Metodologi Penafsiran Tafsir Ibn Katsir

0
20

BincangSyariah.Com – Karya tulis milik al-Imam Ibn Katsir (baca biografi lengkap Ibn Katsir) yang paling terkenal ialah kitab Tafsir al-Qur`an al-‘Adzim yang lebih dikenal dengan nama Tafsir Ibn Katsir. Jika ditelaah secara mendalam, metodologi penafsiran Tafsir Ibn Katsir ini menggunakan gaya yang mirip dengan Tafsir Ibn Jarir At-Thabari (dengan nama aslinya, Jaami’ al-Bayaan fii Ta’wil Aayi al-Qur’an).  kitab tafsir ini menggunakan gaya yang sama seperti Tafsir Ibnu Jarir al-Thabari dan termasuk dalam kategori tafsir bi al-ma’tsur, yakni menafsirkan Alquran dengan Alquran, juga dengan hadits berikut studi sanad dan matannya.

Sistematika yang ditempuh Ibn Katsir dalam menulis kitab tafsirnya ialah dengan menafsirkan seluruh ayat-ayat Al-Quran sesuai susunannya dalam mushaf Alquran. Yaitu, ayat demi ayat dan surat demi surat. Ibn Katsir memulai dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat al-Nās. Dengan demikian, secara sistematika, tafsir ini menulis dengan mengikuti urutan surat dalam mushaf (at-tartib al-mushafi).

Kelompok Ayat: Berperan Menemukan Munasabah antar Ayat

Ibn Katsir mengawali penafsirannya dengan menyajikan sekelompok ayat yang berurutan, yang dianggap berkaitan dan berhubungan dalam tema kecil. Cara ini tergolong merupakan model baru pada masa itu. Pada masa sebelumnya atau semasa dengan Ibn Katsir, para mufassir kebanyakan menafsirkan kata perkata atau kalimat per kalimat.

Penafsiran berkelompok ayat ini membawa pemahaman pada adanya munasabah ayat (kesinambungan ayat) dalam setiap kelompok ayat tersebut menurut tartib mushafi. Dengan sistematika semacam ini, akan diketahui adanya integrasi pembahasan Al-Quran dalam satu tema kecil yang dihasilkan kelompok ayat yang mengandung hubungan antar ayat-ayat Alquran, sehingga mempermudah seseorang dalam memahami kandungannya secara holistik.

Keutamaan yang paling penting dari model penafsiran demikian adalah terhindar dari penafsiran secara parsial yang bisa keluar dari maksud utama dari ayat-ayat Al-Quran. Penggunakan cara semacam ini menjadi petunjuk bahwa Imam Ibnu Katsir memiliki kedalaman pemahaman terhadap ayat-ayat Alquran secara utuh.

Metode Tafsir Tahlili: Lapisan Pemahaman Ayat per Ayat

Secara metodologis, Imam Ibnu Katsir menggunakan metode tahlili, yakni suatu metode tafsir yang bermaksud menjelaskan kandungan ayat-ayat Alquran beserta seluruh aspeknya. Mufassir mengikuti susunan ayat sesuai tartib mushafi, mengemukakan arti kosa kata, penjelasan arti global ayat, mengemukakan munasabah, membahas sabab al-nuzul (lihat penjelasan tentang sabab/asbab an-nuzul) disertai hadits Nabi, pendapat sahabat, tabi’in dan pendapat penafsir lainnya. Tidak jarang, Ibnu Katsir juga menambahkan penjelasan tentang latar belakang pendidikan mufassir yang ia kutip pendapatnya.

Terkait dengan metode tahlili dalam penafsiran Al-Quran, para pakar memiliki sejumlah penjelasan terkait maksud dari metode tahlili.

  1. M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa metode tafsir tahlili merupakan suatu bentuk tafsir yang berusaha menjelaskan kandungan ayat-ayat Alquran dari berbagai sisi dengan memperhatikan runtutan ayat-ayat Alquran sebagaimana tercantum dalam mushaf.
  2. Muhammad Baqir al-Shadr menamai Metode Tafsir Tahlili sebagai Metode Tajzi’iy, yaitu metode tafsir yang berusaha menjelaskan kandungan ayat-ayat Alquran dari berbagai segi dengan memerhatikan susunan surat dan ayat Alquran.
  3. Abdul Hayy al-Farmawi menyatakan bahwa Tafsir Tahlili ialah suatu metode tafsir yang bermaksud menjelaskan kandungan  ayat-ayat Alquran dari seluruh aspeknya.

Pada tataran cara kerjanya, Metode Tafsir Tahlili menganalisis dari sisi bahasa, (al-lughah), sebab-sebab turun ayat (al-asbab al-anuzul), hubungan antar ayat, nasikh mansukh, perkembangan kebudayaan generasi  nabi dan sahabat maupun tabi’in. Di samping itu, khusus lainnya yang kesemuanya ditujukan untuk memahami kandungan Alquran.

Dengan demikian, apa yang dilakukan oleh Ibn Katsir dalam kitab tafsirnya merupakan sebuah upaya untuk menarik isi kandungan teks Alquran dengan cara menganalisa dari berbagai sisi dengan acuan utama berupa Alquran, hadits, pendapat sahabat serta pendapat para mufassir lainnya. Untuk persoalan tata bahasa, apabila dirasa perlu untuk dibahas, maka akan dibahas oleh Ibnu Katsir.

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here