Menunggu Ajal

0
593

BincangSyariah.Com – Bisyr bin Harits al-Hafi adalah sufi besar. Nama lengkapnya Bisyr bin al-Harits bin ‘Abd al-Rahman bin Atha bin Hilal bin Abd Allah al-Marwazi. Lahir di dekat kota Merv sekitar tahun 150 H/767 M. Al-hafi bermakna “yang telanjang kaki”. Ini adalah julukan orang kepadanya karena Bisyr adalah pengelana atau darwis yang telanjang kaki, alias tidak memakai alas kaki.

Pada masa mudanya, dia terkenal sebagai pemuda berandalan, senang berkeluyuran dan minum minuman keras. Suatu hari dia berjalan terhuyung-huyung, mabuk, akibat terlalu banyak minum minuman keras. Tiba-tiba ia temukan secarik kertas bertuliskan “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”. Bisyr lalu membeli minyak mawar untuk memerciki kertas tersebut kemudian menyimpannya dengan hati-hati di rumahnya.

Lalu dia taubat dan memilih untuk hidup sebagai pengemis yang terlunta-lunta, kelaparan dan berjalan dengan bertelanjang kaki. Dia kemudian menjadi ulama dan sufi besar. Bisyr meninggal di kota Baghdad tahun 227 H/841 M. Ia sangat dikagumi oleh Ahmad bin Hanbal dan dihormati oleh Khalifah al-Ma’mun.
Suatu hari Bisyr bin al-Harits berkata,

مَرَرْتُ بِرَجُلٍ مِنَ العُبَّاد بِالْبَصْرَة وَهُوَ يَبْكِي فَقُلْتُ مَا يُبكِيكَ فَقَالَ أبَكْيِ عَلَى مَا فَرَّطْتُ مِنْ عُمْرِي وَعَلَى يَومٍ مَضَى مِنْ أَجَلِي لَمْ يَتَبَيَّنْ فِيهِ عَمَلِي.

Di Basrah, aku bertemu seorang saleh yang tekun ibadah. Ia duduk sendiri sambil menangis. Aku bertanya, “Apakah gerangan yang membuatmu menangis?” Ia menjawab, “Aku menangis karena aku telah menyia-nyiakan umurku dan hari-hariku yang telah pergi. Ajalku makin dekat, namun belum jelas juga amalku (diterima atau tidak). (Mujalasah wa Jawahir Al ‘Ilm, 1: 46).

Kisah kematiannya menarik sekali. Suatu malam, ketika Bisyr al-Hafi sedang terbaring menanti ajalnya tiba seseorang menemuinya dan mengeluhkan nasibnya kepadanya. Bisyr pun memberikan pakaian yang dia kenakan kepadanya.
Dia pun mengenakan pakaian lain yang dia pinjam dari salah seorang sahabatnya. Dengan menggunakan pakaian pinjaman itulah sang waliyullah tersebut menghadap Tuhannya.

Baca Juga :  Sejarah Pensyariatan Puasa Ramadan

Usia adalah waktu. Ia terus bergerak ke depan dan tak bisa kembali. Perjalanan hidup manusia dan semua ciptaan Tuhan selalu berlangsung dalam siklus yang tetap dari tiada menjadi ada, tumbuh- tunas-remaja-besar, tua, renta dan tiada lagi.[]

[Tulisan ini disadur dari buku Lawaamii’ al-Hikmah ‘Pendar-pendar Kebijaksanaan’]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.