Metodologi Kritik Hadis Menurut K.H. Ali Mustafa Yaqub

0
303

BincangSyariah.Com – Mahmūd al-Ṭaḥḥān, Guru Besar Ilmu Hadis Universitas Islam Imam Muhammad bin Saūd, Riyadh, mendefinisikan ilmu Muṣtalah Hadis sebagai berikut: “Ilmu tentang pokok-pokok dan kaidah-kaidah untuk mengetahui keadaan sanad dan matan hadis, dari segi diterima atau ditolak.”

Definisi ini memberikan kesan bahwa yang menjadi objek penelitian dalam ilmu hadis adalah matan dan sanad Hadis. Ibn al-Ṣalāh (w. 643 H.) dalam kitabnya Muqaddimah Ibn al-Ṣalāh membagi ilmu hadis menjadi 65 nau’ (macam), yang semuanya lebih fokus membahas tentang ilmu sanad dan matan saja, hanya bab al-Nāsikh wa al-Mansūkh, dan Ikhtilāf al-Ḥadīth yang sudah masuk pada metode memahami hadis.

Sementara al-Ṭaḥḥān juga menyusun kitab Tasīr Musṭalaḥ al-Ḥadīts yang mengikuti metode Ibn al-Ṣalāḥ, sehingga definisinya tadi lebih mengedepankan aspek-aspek yang berkaitan dengan matan dan sanad saja.

Hal inilah yang kemudian membuka kritikan para ilmuwan kontemporer bahwa ulama hadis klasik maupun modern hanya berkutat pada matan dan sanad saja, bahkan pada sanad saja. Di antaranya adalah Ignaz Goldziher dalam bukunya Muhammadanische Studien, Joseph Schacht dalam bukunya The Origins of Muhammadan Jurisprudence, Ahmad Amin dalam bukunya Fajr al-Islām, Maurice Bucaille dalam bukunya Bible, Qur’an dan Sains Modern, dan Muhammad al-Ghazalī dalam bukunya al-Sunnah al-Nabawiyyah baina Ahl al-Ḥadīts wa Ahl alFiqh.

Mereka menuduh hadis bukanlah asli dari Nabi Muhammad Saw. melainkan bikinan ulama Abad Kedua Hijriyah. Dan menurut mereka, matan hadis harus dikritik juga melalui pendekatan sains, politik, dan sejarah.

Sehingga banyak hadis-hadis di dalam kitab Ṣaḥīḥ al-Bukhārī mereka nyatakan palsu setelah digunakan pendekatan sains, politik dan sejarah dalam meneliti matan-matan hadisnya. Padahal kitab Ṣaḥīḥ al Bukhārī adalah kitab yang dipercaya umat Islam paling otentik setelah Alquran, apalagi kitab hadis lainnya dan jika umat Islam tidak percaya lagi dengan hadis, maka robohlah satu pilar agama Islam.

Baca Juga :  Sahabat Nabi yang Berbuka Puasa dengan Hubungan Intim

Sementara teori-teori para orientalis yang mengingkari al-Sunnah telah diruntuhkan oleh ulama-ulama ahli hadis kontemporer seperti Muṣṭafā Aẓāmī melalui karyanya “Studies in Early Hadith Literature,”26 Muṣṭafā al-Sibā‟ī dengan karyanya al-Sunnah wa Makānatuhā fī al-Tasyrī‟ al-Islāmī 27 dan Muhammad Ajjāj al-Khaṭīb dengan karyanya “al-Sunnah Qabla al-Tadwīn”.

Melihat kondisi kajian hadis seperti itu, menurut Ali Mustafa, studi hadis kontemporer harus komperehensif terdiri atas empat komponen. Pertama, Muṣṭalaḥ al Ḥadīts; Kedua, Takhrij Hadis dan Studi Sanad; Ketiga, Metode Memahami Hadis; dan keempat, Difā’an al-Ḥadīts (mempertahankan hadis).

Masing-masing dari empat komponen ini memiliki wilayah penelitian sendiri, kendati saling berkaitan. Wilayah penelitian Mustalah al-Hadits adalah seperti yang didefinisikan Mahmud al-Ṭaḥḥān tadi, yaitu matan dan sanad dari segi diterima dan ditolak.

Sementara itu, takhrij dan studi sanad, wilayah penelitiannya lebih menukik kepada penggalian hadis ditambah sanadnya, baik dari sisi kredibilitas rawi-rawinya maupun kesinambungannya kepada sumber hadis, yaitu Nabi Muhammad Saw.

Metode memahami hadis lebih menekankan pada penelitian tentang maksud atau sasaran hadis (tekstual dan kontekstual), tematik hadis dan kontradiksi hadis. Adapun difā’an al-hadīts menekankan penelitiannya pada sumber-sumber atau argumentasi para penentang hadis baik dari kelompok pengingkar hadis maupun kelompok orientalis.

Empat komponen studi hadis tersebut menurut Ali Mustafa adalah satu kesatuan yang tidak boleh dipisah-pisahkan. Bahkan baginya pemisahan empat komponen ini justru akan menimbulkan pemahaman yang kontradiktif, misalnya ekslusifme, fanatisme bahkan terorisme. Sementara dalam pengajaran Ilmu Hadis, Ali Mustafa memberikan gambaran mekanisme waktunya.

Empat komponen tersebut dapat diintegrasikan dalam tiga semester dengan menggabungkan Mustalah al-Hadis dengan Difā’ an al-Hadis dalam satu semester. Sedangkan Takhrīj wa Dirāsah Asānīd dalam satu semester begitu pula Metode Pemahaman Hadis dalam satu semester.

Baca Juga :  Akibat Meremehkan Hal Sepele

Menurut Ali Mustafa, apabila metode pengajaran ilmu hadis tersebut dapat diterapkan, maka pada masa mendatang ia mengharapkan akan lahir para ahli hadis yang tidak hanya mampu menyeleksi hadis shahih dari hadis yang tidak shahih, tetapi juga mampu mempertahankan eksistensi hadis dan memahami hadis dengan pemahaman yang benar.

Pemikiran Ali Mustafa tersebut tidak hanya sekadar wacana. Tetapi ia terapkan di dalam kurikulum pesantren takhassus hadis Darus Sunnah yang didirikannya. Dengan harapan mahasantri-mahasantri jebolan Darus Sunnah menjadi aset berharga ulama hadis di Indonesia yang dapat ikut andil dalam mengajarkan hadis dengan pemahaman yang benar. Wa Allahu A’lam bis Shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here