Kisah Menteri Menyesal Tidak Jadi Ulama Hadis

3
1270

BincangSyariah.Com – Imam al-Khatib al-Baghdadi dalam karyanya al-Jami’ li Akhlaq ar-Rawi wa Adaab as-Saami’ menceritakan sosok bernama Ibn al-‘Amid yang menyatakan bahwa ia sedang menyaksikan pemandangan yang lebih menyenangkan dibandingkan kepemimpinan dan jabatannya sebagai menteri. Ia menceritakan demikian.

Saya tidak mengira bahwa di dunia ini ada lebih manis dibandingkan dengan kepemimpinan dan jabatan sebagai menteri yang ia emban. Yang lebih manis itu adalah menyaksikan diskusi keilmuan antara Sulaiman bin Ahmad at-Thabrani Abu Bakar al-Ju’abi.

Dalam dialog tersebut, at-Thabrani berusaha mengalahkan lawan diskusinya, al-Ju’abi dengan banyaknya hafalannya. Sementara al-Ju’abi mengalahkan at-Thabrani dari sisi kecerdasannya di seluruh wilayah Baghdad. Suara perdebatan mereka menyaut keras, seolah tidak ada yang siap dikalahkan. (Baca: Kumpulan Kisah Ahli Hadis, dari Kiai Ali Mustafa Yaqub Hingga Imam al-Bukhari)

Al-Ju’abi berkata: “Saya punya riwayat hadis yang hanya saya yang memilikinya.”

At-Thabrani: “sampaikan disini !”

Al-Ju’abi berkata: “Aku meriwayatkan dari Abu Khalifah, dari Sulaiman bin Ayyub …”, – kemudian al-Ju’abi menyampaikan hadis.

At-Thabrani: “Abu Khalifah dari Sulaiman bin Ayyub !? Abu Khalifah sendiri meriwayatkan dariku ! Maka ambil saja riwayat itu dariku jadi sanad hadismu lebih pendek, dibandingkan engkau mendengarkan dari Abu Khalifah dulu baru dariku !

Al-Ju’abi tercengang, at-Thabrani mengalahkannya.

Ibn al-‘Amid berujar: “Di saat itu, aku merasa bahwa andaikan posisi menteri ini tidak ada di tampukku tapi aku justru berada di posisi at-Thabarni. Dan aku merasa senang layaknya senangnya at-Thabrani karena mempelajari hadis.

At-Thabrani adalah diantara ulama hadis yang masyhur. Diantara karyanya yang terkenal hingga saat ini adalah kitab-kitab Mu’jam-nya (al-Kabiir, al-Awsath, dan as-Shaghir) berisi hadis-hadis yang ia riwayatkan. Al-Ju’abi adalah diantara ulama hadis yang terkenal di Baghdad. Para ulama berbeda pendapat soal kualitasnya. Beberapa ulama besar yang meriwayatkan kepadanya adalah ad-Daruquthi dan al-Hakim.

Baca Juga :  Perkenalan Seorang Santri pada Sosok Al-Albani

Ibn al-‘Amid adalah seorang juru tulis asal Bukhara, yang kemudian bekerja untuk Dinasti Buwaihiyah hingga ia diangkat menjadi menteri di negara itu.

3 KOMENTAR

  1. […] BincangSyariah.Com – Bagi para ulama ahli hadis, memperoleh sebuah riwayat hadis adalah sesuatu yang sangat berharga, sebagian besar dari hidup mereka didedikasikan dalam kegiatan seputar periwayatan hadis dan memprioritaskan waktu mereka untuk itu. Hal ini pernah tergambar dalam sebuah kisah tentang Sufyan al-Tsauri, seorang ahli hadis dan ahli fikih besar yang hidup pada abad kedua Hijriah. (Baca: Kisah Menteri Menyesal Tidak Jadi Ulama Hadis) […]

  2. […] BincangSyariah.Com – Yahya bin Ma’in adalah seorang ulama besar dalam bidang hadis. Semasa hidupnya, beliau diberi gelar Malik al-Huffazh (rajanya para penghafal hadis) dan Syaikh al-Muhadditsin (gurunya para ahli hadis). Beliau lahir pada tahun 158 Hijriah dan tumbuh besar di Baghdad. Yahya bin Ma’in telah serius menuntut dan mencatat hadis sejak masih berusia 20 tahun. Beliau mendapat seribu dirham dari ayah beliau, namun seluruhnya beliau habiskan dalam usaha pencarian hadis bahkan sampai sandal saja beliau tidak punya. (Baca: Kisah Menteri Menyesal Tidak Jadi Ulama Hadis) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here