Minhajul A’immah: Naskah Tunggal Fikih Empat Mazhab di Minangkabau

1
372

BincangSyariah.Com – Minangkabau sebagai sebuah daerah yang penduduknya penganut Islam di Indonesia. Pada awalnya, masyarakat Minangkabau menganut paham keagamaan Hindu-Budha. Namun, pemahaman keagamaan tersebut bergeser dan didominasi oleh Islam. Ajaran dan hukum Islam yang melekat pada kehidupan masyarakat Minangkabau tentu tidak tersebar begitu saja, ada peranan dari orang Islam Arab dalam menyebarkan dan mengajarkan tentang Islam seperti yang diungkap oleh Azra dalam Jaringan Ulama Nusantara.

Berbicara tentang Islam tentu tidak terlepas dari persoalan akidah dan hukum. Hukum Islam merupakan sebuah hukum yang dadasari pada Alquran dan Hadis. Ramuan dari dua sumber utama Islam itu menjadi fikih yang digunakan secara praktis oleh masyarakat Muslim. Fikih merupakan sebuah kajian yang memuat tentang hukum Islam, mulai dari bersuci, ibadah, perdata, pidana dan lain sebagainya. Melihat pentingnya fikih, banyak sekali naskah-naskah fikih yang ditemukan di surau-surau Minangkabau.

Sejak berkembangnya Islam di Minangkabau, masyarakat Minangkabau menganut mazhab Syafi’i. Hal demikian terlihat jelas dari ideologi hukum yang berkembang dan kitab-kitab fikih yang tersebar di Minangkabau. Dalam naskah-naskah fikih, abad ke 17 dan 18 M yang terdapat di Minangkabau, semuanya adalah kitab-kitab dari ulama Syafi’iyah seperti Minhaj at-Thalibin, Tuhfah al-Muhtaj dan Nihayah maupun pembahasan fikih lokal yaitu naskah fikih berbahasa Melayu.

Berdasarkan dinamika di atas dapat diketahui bahwa pada proses perkembangan Islam di Minangkabau abad 17 dan 18 M dari segi mazhab fikih Minangkabau menganut mazhab Syafi’i dengan memfokuskan pengajaran dan pengetahuan kepada mazhab Syafi’i saja. Namun, kemudian penulis menemukan sebuah naskah dengan judul Minhaj al-‘A’immah yang merupakan sebuah kitab yang ditulis oleh seorang pribumi Minangkabau.

Kitab ini berisikan tentang kajian fikih lengkap, akan tetapi kitab ini tidak memuat satu pandangan mazhab saja melainkan pandangan dari 4 mazhab yaitu Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali. Naskah ini ditulis oleh seseorang yang menyebut dirinya Fakih yang bersal dari Limau manis. Naskah ini ditulis untuk memenuhi permintaan seseorang kepada fakih tersebut. Hal tersebut dapat dilihat pada kolofon di bawah ini:
“Tamat al-kalam fi kitab minhaj al-‘a immah fi waqt al-‘isya fi lailah al-khamis fi sannah za fi syahr al-muharam hadza al-maktub faqir al-haqir artinya nan menyurat ini Faqih di Limau Manis tatkala duduk istirahat al-khair dalam Negri Bayang di suruh Tuanku di Jambak, tatkala itulah kekalnya kitab ini ke Limau Manis sebuah kepada dusun Batu Bajanjang sebuah ini nan mengarang urang Batu Bajanjang nan Faqih di Limau Manis tatkala berbual-bual dalam Negri Bayang”

Pada keterangan di atas, kitab ini ditulis ketika fakih itu sedang berada atau memiliki kepentingan di sebuah daerah yang bernama Bayang sebuah daerah di Pesisir Selatan. Naskah ini memiliki kurang lebih 500 halaman, dengan bahasa Arab, kertas Eropa yang memiliki Watermarkh Propatria. Sebuah kertas yang dibuat akhir abad 18 M. Berdasarkan hal ini dapat diketahui bahwa ini adalah bukti satu-satunya hingga saat sekarang ini bahwa pengetahuan tentang fikih 4 mazhab telah menjadi acuan intelektual di Minangkabau, meskipun secara umum naskah yang terdapat di Minangkabau berdasarkan mazhab Syafi’i saja.

Baca Juga :  Ini Pendapat Empat Mazhab Soal Kapan Menikah Jadi Wajib

Naskah ini juga menjadi bukti bahwa pengetahuan tentang mazhab lain juga diajarkan dan dipelajari di Minangkabau saat itu, walaupun belum ditemukannya naskah-naskah fikih dari mazhab lain selain Syafi’i. Selain keunikannya yang membahas tentang fikih dari pandangan imam 4 mazhab, naskah ini juga menyajikan sanad keilmuan imam 4 mazhab ini secara detil hingga samapai kepada Allah Swt.

Abu Hanifah belajar kepada Atha’, Atha, belajar kepada Nabi dan Nabi belajar kepada Jibril. Sementara itu, Malik belajar kepada Nafi’, Nafi’ belajar kepada Ibnu Umar lalu Ibnu Umar belajar kepada Nabi dan Nabi kepada Jibril. Setelah itu, pengarang kitab ini juga menulis sanad Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal.  Syafi’i belajar kepada Malik, Malik kepada Nafi’ dan seterusnya sampai kepada Jibril. Sementara Ahamad bin Hanbal belajar kepada Imam Syafi’i dan seterusnya kepada Jibril kemudian Jibril kepada Mikail, Mikail kepada Israfil, Israfil dari laul Mahfuz, laul Mahfuz dari Qalam, Qalam dari Malik al-Muwakil, Malik al-Muwakil dari Allah.

1 KOMENTAR

  1. Apakah naskah ini sudah digandakan atau ditulis ulang? Sangat menarik pastinya ulama Nusantara menulis fiqih 4 Madzhab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here