Pernahkah Merasa Hebat karena Bisa Shalat dengan Sangat Lama? Iblis juga Pernah Begitu

0
475

BincangSyariah.Com – Sikap orang shalih penghuni surga yang diabadikan Al-Qur’an, bersungguh-sungguh dalam ibadah kepada Allah dan takut kalau-kalau ibadahnya tidak diterima. Bahkan, lebih dari itu, ia beranggapan amalnya tidak pantas diterima oleh Allah. Banyak cacat dan kekurangan dalam ibadah yang mereka tegakkan sehingga istighfar senantiasa terucap dari lisan mereka di penghujung malam. Begitulah Ibn Katsir mengatakan dalam tafsirnya yang merupakan kandungan dari QS al Dzariyaat ayat 15-18. Tak ada sedikitpun besitan bangga atau merasa lebih hebat ketika mampu melakukan banyak kebaikan.

Shalat adalah salah satu kebaikan yang bisa dilakukan oleh seorang muslim ketika dalam keadaan suci. Kita dianjurkan untuk memperbanyak kebaikan dengan memperbanyak shalat dalam tiap harinya. Namun yang tidak diperkenankan adalah merasa hebat dengan kebaikannya. Kisah unik diceritakan dalam kitab Hilyatul Auliya karya Abu Nu’aim:

كان بشر يصلي يوما فأطال الصلاة ورأى رجلا ينظر إليه فقطن له بشر فقال للرجل لا يعجبك ما رأيت مني فإن إبليس قد عبد الله مع الملائكة كذا وكذا

Suatu hari, Bisyr melaksnakan shalat sangat lama seperti biasanya. Namun selesai shalat, begitu menyadari ada seseorang yang memperhatikan beliau shalat, ia berkata, “Janganlah engkau terkagum-kagum melihat shalatku. Iblis saja pernah beribadah bersama para malaikat sekian ribu tahun

Apa yang diucapkan Bisyr adalah benar. Kita semua tahu bahwa Iblis pernah tinggal di surga, sebelum diusir oleh Allah sebab kesombongannya. Tentu kiita yang diberikan kemampuan untuk memperbanyak ibadah tidak ingin mendaptkan murka Allah sebab merasa hebat karena kebaikan yang pernah dilakukan. Dengan begitu, masihkah pantas untuk merasa hebat karena bisa shalat dengan lama? (Baca: Agar Terbebas dari Sikap Sombong, Ujilah Dirimu dengan Empat Hal Ini)

Baca Juga :  Tiga Macam Orang dalam Bermusyawarah

Merasa hebat dengan shalat atau kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan adalah salah datu tanda dari kegelapan hati. Alangkah bijaknya jika bisa menyelipkan kekhawatiran akan tidak diterimanya shalat atau kebaikan tersebut dengan mengucapkan istighfar setelah melakukan ketaatan. Jika tidak, maka akan ada kesempatan untuk hadirnya kepuasaan, merasa hebat, dan akhlak yang tidak dikehendaki oleh Allah.

Karena kita tahu apakah shalat atau amal baik lainnya diterima atau tidak, kita dianjurkan untuk meminta rahmat Allah dan selalu mengucapkan istighfar karena Allah yang Maha Pengampun.  Sesungguhnya seseorang tidak akan masuk surga kecuali dengan rahmat Allah. Dan di antara rahmat-Nya adalah Dia memberikan taufiq untuk beramal dan hidayah untuk taat kepada-Nya. Karenanya, dia wajib bersyukur kepada Allah dan merendah diri kepada-Nya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radliyallah ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ قَالُوا وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لَا وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا

Sungguh amal seseorang tidak akan memasukkannya ke dalam surga.” Mereka bertanya, “tidak pula engkau ya Rasulallah?” Beliau menjawab, “Tidak pula saya. Hanya saja Allah meliputiku dengan karunia dan rahmat-Nya. Karenanya berlakulah benar (beramal sesuai dengan sunnah) dan berlakulah sedang (tidak berlebihan dalam ibadah dan tidak kendor atau lemah).” (HR. Bukhari)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here