Menurut Para Ulama, Ini Maksud “Mujaddid” dalam Hadis Nabi

4
9973

BincangSyariah.Com – Mujaddid secara etimologi yaitu pembaharu. Adapun dalam Islam, mujaddid dikenal sebagai seseorang yang membawa pembaharuan atau perbaikan pada kerusakan yang ada pada kaum Muslimin.

Kita dapat menjumpai sabda Nabi yang menerangkan perihal mujaddid. Jelas sekali dalam lafal yang tertera dalam hadis, bahwa di setiap penghujung 100 tahun akan ada seorang yang memperbaharui agamanya. Namun mujaddid tidak membawa agama baru, mereka hanya memperbaharui apa yang sudah maklum dalam agama, yang buruk diperbaiki, dan yang baik dipertahankan tentunya.

Seorang mujaddid tentunya orang yang sangat berpengaruh pada masanya, ia mesti memiliki syarat khusus sebagaimana yang disebutkan Ibnu Ziyâd dalam kitab Ghayah Talkhis al-Murâd fî Fatawa Ibn Ziyâd, yaitu:

ومن شروط المجدد أن تمضي المائة … وينصر السنة في كلامه، وأن يكون جامعاً لكل فنّ، وكونه فرداً كما هو المشهور في الحديث وعند الجمهور.

“Di antara syarat-syarat seorang mujaddid yaitu melampaui seratus tahun, menolong sunnah serta kalamnya, menguasai seluruh fann ilmu, dan dia tunggal sebagaimana pendapat yang masyhur dalam hadis menurut jumhur ulama.”

Adapun hadis tentang mujaddid terdapat dalam sunan Abu Daud, yaitu:

إنَّ اللهَ يَبْعَثُ لِهذهِ الأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِيْنَهَا

“Sesungguhnya Allah mengutus untuk umat ini pada setiap penghujung seratus tahun seseorang yang memperbaharui agamanya” (HR. Abu Daud)

Terdapat kutipan komentar Imam Suyuthi terfhadap hadis ini dalam kitab Ghayah Talkhis al-Murâd fî Fatawa Ibn Ziyâd, beliau berkata:

“Hadis ini masyhur dengan riwayat para hafiz penghafal hadis yang mu’tabar. Adapun Mujaddid pada abad pertama yaitu Khalifah ‘Umar bin Abdul Aziz, pada abad ke-2 yaitu Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i, pada abad ke-3 yaitu Ibnu Suraij atau Imam al-Asy’ari, pada abad ke-4 yaitu ash-Shaûlki atau Imam Abu Hamid al-Isyfirayayni atau al-Qadhi Abu Bakar al-Baqillâni, pada abad ke-5 Imam Abu Hamid al-Ghazali dengan tanpa ada perselisihan mengenai siapa yang menjadi mujaddid ketika itu. Pada abad ke-6 al-Fakhru ar-Râzi atau imam ar-Râfi’i. Pada abad ke-7 Ibnu Daqîq al-‘Ayd, pada abad ke-8 al-Bulqiniy atau Zainuddin al-‘Irâqi atau Ibnu binti Malîq, dan guru kami, Syaikh ath-Thanbadawi mengingkari bahwa Syaikh Zakariya adalah Mujaddid di abad ke-9, dan Imam Suyuthi menyandarkan predikat mujaddid kepada dirinya sendiri, dan tidak diragukan lagi manfaat yang ditebar oleh Syaikh Zakariya lebih banyak dan lebih masyhur, maka beliau adalah seorang mujaddid, InsyaAllah.

Imam Ibnu Ziyâd berkata: “Dan berdasarkan apa yang kami dapatkan dari guru-guru kami, bahwa mujaddid pada abad ke-10 adalah Syaikh Ahmad bin Hajar al-Khaitami atau Imam Muhammad ar-Ramli, sebagian ulama menguatkan pendapatnya kepada Imam ar-Ramli sebab Imam Ibnu Hajar al-Khaitami wafat sebelum penghujung seratus tahun. Mujaddid pada abad ke-11 Sayyid al-Quthb ‘Abdullah bin ‘Alawy al-Haddad ‘Alawi, dan pada setelahnya adalah al-Quthb Ahmad bin ‘Umar bin Smith ‘Alawi,dan beliau sampai pada awal abad ke-13.

Sekarang kita telah memasuki abad ke-15, belum ada ulama yang menerangkan ataupun menyepakati mengenai siapa mujaddid pada abad ke-14 maupun ke-15. Demikian penjelasan mengenai mujaddid dalam hadis Rasulullah. Wallahu a’lam

4 KOMENTAR

  1. mungkin diabad ke 14 mujaddidnya adalah kholifah abdul hamid yakni kholifah terakhir diturki utsmaniy dan ke 15 kholifah imam ahmad yang telah allah janjikan dalam berbagai hadits
    wallahu a’lam bish showaab

  2. Mujaddid abad ke 12 Imam Murthada Az Zabidi, abad ke 13 Imam As Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan dan abad ke 14 Dr. Wahbah Az Zuhaili sedangkan Abad ke 15 Imam Muhammad bin Abdullah Al-Mahdi

  3. Muhaddid abad ke 12 Imam Murthada Az Zabidi, abad ke 13 Imam As Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan dan abad ke 14 Dr. Wahbah Az Zuhaili dan abad ke 15 Imam Muhammad bin Abdullah Al Mahdi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here