Menyoal Tradisi Nyekar Jelang Ramadan

0
190

BincangSyariah.Com – Nyekar atau ziarah makam, merupakan suatu adat yang berkesinambungan dengan upacara kematian seseorang, yaitu pembersihan dan penaburan kembang oleh sanak saudara yang dilaksanakan tiap tahun menjelang bulan Ramadan. Tradisi tersebut tidak hanya terjadi dan berlaku di satu daerah, tapi di beberapa daerah terutama di pulau Jawa. Tradisi nyekar biasanya dilakukan di bulan Ruwah atau Sya’ban sebelum bulan puasa Ramadan.

Selain adanya aspek sosial, tradisi nyekar juga berhubungan dengan aspek agama. Sebab tradisi tersebut pada awalnya berasal dari masyarakat dengan kepercayaan Hindu. Hal tersebut bisa dilihat dari penyebutan lain tradisi nyekar yang juga dikenal sebagai tradisi nyadran. Nyadran atau sadran berasal dari bahasa Sanskerta sradda yang berarti “keyakinan”, yaitu upacara tradisional yang diyakini untuk menyambungkan dengan Sang Pencipta dan arwah leluhur.

Mumfanganti menyebutkan dalam Tradisi Ziarah Makam Leluhur pada Masyarakat Jawa, bahwa kata nyadran juga memiliki pengertian lain yaitu, slametan ing sasi Ruwah nylameti para leluhur kang lumrah ana ing kuburan utawa papan sing kramat ngiras reresik tuwin ngirim kembang. Artinya, selamatan di bulan Ruwah menghormati para leluhur biasanya di makam atau tempat keramat sekaligus membersihkan dan memberi kembang.

Adapun dalam Islam, tradisi mendoakan leluhur dengan mendatangi makam seseorang yang telah meninggal disebut dengan ziarah kubur. Seiring dengan masuknya ajaran Islam di pulau Jawa, tradisi nyadran atau nyekar diberi sentuhan Islam oleh  Walisanga dengan muatan kegiatan yang umumnya dilakukan dalam ziarah kubur.

Menurut Handayani dalam Tradisi Nyadran dan Perubahan, para wali tersebut menggunakan pendekatan persuasif tanpa menghapus tradisi dan kesenian yang ada namun memberi sentuhan yang baru. Dengan diisi bacaan-bacaan dari Alquran, seperti pembacaan surat Yasin dan sebagainya.

Baca Juga :  Bagaimana Proses Turunnya Alquran pada Bulan Ramadan?

Sementara dalam masyarakat Sunda, tradisi tersebut dikenal dengan istilah mungah atau munggahan atau jika di pesisir jawa dikenal pula dengan istilah manganan (kondangan) yaitu yang dilengkapi sesaji dan pelengkap. Isi sesaji berupa makanan yang dimasukkan ke dalam tangkir atau wadah yang terbuat dari daun pisang yang diisi dengan ayam panggang, nasi, dan lauk-pauk. Makanan tersebut merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat yang diberikan hingga dapat bertemu bulan Ramadan kembali. Di beberapa wilayah, Menganan juga diadakan ketika panen raya sebagai wujud syukur atas karunia tuhan.

Usai ziarah dan pembacaan Yasin dan tahlil, sesaji tersebut kemudian disedekahkan kepada pada pengunjung makam dengan sedekah yang diniatkan atas nama leluhur. Menurut adat ada anggapan bahwa sesaji berupa makanan yang disedekahkan dan pahala dari sedekah tersebut dapat sampai kepada leluhur. Hal ini sesuai dengan apa yang disebutkan dalam hadis Nabi tentang sampainya pahala sedekah yang diniatkan untuk orang tua yang telah meninggal.

Jadi tradisi tersebut juga digunakan sebagai sarana berkumpulnya sanak saudara, sehingga  tradisi yang bernama nyekar atau nyadran ini, jika meminjam ungkapan Kriyono dalam Teknis Praktis Riset Komunikasi, lebih sebagai ungkapan refleksi sosial keagamaan bagi masyarakat Jawa. Terlebih terdapat nilai-nilai yang dapat diambil dalam tradisi ini, yaitu; nilai gotong royong, persatuan dan kesatuan, pengendalian sosial, musyawarah dan kearifan lokal.

Wallahu’alam.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here