Menurut Kiai Sholeh Darat, Sebaiknya Ulama itu Harus Berpenampilan Elegan

0
703

BincangSyariah.Com Dalam kitab Minhaj al-Atqiya’ fi Syarhi Ma’rifat al-Adzkiya’, kiai Sholeh Darat memaparkan sembilan wasiat para wali untuk mencapai derajat orang-orang yang bertakwa. Ada satu maqom atau tahapan yang menurut penulis menarik untuk diketengahkan. Maqom tersebut ialah sikap qonaah.

Qonaah secara umum dimaknai sebagai sikap menerima atas pemberian Tuhan kepada seorang hamba. Kehidupan para sufi ialah kehidupan para manusia yang fokus dan tujuannya bukanlah kenikmatan dunia, melainkan ridho Allah dan kenikmatan akhirat. Sehingga meskipun kondisi kehidupan seseorang di dunia kurang bercukupan, dalam konteks kebutuhan hidup sehari-hari. bukan menjadi persoalan berarti bagi hamba yang menempuh laku sufi.

Konsep qonaah dengan demikian menjadi penopang yang kuat atas sikap para sufi dalam menghadapi keadaan hidup di dunia yang serba sulit. Bahkan, sikap nerimo ini diidentikkan dengan mereka para penempuh jalan menuju Tuhan. Banyak juga dalil-dalil keagamaan yang menjadi dasar model hidup sepert ini. Kesederhanaan Nabi, keluarganya dan para sahabat nabi menjadi preseden dan teladan bagi para sufi.

Penekanan terhadap sebuah rasa ingin memiliki terhadap sesuatu menjadi tujuan utama. Karena pada dasarnya, keinginan (nafsu) adalah sumber dari segala malapetaka. Sehingga tampilan hidup para sufi terdahulu selalu digambarkan sebagai pribadi yang jauh dari kepemilikan rumah yang mewah, pakaian yang mahal, dan makanan yang enak. Sungguh sebuah sikap, bagi manusia modern, yang dianggap terbelakang dalam menjalani hidup.

Tapi menurut kiai Sholeh Darat, pemaknaan sikap qonaah semacam itu tepat dilakukan bagi para sufi yang hidup di era sahabat dan ulama salaf. Adapun para ulama yang hidup di zaman akhir (Abad ke-19 hingga sekarang) semestinya tampil di hadapan publik dengan menampakkan nikmat Allah SWT.

Baca Juga :  Meminjamkan Buku: Cerita dari Penyair Hingga Para Ulama

Para ulama di akhir zaman dalam bergumul dengan masyarakat awam, sebaiknya berpenampilan dengan pakaian yang mulia dan terhormat. Hal ini dimaksudkan supaya para ulama terhindar dari sikap menjilat dan meminta-minta pada ahlu dunya (pengusaha dan penguasa). Tampilan yang bagus dan terhormat akan menjaga wibawa seorang ulama di hadapan masyarakat.

Selain itu, bagi kiai Sholeh Darat, ulama jangan sampai terlihat hina di mata masyarakat karena akan mengurangi sisi kharismatiknya. Jika itu terjadi, masyarakat enggan mendengarkan nasihatnya, karena pudarnya kharisma kealimannya.

Beliau menyitir ucapan Imam Hanafi yang berbunyi, “seyogyangnya seorang yang berilmu itu besar serbannya, panjang jubahnya, dan lebar lengan bajunya. Jangan sampai seorang alim di hadapan masyarakat awam terlihat hina.” Juga sabda rasulullah SAW, “sesungguhnya kehinaan dan kemiskinan bagi para sahabatku merupakan sebuah kebahagiaan dan sesungguhnya kekayaan bagi orang-orang yang beriman di zaman akhir merupakan kebahagiaan.

Dorongan kiai Sholeh Darat terhadap para ulama supaya berpenampilan seperti orang kaya dikarenakan masyarakat awam di akhir zaman yang menganggap bahwa orang yang mulia ialah hanya mereka yang kaya raya. Sedangkan mereka tidak mengetahui tentang kemuliaan orang yang berilmu. Selain itu, dorongan ini juga berkaitan dengan konteks sosial-politik saat itu. Kehadiran kolonialisme di Jawa membuat kiai Sholeh Darat memberi warning kepada para ulama agar senantiasa mandiri di kehidupan sehari-hari.

Pembelahan yang terjadi di kalangan ulama saat itu terjadi antara mereka yang dekat dengan kekuasaan sebagai penghulu agama dan para ulama yang masih konsisten di pesantren. Ini juga menimbulkan himbauan yang keras dari kiai Sholeh Darat. Larangan untuk berpenampilan hina di depan publik adalah sikap qonaah para sufi yang memiliki implikasi perlawanan sosial terhadap sikap menjilat dan tergantung kepada para penguasa (dalam istilah kiai Sholeh Darat ahlu dunya, sulton, dan khodim al-dzulmah).

Baca Juga :  Tantangan Ulama Perempuan Masa Kini

Meskipun begitu, pada dasarnya, larangan untuk “berlagak kere” hanya berada di ranah lahiriah saja. Apa saja yang dimiliki ulama tetaplah berada di tampilan saja. Semua padi tetaplah bertempat di sawah, tanaman-tanaman tetap berada di atas tanah. Andaipun memibangun sebuah rumah, niat yang utama bukanlah untuk dimiliki melainkan sebagai tempat singgah bagi tamu yang akan datang. Sehingga jangan sampai kemudian itu semua merasuk dan mencemari kebeningan hati.

Kiai Sholeh Darat juga menghimbau bahwa harta kekayaan, keluarga, rumah dan semua yang dikira milik kita merupakan jamban. Fungsinya berupa sarana untuk membuang kotoran yang ada pada manusia. Karena tanpa jamban, tidak ada sarana untuk tempat pembuangan kotoran (penyakit). Sehingga seorang manusia sangat rentan terserang bahaya penyakit.

Sebagaimana seorang mukmin, tanpa adanya harta, keluarga, rumah dan pakaian yang baik ia tidak dapat beribadah secara sempurna. Karena beberapa ajaran agama seperti sedekah, infak, zakat dan haji membutuhkan harta yang cukup. Pada intinya, harta dunia bukanlah mathlub (sesuatu yang dicari), tapi bukan pula untuk ditinggalkan. Karena pada hakikatnya, harta kekayaan, rumah, pakaian dan keluarga adalah wasilah menuju Ma’bud (Dzat Yang Disembah).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here