Mereguk Cinta Ilahi dalam Tasawuf Rumi

0
5616

BincangSyariah.Com – Jalaluddin Rumi adalah tokoh sufi yang terkenal melalui ajaran sufinya yang lahir dari metamorfosa cinta sang hamba kepada Tuhannya atau dikenal dengan Mistikus Cinta.

Berbagai karyanya banyak memperkenalkan tentang jalan cinta, seperti Matsnawi, Fihi ma fihi, Maktubat dan beberapa karya lainnya seperti Diwani Syamsi Tabrizi yang berisi syair-syair religius penuh cinta.

Puisi adalah salah satu sarana yang biasa digunakan oleh para sufi untuk mengungkapkan keadaan batin mereka. Para sufi yang biasa melakukan hal tersebut adalah Rabiah al Adawiyah, Yahya ibn Mu’adzal, Razi al Halaj, Umar ibn al Farid dan Jalaluddin Rumi. Jalaluddin Rumi dan Umar ibn al Farid berpendapat bahwa puisi adalah sarana paling tepat untuk mengungkapkan realitas secara sentimental.

Sungguh banyak orang yang terkesima dengan bait-bait puisi Jalaluddin Rumi, yang di dalamnya selalu terajut mahabbah, bagai lautan yang tidak bertepi dalam diwan-diwannya.

Dengan puisi, ia mampu mengungkapkan kedalaman cinta dalam religiusitas seorang hamba yang bagai tak berdasar, seperti terbang tinggi menerobos langit-langit tanpa atap.

Di antara puisinya yang fenomenal adalah sebagai berikut:

Cinta bagaikan sayap
dengannya manusia terbang di angkasa
menggerakkan ikan menuju jala sang nelayan
menghantar si kaya meraih bintang di langit ketujuh
Cinta berjalan di gunung maka gunung pun bergoyang menari
(Jalaluddin Rumi: 1707)

Mistis sufi dalam ajaran Rumi yang disampaikan lewat konsep cinta merupakan jalan untuk sampai pada kesempurnaan. Ia merupakan jalan membersihkan diri sehingga bisa mengantarkan manusia sampai pada Tuhannya.

Rumi metaforkan cinta seperti sayap, agar dapat terbang tinggi menemui Tuhannya. Dengan terbang tinggi manusia bisa melampaui rute-rute darat yang cukup rumit, bisa melihat keluasan bumi dan menghalau pandangan yang rabun, serta memiki pengetahuan lebih luas dari pandangan darat yang hanya bisa melihat sekelilingnya dengan sekat-sekat. Terbang melampaui sekat-sekat bumi bahkan dapat melihat sekat itu sendiri dari berbagai arah, kemudian menerobosnya.

Baca Juga :  Empat Orang yang Masuk Surga Tanpa Hisab

Maka tak heran jika ajaran sufi Rumi yang cukup menonjol adalah mahabbah. Di mana sang Maulana Jalaluddin Rumi adalah tokoh sentral yang dibicarakan dalam hubungan hamba-tuhan dengan ajaran mahabbah dalam puisi-puisi tersebut.

Dalam karya-karya Rumi, mahabbah menjadi tema sentral. Kita akan mudah menemukan ajaran-ajaran mahabbah dalam tiap karya Rumi, terutama dalam Diwan. Begitu menonjolnya ajaran mahabbah dalam tasawuf Rumi, menjadikan para pengikut aliran Mevlivis, sebutan bagi para penerus ajaran Rumi, ini menempatkan mahabbah pada Tuhan sebagai prinsip ajaran sufi.

Metafor lain yang digunakan oleh Rumi tentang cinta yang juga sangat menarik adalah jika cinta berjalan di gunung, maka gunung pun bergoyang menari. Gunung adalah sesuatu yang besar, mewah dan megah. Kebesarannya sering dijadikan perumpamaan dalam Alquran atau dalam karya sastra lainnya. Lihat saja bagaimana ketika gunung memuntahkan laharnya, sekelilingnya mengalami gempa yang cukup dahsyat. Walau gunung begitu gagah, tapi ketika cinta melintas di punggungnya, gunung akan kegelian dan akan menari-nari, mengikuti arus cinta yang melintasinya.

Bagaimana gunung marah ketika sang kekasihnya, Rasulullah saw., dilempari batu oleh penduduk Thaif, ia berkata bahwa ia akan menghacurkan dan akan mengubur penduduk Thaif jika Rasulullah berkenan, tapi Rasulullah melarangnya, karena ada cinta lain yang lebih indah untuk dipertahankan. Yaitu cinta kepada Tuhan.

Dalam metafor Rumi, kegagahan, kedisiplinan, dan kekokohan gunung akan mampu ditaklukkan oleh cinta, ia tidak akan dapat berbuat apa-apa jika cinta menyapanya. Sungguh bait puisi yang indah, dalam imaji dan metafornya.

Rumi dalam puisi yang lain, menoktahkan cinta cukup indah, bagaimana cinta tak pernah peduli dengan apa yang dialaminya, ia rela diserang penyakit, bahkan penyakit itu memang ditunggunya, dan tidak ingin mencari obatnya. Karena semakin didera semakin mengasyikkan. Itulah pencinta. Sebagaimana Yusuf ingin berlama-lama dalam penjara karena memelihara cintanya pada Allah, atau sebagaimana Zulaiha rela dibakar mentari, dan disaljukan rembulan karena menunggu cinta Yusuf ; Dengan penuh cintanya Rumi menuliskan:

Baca Juga :  Kisah Tiga Ahli Tafsir yang Tak Sempat Menyelesaikan Tafsirnya

Cinta bagaikan penyakit tanpa obat
setiap penderita meminta ditambahkan penderitaannya
dengan suka cita mereka berharap kepedihan dan derita dilipatgandakan
Takkan ada minuman di dunia yang manisnya melebihi racun ini
Takkan ada lagi kesehatan di dunia yang lebih baik dari penyakit ini
Cinta memanglah penyakit
Tetapi penyakit yang menyembuhkan semua penyakit
siapa saja yang pernah mengidapnya
takkan pernah lagi menderita penyakit lain
(Jalaluddin Rumi : 1807)

Membaca karya-karya Rumi, kita seakan diajak untuk tenggelam dalam cinta yang dialaminya, cinta hamba kepada Rabb-nya. Maka tak mengherankan jika lewat puisi-puisinya kita seaakan-akan dituntun untuk mengenal cinta ilahi yang suci. Cinta yang paling murni dan abadi di dunia yang fana ini.

Wallahu’alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here