Mewujudkan Universalitas Ajaran Islam dengan Konsep Maqashid Syariah Jasser Audah

0
406

BincangSyariah.Com – Kami secara pribadi melihat ada beberapa tema kontroversial yang sempat dibahas oleh Jaser Audah dalam buku berjudul Dalilun Lil Mubtadi’ ini yang berpeluang besar untuk disalahpahami oleh sebagian kalangan, khususnya dalam konsep maqashid syariah sebagai landasan bersama antar mazhab dan antar umat beragama.

Kendati demikian, apa yang ditulis dalam buku ini masih membuka peluang untuk didiskusikan lebih lanjut, seperti apa standar dan batasan-batasan maslahah dalam teori maqashid syariah perspektif Jaser Audah sehingga dapat dibedakan dengan teori-teori maqashid syariah lain yang cendrung liberal dan sembrono dalam penerapannya.

Maqashid Syariah Sebagai Landasan Bersama Antar Mazhab Islami

Perpecahan umat Islam yang disebabkan oleh perbedaan di bidang interpretasi hukum Islam telah terjadi dari dulu hingga sekarang. Yang paling parah adalah perpecahan yang terjadi antara Sunni dengan kelompok Syiah yang sering dilihat sebagai perpecahan politik yang berakhir dalam permazhaban. Sehingga dapat disimpulkan bahwa perbedaan yang mencolok di antara keduanya, baik pada masa lalu maupun sekarang, bukanlah pada ranah akidah, melainkan pada ranah politik. Bahkan perpecahan tersebut telah menjalar ke ranah peradilan, peribadatan dalam masjid, dan interaksi sosial keseharian. Sehingga perpecahan itu berkembang dan pada akhirnya menjadi konflik berdarah di sejumlah negara.

Di lain hal, Jaser Audah telah melakukan sebuah survei terhadap studi-studi maqashid syariah yang ditulis oleh sejumlah tokoh dari kalangan Sunni maupun Syiah dan berkesimpulan bahwa terdapat kesamaan antara pendekatan Sunni dan Syiah terhadap maqashid syariah. Justru sebagian besar perbedaan antara fikih Sunni dan Syiah dapat dikembalikan kepada perbedaan pandangan mengenai narasi dan aturan praktis yang jumlah relatif sedikit. Sementara itu pendekatan maqashid syariahterhadap kajian fikih adalah bersifat holistik yang tidak membatasi diri dengan narasi atau pendapat tertentu, melainkan selalu merujuk kepada prinsip-prinsip umum dan dasar-dasar bersama.

Dalam hal ini Jaser Audah menegaskan bahwa menerapkan tujuan-tujuan utama persatuan dan rekonsiliasi umat Islam lebih berprioritas ketimbang penerapan detail-detail fikih. Senada dengan itu, Ayatullah Mahdi Syamsuddin juga melarang provokasi antara Sunni dan Syiah berdasarkan tujuan tertinggi, terutama rekonsiliasi, persatuan, dan keadilan. Akhirnya, sebuah pendekatan maqashid syariahmenarik isu-isu fikih kepada tingkatan filosofis yang lebih tinggi, sehingga dapat menjembatani perbedaan-perbedaan mengenai sejarah politik Islam dan mendukung terciptanya budaya konsiliasi dan hidup berdampingan secara damai dan sejahtera.

Maqashid Syariah Sebagai Landasan Dialog Antar Kepercayaan

Teologi Sistematik (Systematic Theology) merupakan sebuah pendekatan terhadap kajian agama atau sistem kepercayaan tertentu yang berusaha untuk memotret gambaran yang menyeluruh tentang agama atau sistem tersebut. Pendekatan ini mengkaji semua aspek yang berkaitan dengan agama atau kepercayaan, sejarah, filsafat, ilmu pengetahuan dan akhlak demi mencapai sebuah pandangan filosofis yang holistik tentang agama atau kepercayaan. Pendekatan itu semakin populer khususnya dalam kajian teologi Kristen dengan segala variasi golongannya. Teologi Sistematik menggunakan sebuah metode induksi yang berimplikasi terhadap pengelompokan, klasifikasi, dan integrasi dari fakta-fakta yang kelihatannya tidak berkaitan menuju kesimpulan keterkaitan antar fakta tersebut dengan ide-ide utama dan intisari-intisari logis tentang ajaran agama tersebut.

Teologi Sistematik ini memiliki banyak kesamaan praktis dengan pendekatan maqashid syariah dalam ilmu keislaman. Keduanya menerapkan konsep interpretasi ulang untuk membangun asas-asas dinamisme dan fleksibilitas dalam menyikapi perubahan zaman dan pandangan hidup yang dialami orang-orang beriman tanpa harus berkompromi dengan komitmen dasar mereka terhadap kitab suci yang mereka imani. Salah satu contoh titik kesamaan antara keduanya adalah dari segi rumusan perlindungan ataupun pelestarian yang diusahakan oleh masing-masingnya, yaitu terhadap agama, nyawa, harta, akal, dan keturunan dalam pendekatan maqashid syariah dan perlindungan terhadap kehidupan, kesehatan, dan nyawa dengan melarang kebiasaan mabuk-mabukan dalam pendekatan Teologi Sistematik.

Keberadaan maqashid syariah dalam hal ini dapat dipahami sebagai pandangan teologi holistik yang memungkinkan para teolog untuk menempatkan ajaran-ajaran dan arahan-arahan agama dalam satu kesatuan yang terdiri dari prinsip-prinsip dan tujuan-tujuan utama yang mendasari ajaran dan arahan tersebut. Sehinggga fokus keberagaman akan tertuju kepada prinsip dan tujuan utama ketimbang pemahaman terhadap satu persatu teks secara terpisah dan atau aplikasi harfiah teks-teks tersebut. Pengkajian agama yang terarah oleh tujuan-tujuan utama agama tersebut (maqashid syariah) dapat mendukung dialog antar iman melalui fokusnya pada kesamaan ketimbang perbedaan. Pada akhirnya nilai-nilai moral yang mendasari bermacam-macam ajaran dan arahan agama yang berbeda tidak akan tampak berbeda jauh sehingga, sekali lagi, dapat memainkan peran yang signifikan pada dialog dan saling memahami antar sistem kepercayaan.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here