Menyoal Kembali Rasionalisme Muktazilah (2-Habis)

0
133

BincangSyariah.Com – Dalam tulisan sebelumnya, telah ditegaskan bahwa Muktazilah yang sering disebut sebagai aliran Islam bercorak rasionalis ini ternyata dalam salah satu ulasan teologinya sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar rasio dan logika. Muktazilah bahkan dalam membaca realitas berprinsip pada asas penolakan terhadap hukum sebab-akibat dan memperkenalkan teori kebiasaan. Yakni, misalnya bahwa pakaian basah dijemur di bawah sinar matahari akan menjadi kering. Yang kita lihat kata Muktazilah itu bukan peristiwa sebab akibat melainkan hanya kebiasaan yang kita lihat.

Kertas dapat terbakar karena tersentuh oleh api. Ini sebab akibat. Tapi Muktazilah tidak menyakini bahwa apilah yang menjadi penyebab terbakarnya kertas. Itu hanya kebiasaan saja. Pandangan Muktazilah ini jelas bertentangan dengan hukum kausalitas.

Pandangan Muktazilah juga bertentangan dengan prinsip logika, dan tentu ini menjerumuskan mereka kepada sikap irasional. Muktazilah melalui Abu-l Hudzail al-Allaf berpandangan mengenai bisa berkumpulnya dua hal bertentangan dalam suatu proposisi atau dalam suatu raung dan waktu. Misalnya satu orang bisa jadi berada dalam dua tempat yang berbeda di satu waktu yang sama. Sokrates itu mati dan hidup dalam satu waktu yang sama.

Prinsip yang dikemukakan oleh Abu-l Hudzail al-Allaf ini pada tahap selanjutnya dikembangkan lebih jauh oleh para pemikir Muktazilah setelahnya, terutama oleh al-Qadhi Abdul Jabbar melalui beberapa karyanya seperti al-Muhit bit Taklif, al-Mughni fi Abwab at-Tawhid wal Adl, Syarah al-Usul al-Khomsah, dan Tathbit Dala’il an-Nubuwwah. Dalam logika, pandangan yang dikemukakan Muktazilah ini bertentangan dengan prinsip non-kontradiktif. Jika prinsip ini dilanggar, mereka terjerumus kepada sikap irasional atau sikap non-logis.

Anehnya di kalangan para pemikir, Muktazilah sering dieluk-elukan sebagai sejenis rasionalisme Islam. Bahkan lebih ekstrim lagi, mereka mewakili sayap liberal Islam. Padahal kenyataannya tidaklah demikian. Muktazilah sangatlah konservatif.

Baca Juga :  Belajar Tauhid; Apakah Sifat Mustahil Bagi Para Nabi itu?

Konon yang sering dijadikan contoh mengenai rasionalisme Muktazilah ialah soal pandangan mereka mengenai kholqu af’al al-ibad (terciptanya tindakan manusia). Bagi Muktazilah, manusia bebas menentukan tindakannya sendiri tanpa ada intervensi Tuhan. Tidak seperti Jabariyyah yang mengatakan bahwa semua tindakan manusia itu digerakkan dan dikehendaki oleh Allah, Muktazilah justru melihat bahwa manusia dengan karunia dari Allah mampu menentukan tindakan-tindakannya sendiri. Inilah salah satu pandangan Muktazilah yang terkenal dan dinilai oleh sebagian kalangan sebagai pencetus teori kebebasan manusia.

Padahal teori ini lahir dari usaha mereka untuk membebaskan Tuhan dari tindakan-tindakan jahat. Misalnya si A menzalimi si B. bagi Jabariyyah, apa yang dilakukan oleh A itu digerakkan dan ditentukan oleh Allah. Pandangan ini jelas berimplikasi bahwa Tuhanlah yang menzhalimi si B. Nah, Muktazilah melalui teori af’al ibad ini ingin membebaskan Tuhan dari beban menzhalimi. Teori ini ditegaskan lagi oleh prinsip mereka yang mengatakan bahwa Allah tidak akan berbuat kecuali kebaikan bagi para hambanya (yajib ala Allah fi’lul aslah). Jadi pandangan yang menyatakan bahwa Muktazilah ialah pencetus teori kebebasan manusia sangatlah berlebihan. Mereka mencetuskan teori itu dalam rangka tidak menisbatkan tindakan-tindakan buruk yang dilakukan oleh manusia kepada Tuhan.

Jadi amat jauh sekali jika teori kebebasan manusia ala Muktazilah ini dengan teori kebebasan dengan maknanya yang sekarang. Jika di tangan Muktazilah, teori kebebasan ini masih dalam kerangka teologis, yakni membersihkan tangan Tuhan dari kejahatan-kejahatan yang dilakukan manusia, sementara teori kebebasan yang kita kenal di zaman modern ini ialah teori kebebasan yang sekuler, yang ingin membebaskan manusia dari belenggu agama.

Sebenarnya masih ada beberapa prinsip Muktazilah yang sangat bertentangan dengan rasio dan kaidah-kaidah bernalar. Misalnya teori mereka tentang atom. Tapi pembahasan tentang atomisme Muktazilah ini memerlukan tulisan yang agak serius dan panjang dan tentu butuh waktu juga untuk merenung. Tapi insya Allah kita akan perjelas teori atom Muktazilah yang tak kalah irasionalnya dengan dua prinsip yang saya jelaskan di atas: anti hukum sebab akibat dan anti prinsip non-kontradiktif. Allahu A’lam.

 

Baca Juga :  Ibnu Taimiyah yang Bukan Salafi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here