Menumbuhkan Kesalehan Sosial dengan Ibadah Puasa

0
210

Ramadhan merupakan bulan mulia yang senantiasa ditunggu-tunggu kehadirannya oleh ummat muslim dari berbagai belahan dunia. Moment setahun sekali ini disambut dengan berbagai selebrasi budaya sebagai manifestasi keagamaan yang bervariasi antar negara maupun daerah.

Adanya heterogenitas menyambut datangnya bulan suci ramadhan dapat memperkaya khzanah culture masyarakat Indonesia. Integrasi antara budaya dengan agama pada akhirnya melahirkan sebuah akulturasi yang sangat apik. Agama dalam konteks ini tidak mengeliminasi atas eksistensi dari suatu budaya. Budaya pada kasus ini dapat memperkaya aspek ekspresi keagamaan suatu masyarakat.

Eksistensi budaya yang sesuai dengan agama akan tetap terjaga dengan terjadinya dialog yang sangat panjang. Nilai-nilai budaya yang digali dari hasil cipta, rasa, dan karsa manusia akan tetap utuh sepanjang tidak bertentangan dengan agama. Budaya yang dianggap tidak sesuai dengan esensi ajaran agama akan tereliminasi secara gradual. Pola akomodasi yang demikian kemudian menghasilkan asimilasi dalam bentuk dominasi agama terhadap budaya.

Manusia merupakan makhluk sosial (zoon policon) yang tidak dapat hidup sendiri. Semenjak diciptakan, mereka senantiasa membutuhkan uluran tangan orang lain untuk melangsungkan kehidupan. Tanpa adanya bantuan dari orang lain, sangat sukar bagi manusia untuk dapat bertahan hidup sendiri. Kemampuan yang terbatas inilah yang menyebabkan manusia melakukan interaksi sosial.

Sebagai pancipta alam raya, Tuhan mempunyai sifat rahman dan rahim kepada setiap apa yang diciptakannya. Sifat rahman dan rahim inilah yang kemudian direfleksikan dalam kehidupan setiap makhluk. Sebuas apapun makhluk yang diciptakan, mereka akan terkena percikan kedua sifat tersebut. Setiap makhluk hidup tentu menyayangi anak-anak mereka. Burung-burung yang terbang tinggi, ikan-ikan yang berenang di samudra yang luas rela kelaparan demi menyambung kehidupan sang anak.

Baca Juga :  Fenomena Komersialisasi Umrah di Bulan Ramadhan Menurut Kyai Ali Musthafa Yaqub

Penggalian dari partikel dari kedua sifat Tuhan ini dapat kita implementasikan dalam kehidupan. Termasuk menumbuhkannya melalui ibadah puasa yang dilaksanakan dalam kurun waktu tertentu, yakni mulai dari terbitnya fajar sampai dengan terbenamnya matahari. Semua ummat Islam yang telah mukalaf diwajibkan untuk melaksanakan ibadah puasa.

Perintah ibadah puasa dapat dimaknai dalam berbagai aspek, seperti: agama, kesehatan, ekonomi, dan juga sosial. Keempat aspek tersebut menyimpan makna yang berbeda-beda sesuai dengan perspektif setiap orang yang menafsirkannya.

Dalam perspektif agama, ibadah puasa sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Seorang dokter atau pakar kesehatan secara umum mempunyai paradigma bahwa puasa dapat meningkatkan kesehatan. Menurut ekonomi, ibadah puasa dapat meminimalisir biaya pengeluaran (cost). Menurut perspektif sosiologis, ibadah puasa merupakan bentuk introspeksi terhadap problem sosial seperti kemiskinan, kriminalitas dan sebagainya.

Ibadah puasa hendaknya tidak hanya sekedar membangun kesalehan individual yang berkaitan hubungan makhluk dengan khaliq. Kesalehan sosial berupa hubungan manusia dengan sesama manusia hendaknya dapat diadopsi sebagai nilai yang sangat intens bagi orang yang berpuasa.

Kelompok manusia dalam berbagai macam kelas sosial telah diperintahkan oleh Tuhan untuk menjalankan ibadah puasa tanpa memandang kelas sosial. Kaum borjuis dan proletar, high class, middle class, atau bahkan low class. Semuanya mempunyai kewajiban yang sama untuk melaksanakan ibadah puasa.

Secara sosiologis, ibadah puasa mempunyai makna sosial yang sangat penting, yakni sebagai edukasi bagi setiap orang untuk merasakan beban kehidupan yang dialami oleh orang lain yang tidak mempunyai kemapanan hidup. Di antara mereka senantiasa hidup dalam kelaparan dan kehausan yang diakibatkan tidak mempunyai kemapanan secara ekonomi. Dalam suatu masyarakt terdapat beberapa orang yang hanya makan sehari sekali, dua kali, tiga kali, dan bahkan setiap hari menahan lapar.

Baca Juga :  Suntik dan Infus pada saat Puasa

Ramadhan merupakan moment dari manifestasi dari tindakan sosial yang mengarah pada kebaikan. Pemaknaan bulan ramadhan yang kurang tepat biasanya terjadi ketika manusia ingin meningkatkan status sosialnya. Tidak selayaknya kegiatan ibadah di bulan suci didasari niat sebagai sarana reifikasi sosial. Sebab golongan prekariat dan paria senantiasa membutuhkan uluran tangan.

Ada baiknya kita mempelajari pepatah Cina, bahwa setiap manusia bisa kaya, tapi kekayaan tidak pasti memberikan kebahagiaan. Setiap manusia bisa pergi ke dokter, tapi tidak semuanya bisa sehat. Setiap orang dapat tidur di atas kasur empuk, namun belum pasti memberikan kenyamanan.

Begitu pula dengan ibadah puasa di bulan ramadhan. Setiap orang mampu menahan haus dan lapar. Namun tidak semuanya mampu mengambil hikmah dari kelaparan yang  dirasakan. Terutama kelaparan dan kehausan yang senantiasa dirasakan oleh orang lain yang masih hidup dalam garis kemiskinan dan serba kekurangan. Setiap orang dapat membaca al-Qur’an, namun tidak semua dapat melaksanakan konsep kebaikannya.

Agama Islam yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad Saw mempunyai misi besar dalam membebaskan manusia dari penindasan dan problem sosial. Dalam berbagai kisah pada zaman nabi, sahabat, atau tabiin. Mereka senantiasa menumbuhkan empati yang terhadap penderitaan orang lain.

Kepedulian sosial senantiasa diutamakan dalam ajaran Islam. Nabi menyuruh para sahabat untuk memperbanyak air (kuah) ketika memasak dan membagikan kepada para tetangga agar mereka tidak kelaparan. Dalam suatu kisah lain dijelaskan ketika seseorang makan, maka tetangganya tidak boleh kelaparan. Menumbuhkan kesalehan sosial dalam bentuk kepedulian sosial terhadap beban hidup yang dipikul oleh orang lain dapat kita adopsi melalui ibadah puasa. Semoga pada bulan suci yang mulia ini kita dapat menumbuhkan kesalehan sosial dengan ibadah puasa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.