Menyimak Dialog Setan dengan Allah tentang Manusia

1
2543

BincangSyariah.Com – Setan berjanji kepada Allah seraya berkata: “Ya Allah, demi keagungan dan kemuliaan-Mu, selama hamba-hamba-Mu masih mengembuskan napas, maka aku tidak akan pernah berhenti menyesatkan mereka agar berbuat maksiat dan kekafiran.” Kemudian, Allah menjawab pernyataan setan tersebut, “Wahai makhluk terkutuk, demi keagungan dan kemuliaan-Ku, Aku tidak akan pernah berhenti mengampuni (dosa-dosa) mereka selama mereka ingat (zikir) dan meminta ampun (istigfar) kepada-Ku (‘Utsman al-Khubuwi, Durrah an-Nashihîn, hlm. 170).” Inilah dialog setan dengan Allah tentang manusia. (Baca: Doa Mengusir Setan Versi Imam al-Ghazali)

Isi percakapan yang disebutkan oleh Rasulullah saw. tersebut sejalan dengan kandungan ayat Al-Qur’an. Al-A‘raf (7): 11-17 dan Shad (38): 78-83 mengisahkan bahwa ketika iblis tidak mau melaksanakan perintah Allah, yaitu bersujud kepada Nabi Adam as. (karena merasa diri lebih baik daripada Nabi Adam as.), maka Allah melaknat iblis sampai kiamat.

Namun, iblis masih meminta penangguhan sampai hari kiamat. Allah akhirnya mengabulkan permintaan iblis tersebut. Sehingga ia bersumpah demi kemuliaan Allah akan menyesatkan seluruh anak-cucu Adam, kecuali orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah. Ia akan menggoda anak-cucu Adam siang dan malam dengan segala cara dan tipu daya, baik dari depan dan belakang maupun dari samping kanan dan kiri.

Oleh karena itu, Allah secara jelas dan tegas memerintahkan manusia dalam surah an-Nas (114): 1-6 agar senantiasa meminta perlindungan kepada-Nya dari godaan dan bisikan jahat setan dan manusia. Sebab, la hawla wa la quwwata illa billah al-‘aliyyi al-‘azhim, yaitu tiada daya dan kekuatan untuk menjauhi kemaksiatan tanpa pertolongan Allah. Begitu pula sebaliknya, tiada daya dan kekuatan untuk melaksanakan ketaatan tanpa pertolongan Allah (Imam Nawawi al-Jawi, Syarh Kasyifah as-Saja, hlm. 4-5).

Baca Juga :  Doa Mengusir Setan Versi Imam al-Ghazali

Menurut Ibn Katsir, sebagaimana disinggung dalam hadis, dalam setiap diri manusia terdapat setan yang tiada henti-henti menggoda dan membisikkan kejahatan dan kerusakan siang-malam dengan segala cara tanpa lelah dan putus asa. Ibn ‘Abbas, Mujahid, dan Qatadah menyebutkan bahwa setan mendekam dalam hati manusia. Ketika dia lupa dan lalai, maka setan akan menggodanya dengan bisikan-bisikan jahat.

Namun, apabila dia ingat kepada Allah, maka setan tersebut menyusut dan melemah. Menurut al-Mu‘tamir bin Sulaiman, sesungguhnya setan membisiki hati manusia ketika dia sedang berduka-cita (sedih) dan bersuka-ria (gembira). Namun, apabila dia tetap ingat kepada Allah, maka setan menyusut dan melemah (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 2000: 2055).

Imam Fakhruddin ar-Razi menyebutkan bahwa kalau surah al-Falaq mengajarkan manusia agar meminta perlindungan kepada Allah dari kejahatan malam apabila gelap, para penyihir, dan orang-orang dengki. Sementara surah an-Nas mengajarkan agar manusia meminta perlindungan kepada Allah dari kejahatan bisikan-bisikan setan dan manusia.

Sebab, kedua surat tersebut memiliki tujuan yang berbeda, yaitu: al-Falaq menghendaki keselamatan jiwa dan tubuh dan an-Nas menghendaki keselamatan agama. Dalam hal ini, keselamatan agama harus lebih diprioritaskan. Sebab, kerusakan agama meskipun sedikit lebih berbahaya daripada kerusakan-kerusakan dunia yang besar sekalipun (at-Tafsir al-Kabir, 1981, XXXII: 198).

Dengan demikian, tidak heran apabila Habib ‘Alawi bin Muhammad al-Haddad menganjurkan setiap Muslim agar memperbanyak membaca surah al-Falaq dan an-Nas di masa sekarang. Bahkan kedua surah tersebut sepatutnya dijadikan wirid (bacaan setiap hari) di zaman yang penuh dengan godaan setan, fitnah, dan bisikan-bisikan jahat (Habib Zain bin Smith, al-Fawa’id al-Mukhtarah, 2008: 201).

Selain itu, Allah senantiasa membuka pintu ampunan-Nya siang dan malam bagi siapa saja yang ingin bertobat. Hal ini ditegaskan dalam al-Qur’an surat az-Zumar (39): 53, yaitu: “Katakanlah, “Wahai hamba- hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah Mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dia-lah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Baca Juga :  Setan Sulit Dikalahkan, Ini Dua Cara Antisipasi Godaannya

Menurut Ibn Katsir, ayat tersebut mengajak semua pendosa, baik dari kalangan orang-orang kafir maupun orang-orang beriman, agar bertobat kepada Allah atas segala dosa yang dilakukan dan kembali melakukan perbuatan-perbuatan baik. Sebab, ayat tersebut mengabarkan bahwa Allah mengampuni semua dosa meskipun sebanyak buih di lautan lepas dan dilakukan secara berulang-ulang. Pengampunan ini berlaku kepada siapa saja yang bertobat dan meninggalkan dosa-dosa tersebut. Oleh karena itu, ayat tersebut tidak boleh dipakai bagi orang-orang yang tidak mau bertobat (hlm. 1624).

Lebih lanjut, ketentuan az-Zumar (39): 53 tersebut juga merupakan penafsir terhadap an-Nisa’ (4): 48, yaitu: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia Kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar.”

Ibn Katsir menyebutkan bahwa ayat tersebut tidak boleh dipahami secara apa adanya (tekstual), karena ia masih bergantung kepada syarat tertentu, yaitu tobat. Artinya, syirik merupakan dosa yang tidak diampuni oleh Allah apabila pelakunya tidak bertobat. Namun, apabila pelaku syirik (musyrik) tersebut bertobat sembari berhenti berbuat syirik, maka Allah akan mengampuninya. Adapun dosa-dosa lain selain syirik, maka Allah bisa saja mengampuni para pelakunya meskipun mereka tidak bertobat (hlm. 495), semisal karena memiliki amal baik yang bisa menghapus dosa-dosa tersebut.

Dalam kesempatan lain, sebagian ‘arifin (ahli makrifat) berkata bahwa beberapa zikir yang sangat bermanfaat di masa sekarang adalah memperbanyak (membaca) istigfar dan salawat (Habib Zain bin Smith, al-Fawa’id al-Mukhtarah, 2008: 212). Apalagi sebuah ungkapan menyebutkan bahwa manusia adalah tempatnya salah dan lupa (al-insan mahall al-khatha’ wa an-nisyan). Sehingga semakin tidak menemukan alasan untuk tidak meminta ampun (membaca istigfar) kepada Allah di setiap hari dan malam.

Baca Juga :  Bisakah Penghuni Surga dan Neraka Bercakap-cakap?

Menurut Habib Zain bin Smith, istigfar menempati posisi pembersihan dan salawat menempati posisi wewangian. Oleh karena itu, apabila seseorang memiliki banyak dosa, maka lebih utama membaca istigfar. Namun, apabila dia memiliki sedikit dosa, maka lebih utama membaca salawat (hlm. 212-213). Wa Allah A‘lam wa A‘la wa Ahkam…

1 KOMENTAR

  1. […] BincangSyariah.Com – Gemuruh amar makruf nahi mungkar kadang membuat lalai sebagian umat muslim. Tindakan mereka dalam mengajak kepada kebaikan bisa saja ditunggangi kepentingan pihak lain. Pihak lain ini bukan kelompok tertentu, tapi ini setan. Ya, setan bisa saja mendukung kita melakukan amar makruf. Namun tentu saja dengan kepentingan tertentu. Kepentingan itu adalah memperjuangkan keburukan yang dibungkus kebaikan. (Baca: Menyimak Dialog Setan dengan Allah tentang Manusia) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here