Menko Kemaritiman Tulis Kenangan tentang Mbah Maimoen

0
198

BincangSyariah.Com – Kepergian KH. Maimoen Zubair, menorehkan duka mendalam bagi bangsa Indonesia. Bagaimana tidak? beliau merupakan ulama yang sering memberikan nasehat-nasehat menyejukkan tidak hanya kepada ummat, tetapi juga kepada umara (penguasa).

Selepas kepergiaannya, beberapa catatan ringan tentang beliau, ditulis oleh orang-orang yang merasakan kedekatan atau minimal pernah bersua dengan kiai NU senior itu. Seperti catatan kenangan yang ditulis oleh Luhut Pandjaitan, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman RI, di beranda Facebook-nya siang ini (08/08/19).

“Saya terkejut membaca pesan HP saya bahwa K.H. Maimoen Zubair atau akrab dipanggil Mbah Moen meninggal dunia di Mekkah kemarin. Usia beliau 90 tahun. Saya terdiam dengan rasa haru dan mendoakan agar arwahnya diterima di sisi-Nya dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan,” tulis Luhut ketika mengenang hubungannya yang telah berjalan cukup lama dengan kiai karismatik itu, di awal catatannya.

Memang kiai yang sering memberikan petuah menyejukkan itu mengukir kesan mendalam bagi Luhut. Cerita itu bermula sewaktu Luhut masih menjabat sebagai Menko Polhukam, saat ia dan rombongan hendak mengunjungi Pondok Pesantren (PonPes) asuhan Mbah Maimoen, PonPes Al-Anwar Sarang, Rembang.

Tiba di halaman pesantren, barisan drum band mengiringi kedatangannya dengan meriah hingga sampai ke depan kediaman Mbah Maimoen. Lalu Mbah Maimoen menyambutnya dengan sangat ramah dan menggandeng tangannya menuju tempat “upacara”.

Acara penyambutan dilakukan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya oleh penghuni pesantren dan hebatnya lagi, diikuti dengan mengheningkan cipta bagi para pahlawan nasional yang telah meninggalkan kita. Semua diiringi musik dari drum band tersebut.

“Saya sudah sering mengunjungi berbagai pesantren di Jawa Tengah atau di Jawa Timur; tetapi penyambutan dengan menyanyikan lagu kebangsaan meninggalkan kesan mendalam bagi saya, seorang purnawirawan TNI,” kenang Luhut.

Baca Juga :  Memilih Waktu Terbaik untuk Memulai Usaha

Bagi Luhut, dengan “upacara” penyambutan seperti itu, maka bisa langsung terbayangkan bagaimana karakter Mbah Maimoen yang menonjol sebagai seorang nasionalis, dan tentu saja tetap sebagai kiai.

Waktu itu, lanjut Luhut, usia Mbah Maimoen sudah 87 tahun tetapi masih berpikir jernih dan amat runtut mengemukakan masalah. Dalam berbagai dialog yang dilakukan kemudian, Luhut merasa telah mendapat gambaran lengkap mengenai karakter Kiai NU itu.

Para ulama menyebutkan almarhum sebagai ulama besar yang lengkap (paripurna): ahli hikmah, ahli fiqih, pandai berpidato dan terlebih, mempunyai kecintaan sempurna kepada NKRI serta kepada siapapun almarhum selalu mengemukakan dengan terbuka ketidaksetujuannya pada ide negara khilafah.

“Beliau tahu politik, cerdas membaca peta politik nasional tetapi bukan seorang politikus yang umumnya punya agenda tertentu,” ujar Luhut.

Tentang kecintaannya kepada NKRI, sambung Luhut, almarhum pernah berkata bahwa, “Benteng Indonesia adalah PBNU…!” Yang beliau maksudkan bukan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dimana ia pernah turut besarkan; melainkan singkatan dari: Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, UUD 1945.

Kenangan lain, ia tuliskan saat Mbah Maimoen menyempatkan singgah ke tempatnya setelah melakukan pertemuan dengan Presiden Jokowi.

Pada suatu hari salah seorang yang ia tugaskan untuk menjadi penghubung dengan Mbah Moen meneleponnya. Ujarnya, Pak Kiai baru saja diterima oleh Presiden Joko Widodo di Istana, dan ketika diajak Pak Jokowi untuk shalat Jumat di masjid Istana, beliau dengan halus menolak, dan mengatakan, “Saya mau shalat di masjidnya Pak Luhut saja …”

“Terharu saya mendengar informasi itu, dan segera saya undang beliau untuk datang ke kantor saya (waktu itu) di Kemenko Polhukam di Jalan Merdeka Barat” kata Luhut.

Baca Juga :  Ini Empat Pesan Allah untuk Nabi Adam Saat Diturunkan di Muka Bumi

Di sana ia menyambut Mbah Maimoen sambil berkata, “Monggo Pak Kiai kalau mau shalat silakan….” Mbah Moen menjawab, ia tidak hanya sekedar ingin shalat bersama, tetapi juga ingin memberikan khutbah dan jadi imam shalat.

Untuk kedua kalinya Luhut terharu sekaligus merasa terhormat, tidak percaya bahwa seorang kiai yang begitu senior dan tenar mau berkhutbah di masjid Polhukam. Tanpa bicara, Luhut bisa merasakan kehalusan budi Mbah Maimoen.

Beberapa waktu setelah kejadian di Jakarta tersebut, Luhut menemani Presiden Jokowi untuk kunjungan kerja di kota Semarang. Siang-siang, Pak Jokowi tiba-tiba saja berkata, “Pak Luhut, saya mau bertemu dengan Mbah Moen di sini. Bisa diatur, kan?”

Saat itu ia mengiyakan, dan langsung meminta pihak TNI-AD menyediakan sebuah helikopter. Hanya bersama seorang staf ia terbang ke pesantren Mbah Maimoen di Rembang, menjemputnya dan membawa beliau dengan helikopter itu ke Semarang. Ia tidak ikut dalam pembicaraan mereka berdua, tetapi setelah berbicara cukup lama, Ia menghantarkan kembali Mbah Moen ke Rembang. Dengan helikopter juga tentunya.

Memang Luhut tahu bahwa Mbah Moen dan Pak Jokowi juga mempunyai hubungan pribadi yang sangat erat. Kapan saja almarhum mau bertemu Presiden, selalu ada waktu khusus untuk Mbah Moen di mana pun. Sebaliknya beberapa kali Presiden ke Rembang dan mereka berdua berbicara empat mata di kamar pribadi Pak Kiai, konon sampai shalat bersama.

Kembali Luhut merenung. Wafatnya K.H. Maimoen Zubair bukan hanya kehilangan bagi keluarganya, kesedihan bagi para santri di pesantrennya, atau juga kedukaan bagi PBNU dan PPP (beliau adalah Ketua Majelis Syariah Partai Persatuan Pembangunan) tetapi juga kehilangan besar bagi bangsa dan negara kita. “Beliau adalah seseorang yang selalu konsisten menjadi penjaga terdepan keutuhan NKRI,” tutupnya di akhir tulisan.

Baca Juga :  K.H. Abdurrohman Asnawi: Ini Enam Penyebab Seseorang Gagal dalam Menuntut Ilmu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here