاْۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٌ  ٢٢

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Dengan ayat ini al-Quran menyuruh Abu Bakar ra. untuk memaafkan Misthah dan menarik kembali sumpahnya. Tidak hanya itu, al-Thabari menambahkan bahwa dalam ayat ini Allah juga membujuk Abu Bakar untuk memperlakukan Misthah seperti sebelum adanya peristiwa berita bohong tersebut.

Hal ini bukan berarti membiarkan kaum munafik menebarkan aksi-aksi liciknya, akan tetapi ada hal lain yang perlu dipertimbangkan. Setidaknya ada dua hal yang menghendaki adanya pembelaan terhadap Mishtah.

Pertama, secara parsial ayat di atas mendeskripsikan bahwa Abu Bakar tidak boleh bersumpah menahan pembiayaannya kepada Misthah, karena Misthah merupakan keluarganya sendiri, orang miskin, dan juga kalangan Muhajirin. Kedua, sahabat merupakan figur bagi generasi-generasi selanjutnya, sehingga Abu Bakar tidak boleh memberi teladan kebencian bagi umat Islam.

Wallahu a’lamu bi al-Shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here