Menurut Kiai Sholeh Darat, Amar Ma‘ruf  Nahi Munkar yang Dibenarkan Harus Penuhi Syarat Ini

2
828

BincangSyariah.Com – Seringkali aksi kekerasan atas nama agama terjadi di Indonesia. Negeri yang menaungi keberagaman suku dan agama ini tidak semestinya dimonopoli oleh salah satu identitas keagamaan tertentu berdasarkan kuantitasnya. Siapapun yang bertindak melawan hukum tanpa melihat latar belakang keagamaannya harus ditindak tegas.

Alasan amar ma‘ruf  nahi munkar sudah tidak lagi relevan untuk menjustifikasi tindak kekerasan atau main hakim sendiri. Islam sebagai ajaran, tidak menghendaki kekerasan. Agama yang memiliki akar kata yang berarti kesalamatan ini lahir dari semangat kasih sayang dan perdamaian. Meskipun ada perintah untuk amar ma‘ruf  nahi munkar bagi seorang muslim, tidak demikian menafikan prasyarat-prasyarat yang harus dimiliki oleh mereka yang hendak melakukan amar ma‘ruf  nahi munkar.

Gus mus dalam berbagai ceramahnya seringkali menyampaikan bahwa amar ma‘ruf  harus dilakukan dengan cara-cara yang ma‘ruf  (baik). Begitu pula saat nahi munkar. Kiai Sholeh Darat dalam kitabnya, Minhaj al-Atqiya’ fi Syarhi Ma’rifat al-Adzkiya’ menjelaskan bahwa seseorang tidak diperkenankan melakukan amar ma‘ruf  nahi munkar secara serampangan.

Kiai Sholeh Darat menyebutkan bahwa harus orang alim atau ulama yang melakukan amar ma‘ruf  nahi munkar. Itupun masih ditambah dengan syarat ilmunya mencukupi. Jadi orang awam seperti kita tentu tidak masuk dalam kategori ini. Sehingga kita tidak perlu merasa wajib melakukan amar ma‘ruf  nahi munkar. Bahkan, ulama pun masih ditambah empat syarat yang berupa penguasaan ilmu-ilmu tertentu yang harus dipenuhi sebelum seseorang melakukan amar ma‘ruf  nahi munkar.

setuhune syarate wongkang amar ma‘ruf  lan nyegah munkar iku kudu wong alim ulama ingkang wus cukup ilmune patang perkoro arep ngerti ilmu fatwa lan arep ngerti ilmu madzhab lan arep ngerti ilmu nasab lan arep ngerti ilmu siyasah tegese ilmu tatrap antarane wong akeh lan ilmu adab lamun ora onoiki patang perkoro moko ora wajib amar ma‘ruf  semowono ora ngerti ilmune madzhabe dewe moko ora wenang amar ma‘ruf ” (Sholeh Darat, Minhaj al-Atqiya’176)

Baca Juga :  Mengapa Alquran Turun Berangsur Selama 23 Tahun?

Terjemah:

“sesungguhnya syarat orang yang amar ma‘ruf  nahi munkar itu harus seorang yang alim ulama yang telah menguasai empat macam ilmu yaitu mengetahui ilmu fatwa, ilmu madzhab, ilmu nasab dan ilmu siyasah yakni ilmu berhadapan orang banyak serta ilmu adab. Apabuila tidak ada empat hal ini, maka tidak wajib amar ma‘ruf  begitu juga kalau tidak mengetahui madzhabnya sendiri maka dilarang amar ma‘ruf ”. (Sholeh Darat, Minhaj al-Atqiya’176).

Pertama, Ilmu Fatwa. Ilmu tentang fatwa biasanya diidentikkan dengan mufti atau qadhi. Sebagai seorang yang mengeluarkan atau memutuskan sebuah hukum, ia tentulah harus seorang yang faham tentang hukum Islam. Tanpa bekal keilmuan ini, seseorang tidak wajib melaksanakan amar ma‘ruf  nahi munkar. Apalagi hanya sekedar ikut-ikutan tanpa modal ilmu hukum Islam yang memadai.

Kedua, Ilmu Madzhab. Ilmu ini berkaitan dengan wawasana seorang ulama tentang madzhab-madzhab besar dalam Islam. tidak cukup bermodal ilmu hukum Islam, seseorang yang akan melakukan amar ma‘ruf  nahi munkar harus mengetahui banyak madzhab untuk memperluas cakrawala pemikiran di bidang hukum. Apalagi yang hanya mengetahui madzhabnya sendiri atau bahkan tidak mengetahui sama sekali.

Hal ini tentu memiliki dampak signifikan dalam kaitannya dengan kebijaksanaan seseorang dalam menyikapi sesuatu. Semakin luas wawasan dan pengetahuannya tentang madzhab-madzhab, seseorang itu akan semakin bijaksana dalam melihat problematika kehidupan.

Ketiga, Ilmu Nasab. Menarik sebenaranya kiai Sholeh Darat memasukan ilmu ini kaitannya dengan amar ma‘ruf  nahi munkar. Biasanya, ilmu ini dikaitkan untuk mengetahui silsilah keluarga dalam ilmu fikih. Ada setidaknya tiga hal yang urgen dalam ilmu nasab, yaitu untuk membagi warisan, mengetahui mahram dalam pernikahan dan menjaga persaudaraan atau silaturahmi.

Baca Juga :  Konsep Amar Makruf Nahi Mungkar Menurut Ibnu ‘Asyur

Biasanya orang yang menguasai ilmu nasab memiliki kecenderungan daya ingat yang kuat, memahami sejarah biografi seseorang dan mengetahui siapa yang dihadapinya. Sehingga dapat dijadikan modal saat melakukan amar ma‘ruf  nahi munkar kepada yang lain.

Keempat, Ilmu Siyasah dan Adab. Dalam konteks ini, ilmu siyasah dan adab lebih diarahkan saat menghadapi orang banyak. Situasi ini menurut kiai Sholeh Darat membutuhkan keterampilan dan kecakapan strategi seseorang. Mengajak, apalagi memerintahkan, orang untuk berbuat baik tentu harus disesuaikan dengan siapa yang dihadapinya. Memperlakukan seseorang dengan demikian seperti yang diungkapkan Nabi, khotibin nas ‘ala qodri ‘uqulihim, “berbicalah kepada manusia sesuai dengan kadar kemampuan akal mereka”.

Meskipun telah diberi syarat yang berlapis, kiai Sholeh Darat masih menambahkan satu syarat terakhir di luar keempat ilmu itu. Syarat itu ialah memperkirakan terlebih dahulu bahwa orang yang kita ajak menuju kebaikan dan kita cegah dari kemungkaran akan merespon dengan baik. Jangan sampai justru melakukan penolakan secara keras dan malah membuat dirinya lebih terjerumus ke dalam jalan kekufuran.

Dengan demikian, amar ma‘ruf  nahi munkar bukanlah ibadah dan aktivitas yang mudah. Di dalamnya terdapat prasyarat tingkat kealiman, penguasaan empat ilmu yang telah dipaparkan dan kebijaksanaan dalam melihat siapa yang akan diajak menuju kebaikan.

2 KOMENTAR

  1. Lebih tepatnya AMAR DAN NAHI adalah kata ‘perintah’ dan ‘larangan’ dan itu hanya bisa lakukan oleh orang yang derajatnya lebih tinggi

    Tidak ada kata perintah yang ditujukan kepada atasan atau bahkan sepadan, makanya disini yang paling tepat itu DA’WAH

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here