Menurut Kiai Kholil Bangkalan, Ini Tiga Bekal yang Perlu Disiapkan Sebelum Menikah

0
1702

BincangSyariah.Com Akhir-akhir ini banyak sekali yang menyerukan gerakan nikah muda. Alasan yang ditawarkan sederhana, supaya terhindar dari dosa-dosa yang disebabkan intensitas pergumulan dengan lawan jenis.

Hal-hal yang dikhawatirkan mulai khalwat (berduaan) dengan lawan jenis hingga zina akan dapat diatasi dengan jalan nikah. Sehingga nikah dimaknai hanya seputar persoalan menghalalkan hasrat seksual kepada pasangan.

Lantas, bagaimana sebenarnya hukum nikah, apakah setiap orang kemudian dihukumi wajib nikah bahkan di usia yang relatif masih muda? Kiai Kholil Bangkalan, seorang ulama kharismatik yang merupakan guru dua tokoh pendiri Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, dalam kitab As-Silah fi Bayan al-Nikah menjelaskan hukum dan maksud yang melandasi diberlangsungkannya sebuah pernikahan.

Menurutnya, hukum nikah bisa menjadi beragam. Hukum nikah bisa saja wajib, haram, mustahab (disunahkan), dan makruh. Nikah menjadi wajib saat seseorang sudah tidak dapat lagi mengontrol syahwatnya hingga dikhawatirkan akan melakukan perzinaan. Menyitir pendapat para ulama, kiai Kholil Bangkalan menyebutkan:

إِذَا قَامَ الذَّكَرُ عَمِيَ الْبَصَرُ وَ زَالَ الْحَذَرُ

Artinya:

Jika alat kelamin (syahwat) menguat maka mata akan buta dan kewaspadaan akan sirna.”

Kemudian nikah akan menjadi haram jika dilakukan saat mempelai wanitanya sedang menjalani masa ‘iddah, dilakukan saat sedang ihram dan menikahi mahramnya sendiri.

Nikah dianjurkan bagi ia yang memiliki keinginan untuk menikah dan menyadari jika ia tidak menikah ia tetap mampu menahan diri untuk berbuat zina meskipun hatinya tidak bisa tenang.

Dan terakhir, nikah dihukumi makruh jika menikahi pasangan yang bodoh, buruk akhlaknya dan seorang yang pernah bercerai.

Sehingga dalam konteks kehidupan sekarang, nikah tidak bisa dijustifikasi sebagai sebuah keharusan bagi setiap orang dengan alasan menghindari zina. Ada momen-momen dimana orang justru tidak dianjurkan untuk menikah.

Baca Juga :  Hijrah Bukan Sinonim Menikah

Misalnya selain mengharamkan nikah seperti dalam pernikahan yang mempelai wanitanya sedang menjalani masa ‘idah, dilakukan saat sedang ihram dan menikahi mahramnya.

Kiai Kholil juga menganjurkan agar menghindari melaksanakan pernikahan dengan pasangan yang bodoh (al-hamqo’), akhlak dan orang yang pernah gagal dalam pernikahan. Ini menunjukan sikap kiai Kholil terkait pondasi pernikahan.

Ada tiga pondasi yang ia rekomendasikan sebelum membangun rumah tangga yaitu, ilmu pengetahuan, pembentukan akhlak, dan persiapan mental agar terhindar dari perceraian.

Ketiganya merupakan bekal utama untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Sehingga selain menghalalkan sesuatu yang dilarang, nikah juga memiliki tujuan-tujuan lain yang juga tak kalah penting.

Kiai Kholil mendefinisikan nikah sebagai berikut:

اَلْمَقْصُوْدُ مِنْهُ اَلَإِسْتِمْتَاعِ بِالْمَرْأَةِ الْجَمِيْلَةِ وَ غَضُّ الْبَصَرِ عَمَّا لاَ يَحِلُّ النَّظْرُ و الوَلَدُ الصَّالِحُ يَدْعُوْ لَهُ

Artinya:

Maksud dari nikah ialah berbahagia dengan wanita yang cantik (pasangan yang baik), mengotrol pandangan mata dari hal-hal yang tidak diperbolehkan, dan (melahirkan) anak saleh yang mendoakannya”.

Dari pernyataan kiai Kholil Bangkalan, memang tepat jika nikah dapat dijadikan alternatif sebagai menjauhkan diri dari perbuatan yang dilarang agama. Akan tetapi di akhir pernyataan beliau, maksud utama nikah tidak hanya berhenti pada bersenang-senang dengan pasangan dan menghindarkan diri dari dosa melainkan memproduksi generasi yang saleh.

Anak yang saleh yang memiliki kesadaran untuk berbakti kepada orang tuanya. Dalam hal ini manifestasi bakti kepada orang tua adalah dengan mendoakannya. Sehingga, orang tua tidak akan dapat melahirkan seorang anak yang saleh tanpa memiliki modal ilmu pengetahuan dan akhlak yang memadai.

Di sinilah ilmu dan akhlak menjadi penting sebelum menuju ke gerbang pernikahan. Karena sebagaimana pepatah, buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya. Pun dengan anak, ia akan meniru dan meneladani kedua orang tuanya.

Baca Juga :  Ragam Hukum Menikah dalam Islam

Oleh karena itu, bagi kalian yang ngebet untuk menikah karena sudah tidak dapat menahan syahwat manusiawi pada diri kalian, maka menikahlah.

Tapi juga jangan lupa, bahwa menikah tidak hanya sekedar untuk melampiaskan syahwat, ada tujuan mulia lain sebagaimana yang diajarkan kiai Kholil, membentuk generasi yang saleh dan itu membutuhkan persiapan dan bekal ilmu pengetahuan dan akhlak yang memadai.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here