Metodologi Penulisan Kitab Shahih al-Bukhari, Ingin Tahu?

1
1032
“Selama enam belas tahun Aku menyusun kitab Jāmi’ (Shahih al-Bukhari) ini. Ia berisi enam ratus ribu hadis.”

BincangSyariah.Com – Imam al-Bukhari, yang sering-sering disebut sebagai imamnya para ahli hadis, memiliki nama lengkap Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ismā’il bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Ju’fī. Beliau dilahirkan di Bukhara pada tahun 194 H selepas shalat jum’at 13 Syawal. Perjalanannya mencari hadis sangat panjang, berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lainnya, sebagaimana penuturannya sendiri, seperti dikutip oleh Muhammad Abu Zahwu dalam al-Hadīts wa al-Muhadditsūn (h. 354),

“Aku memasuki Syam, Mesir, al-Jazirah sebanyak 2 kali, dan Bashrah 4 kali, kemudian aku tinggal di Hijaz selama 6 tahun, dan aku tidak menghitung berapa kali aku memasuki Kufah dan Baghdad Bersama para Muhaddits. beliau wafat pada malam jumat yang sekaligus malam Idul Fitri tahun 256 H.”

Imam An-Nawawi dalam kitabnya yang sangat terkenal, Arba’īn an-Nawawi, menyebut dalam hadis pertama yang ia kutip, yaitu tentang niat, tentang kedudukan dua kitab, Shahīh al-Bukhāri dan Shahīh Muslim. Adapun redaksinya,

رواه إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري وابو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة

Telah meriwayatkan hadis itu, dua imam para ahli hadits, yaitu Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ismā’il bin Ibrāhim bin al-Mughirāh bin Bardizbah al-Bukhāri dan Abu al-Husain Muslim bin al-Hajjāj bin Muslim al-Qusyairi an-Naisāburi di dalam kedua kitab Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang.

Dalam redaksi yang disebutkan di kitab Arba’in terdapat dua kitab yang paling shahih setelah Al-Qur`an, Shahīh al-Bukhāri dan Shahīh Muslim, kemudian jika kedua kitab tersebut dibandingkan maka Shahīh al-Bukhāri adalah yang paling shahih.

Baca Juga :  Kisah Imam As-Syafii Hijrah untuk Mengejar Cita-citanya

Menurut Dr. Muhammad Mubarak as-Sayyid dalam bukunya Manāhij al-Muhadditsīn (h. 113), ada beberapa faktor yang menjadikan kitab Imam al-Bukhari sebagai kitab yang hadis-hadisnya paling shahih. Diantaranya adalah beliau tidak meriwayatkan hadis kecuali dari seorang perawi (yang meriwayatkan hadis) yang dikenal ‘adl (adil, menjalankan ajaran-ajaran agama) dan dhabith (memiliki ingatan yang kuat).

Selain itu, Imam al-Bukhari memiliki dua syarat yang sangat ketat untuk mengatakan seorang perawi kredibel, yaitu mu’āsharah dan liqā`. Mu’āsharah adalah si perawi hadis dan orang yang ia ambil periwayatannya harus semasa. Liqā` adalah bertemunya si perawi hadis dengan orang yang ia ambil periwayatannya secara pasti, bukan bersifat kemungkinan (imkān). Sebagai perbandingan, syarat itu lebih ketat dengan yang ditetapkan Imam Muslim bin Hajjaj an-Naisaburi (w. 261 H), penulis kitab Shahih Muslim, yang hanya menyaratkan mu’āsharah. Adapun dalam persoalan liqā` beliau tidak mensyaratkan tsubūt al-liqā` atau bertemu secara pasti, namun hanya imkān al-liqā`, bertemu secara kemungkinan saja. Sehingga berdasarkan syarat tersebut mu’āsharah dianggap sudah menjamin kemungkinan bertemu antara satu perawi dengan dengan yang lain.

Nama Asli dan Metode Penyusunan Shahih al-Bukhari

Imam al-Bukhāri memberi nama kitabnya dengan, al-Jāmi’ ash-Shahīh al-Musnad al-Mukhtashar min Hadits Rosūlillah wa Sunanihi wa Ayyāmihi. Jika diterjemahkan, maka maknanya adalah kitab Jāmi’ (yang mencakup berbagai pembahasan) yang shahih yang bersambung (kepada Rasulullah) yang ringkas dari hadis Rasulullah dan sunnah-sunnahnya serta keseharian Rasulullah. Dapat kita bayangkan seringkas-ringkasnya kitab beliau, tetap saja terasa berat melebihi kitab hadis induk lainnya.

Namun perlu diketahui, yang dimaksud dengan “meringkas hadis-hadis dalam penyusunan kitabnya”, adalah memberikan istinbath kesimpulan hukum dan istidlal atau pengambilan dalil dalam hadis tersebut. Maka tak perlu heran jika kita mendapati dalam kitab ini judul bab namun tak ada hadisnya, atau hadisnya mu’allaq (tidak memiliki sanad secara lengkap dan tersambung). Dalam kasus tersebut, menurut Ibnu Hajar al-‘Asqallani dalam Hadyu as-Sāri (h. 6), Imam al-Bukhari sebenarnya ingin menyampaikan suatu kesimpulan hukum dalam hadis. Hanya saja sanad atau hadisnya telah disebutkan di bab sebelumnya. Terkadang, bisa juga dalam satu bab isinya hanya ayat saja yang menunjukkan kepada hukum yang Imam al-Bukari hendak sampaikan.

Baca Juga :  Macam-macam Ijma’ dan Kekuataannya Sebagai Hukum Islam

Kisah Dibalik Penulis dan Pujian Ulama Terhadap Shahih al-Bukhari

Terdapat beberapa kisah menarik mengenai kitab Shahīh al-Bukhāri dari mulai disusun hingga dibaca oleh orang banyak. Hal tersebut sebagaimana yang diceritakan oleh Imam Ibnu Hajar, Imam al-Bukhāri pernah menceritakan, “Aku menyusun kitabku al-Jāmi’ ini di Masjid al-Haram (Mekkah), dan aku tidak memasukkan hadis ke dalam kitabku kecuali aku telah beristikharah dan shalat dua rakaat kemudian aku yakin akan keshahihannya. Al-Farīrī berkata, “Aku bermimpi bertemu Nabi SAW dalam tidur, Beliau berkata kepadaku,

“Kamu mau kemana?”

“Aku mau menemui Muhammad bin Isma’il (Imam al-Bukhari).”

“Sampaikanlah salamku kepadanya.” Kata Baginda Rasulullah SAW.

Kealiman beliau di bidang hadis begitu mendalam sehingga begitu banyak riwayat yang menyebutkan keutamaan beliau. Imam Muhammad bin Yusuf Al Farbariy mengatakan, aku mendengar dari Najm bin Fudhail berkata, “aku bermimpi melihat Rasulullah SAW dan kulihat Imam Bukhari dibelakang beliau. Setiap Rasulullah SAW melangkah, Imam Bukhari melangkah pula, dan menaruhkan kakinya tepat dibekas pijakan Nabi SAW.”

Kealiman Imam al-Bukhari juga pernah disebutkan diantara oleh Habib Munzir al-Musawa dalam buku Kenalilah Akidahmu (h. 20). Bahwa Pernah diceritakan kepada Imam Bukhari bahwa terdapat di suatu wilayah jika ada orang asing yang datang ke wilayah mereka maka setelah orang asing tersebut melaksanakan shalat penduduk setempat akan mengujinnya dengan hadits-hadits tentang shalat. Mendengar demikian, Imam Bukhari berkata: “Bila aku diperlakukan seperti itu, akan kukeluarkan 10.000 hadits shahih mengenai shalat dihadapan mereka, supaya mereka bertaubat dan tidak lagi mengulangi perbuatan buruk itu.”

Terdapat kisah mimpi lain, seperti dikutip Ibn Hajar dalam Hadyu as-Sari (h. 345). Abu Zaid al-Marwazi, seorang ulama besar ahli fikih. Beliau bercerita, “Suatu ketika, saya tertidur pada sebuah tempat (dekat Ka’bah) di antara Rukun Yamani dan Maqam Ibrahim. Di dalam tidur, saya bermimpi melihat Nabi SAW. Beliau berkata kepada saya,

 “Hai Abu Zaid, sampai kapan engkau mempelajari kitab Imam as-Syafi’i, sementara engkau tidak mempelajari kitabku?”

Saya berkata,

Baca Juga :  Abu al-'Arab At-Tamimi Al-Qayrawani: Ulama Hadis dari Tunisia

“Wahai Baginda Rasulullah, kitab apa yang Baginda maksud?”

Rasulullah menjawab, “Kitab Jāmi’ karya Muhammad bin Isma’il’

Wallahu a’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here