Menurut Habib Umar, Istikamah Baca Kasidah Burdah Dipermudah Mimpi Bertemu Rasulullah

2
2168

BincangSyariah.Com – Menurut Syed Mohiuddin Qadri, kasidah Burdah (karya Imam al-Buṣiri ra.) banyak disyarahi oleh beberapa ulama ternama, seperti Ibn Abi Hajala al-Tilimsani, Ibn Marzuq al-Tilimsani, Badruddin al-Zarkasyi, Jalaluddin al-Maḥalli, Jalaluddin as-Suyuṭi, Syihabuddin al-Qastallani, Zakariya al-Anṣari, Ibn Ḥajar al-Ḥaytami, ‘Abdul Qadir bin al-‘Aydarus, Nuruddin al-Ḥalabi, Ibrahim al-Bajuri al-Azhari (Qasidat al-Burda, 2008: 8). Selain itu, Syekh Ibn Maqlasy al-Wahrani dan Syekh Yusuf bin Isma‘il an-Nabhani juga tidak ketinggalan mensyarahi kasidah Burdah. (Baca: Sejarah Kasidah Burdah; Ditulis untuk Obati Lumpuh).

Selain itu, Syed Qadri menyebutkan bahwa kasidah Burdah ini diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, seperti Latin (1761); Inggris oleh J.W. Redhouse (1881), Faizlullah-Bhai (1893), Arthur Jefferey (1962), Stefan Sperl (1996), dan Hamza Yusuf (2005); Prancis oleh de Sacy (1822), Rene Basset (1894), dan Hamza Boubakeur (1980); Italia oleh Giuseppe Gabrieli (1901); dan Jerman oleh Vincenz von Rosenzweig-Schwanau (1824), C.A. Ralfs (1860), dan Uwe Topper (1991). Bahkan gubahan syair itu juga diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa lokal, seperti Afrika, Asia Tenggara, dan Balkan (Qasidat al-Burda, 2008: 8).

Dalam cover belakang kitab Burdah al-Madiḥ al-Musammah al-Kawakib ad-Durriyah fî Madḥ Khair al-Bariyyah yang disyarahi oleh Syekh Yusuf bin Isma‘il an-Nabhani (penerbit Dâr al-Ḥadis al-Kittaniyyah, Maroko dan Libanon) disebutkan bahwa beberapa ulama yang menerima dan meriwayatkan kasidah Burdah adalah:

al-Imam al-Ḥafiẓ Abu Ḥayyan al-Andalusi, al-Imam al-Ḥafiẓ Ibn Sayyid an-Nas, al-Ḥafiẓ ar-Raḥḥalah Ibn Jâbir at-Tunisi, Ḥafiẓ al-Waqt az-Zain al-‘Iraqi, al-Imam Ibn al-Mulaqqin, Sirajuddîn al-Bulqini, al-Fairuzabadi, Imam al-Ḥuffaẓ ibn Ḥajar al-‘Asqalani, al-Ḥafiẓ Taqiyuddin al-Fasi, Syaikh al-Islam Zakariya al-Anṣari, al-Imam asy-Syamsuddin as-Sakhawi, al-Imam al-Jalaluddin as-Suyuṭi, dan ulama-ulama lain. Sehingga sampai sekarang kasidah Burdah selalu menghiasi perkumpulan (majelis) orang-orang saleh dan para pecinta Rasulullah saw.

Sementara dalam pengantar Burdah al-Madi(penerbit Dar al-Ḥadiś al-Kittaniyyah) disebutkan bahwa kasidah Burdah memiliki beberapa inti sari dan faedah. Ia mujarab untuk tercapainya keinginan dan kepentingan serta menghilangkan kesusahan-kesusahan.

Oleh karena itu, kasidah Burdah ini menjadi salah satu wirid sebagian orang-orang saleh yang tersebar di sebagian besar negara-neraga Muslim. Mereka membacanya sebanyak mungkin terutama sekali ketika malam Jumaat.

Selain itu, mereka juga memberikan perhatian khusus kepada anak-anak mereka agar cinta kepada kasidah Burdah. Sejak kecil mereka sudah dididik dan dilatih untuk membaca kasidah Burdah. Sehingga mereka mendapatkan beberapa manfaat dan keuntungan yang banyak, baik mengenai urusan keagamaan maupun keduniaan (hlm. 1). (Bacaan Shalawat untuk Mimpi Bertemu Rasulullah)

Dalam kesempatan lain Sayyidil Habib Umar bin Hafiz dalam kitab Magnaṭis al-Qabul fî al-Wuṣul ila Ru’yah Sayyidina ar-Rasul Muḥammad Ṣallallah ‘alaih wa Sallam karya Ḥasan Muḥammad Syaddad (hlm. 83) menyebutkan bahwa salah satu cara agar bermimpi Rasulullah saw. adalah memperbanyak baca kasidah Burdah yang setiap baitnya diikuti dengan membaca salawat:

مَوْلاَيَ صَلِّ وَسَلِّمْ دَائِماً أَبَدًا # عَلَى حَبِيْبِكَ خَيْرِ الْخَلْقِ كُلِّهِمِ

Akhirnya, selamat mencoba dan bercinta dengan Rasulullah saw. melalui untaian indah kasidah Burdah yang diberkahi, buah karya Imam al-Buṣiri ra. Wa Allah A‘lam wa A‘lâ wa Aḥkam…

2 KOMENTAR

  1. […] Adapun tabarrukan dengan bekas (sesuatu yang berhubungan dengan) Rasulullah saw. yang disyariatkan Islam adalah: air wudu Nabi saw., ludah dan dahaknya, darahnya, rambutnya, sisa air dan makanannya, kukunya, pakaian dan bejananya, sesuatu yang pernah disentuh Nabi saw. dan tempat yang pernah digunakan Nabi saw. melaksanakan salat. Beberapa hal ini didasarkan kepada beberapa hadis dan praktik beberapa sahabat. Sehingga para ulama sepakat bahwa tabarrukan dengan bekas Rasulullah saw. adalah disyariatkan dalam Islam (hlm. 70-74). (Baca: Menurut Habib Umar, Istikamah Baca Kasidah Burdah Dipermudah Mimpi Bertemu Rasulullah) […]

  2. […] Metode dakwah yang berbasis nilai dan ajaran Tharaiqah Alawiyah tersebut menjadi kurikulum standar di Darul Mustafa, pesantren yang beliau dirikan sejak tahun 1993. Almarhum Al Habib Munzir Al-Musawa, pendiri Majelis Rasullulah, merupakan lulusan angkatan pertama Darul Mustafa, yang memiliki banyak pengikut dan diminati oleh kaum remaja. (Baca: Menurut Habib Umar, Istikamah Baca Kasidah Burdah Dipermudah Mimpi Bertemu Rasulullah) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here