Menjelajahi Warisan Peradaban Islam di Kota Tua Tunisia

0
659

BincangSyariah.Com – Bumi Tunisia sudah bersentuhan dengan ajaran agama Islam sejak lebih dari seribu empat ratus  tahun yang lalu. Tepatnya pada tahun 34 H, ketika Utsman bin Affan mengirim Muawiyah bin Hudaij beserta pasukannya untuk memperluas wilayah ke Afrika Utara.

Saat itu, pesisir pantai Afrika Utara dikuasai oleh Byzantium sedangkan wilayah lainnya dikuasai oleh pasukan suku Barbar.  Pertempuran pun tidak bisa dihindari.

Pertempuran sengit antara dua kubu telah terjadi selama berpuluh – puluh tahun. Sampai akhirnya, pada tahun 84 H pasukan musuh menyerah dan tidak lagi melakukan penyerangan terhadap umat Islam. Dengan begitu, pasukan Muslim yang dipimpin Hasan bin Numan berhasil menguasai seluruh Tunisia.

Keberhasilan tersebut kemudian diikuti dengan pembangunan – pembangunan infrastruktur secara masif. Maka dibangunlah masjid, penampungan air, pasar, pemukiman, madrasah, pabrik dan lain – sebagainya. Hal itu tidak hanya dilakukan di Kairouan yang saat itu menjadi ibukota wilayah Islam bagian Barat, tapi juga dikembangkan ke berbagai daerah lainnya termasuk kota Tunis.

Tunis (sekarang menjadi ibu kota Tunisia) merupakan kota metropolitan di Afrika Utara yang dianggap sebagai wilayah potensial dengan perkembangan ekonomi yang cukup baik dibanding kota – kota lainnya. Sehingga kota tersebut mendapat perhatian lebih dari penguasa Muslim Afrika Utara.

Begitu pula yang dilakukan oleh Ubaidillah bin Habhab saat menjadi Gubernur Afrika Utara. Tahun 116 H, untuk memperkuat pengaruh Islam ia membangun sebuah masjid di pusat kota Tunis. Masjid ini diberi nama Zaitunah karena konon di area tersebut terdapat pohon zaitun.

Wilayah sekitar masjid ini kemudian dikenal dengan Madinah ‘Atiqah (Kota Tua). Di sini terdapat banyak sekali warisan sejarah umat manusia. Tidak hanya kental akan peradaban Islam saja tapi juga peradaban lainnya yang sebelumnya pernah singgah di Tunisia seperti peradaban Chartage dan Romawi.

Baca Juga :  Ibnu Sahnun; Pioner Pendidikan Islam Asal Tunisia

Diantara warisan sejarah Islam terpopuler yang ada di kota tua antara lain Masjid Zaitunah, pasar kuno, rumah sakit Azizah Ustmana, makam Ali bin Ziyad dan benteng pertahanan Bab Bahr.

Keindahan Masjid Zaitunah tampak dari perpaduan antara sejarah klasik dan arsitektur modern. Masjid ini dibangun mengikuti arsitektur Masjid Uqbah bin Nafi’ di Kairouan.

Hal tersebut terlihat dari banyaknya persamaan diantara keduanya seperti luasnya halaman masjid, penempatan dua kubah, pembangunan menara berbentuk segi empat serta pasar dan tembok – tembok tinggi yang dibangun mengelilingi masjid.

Walaupun terjadi renovasi dan perbaikan, arsitektur nuansa abad pertengahan masih tetao dipertahankan, sehingga memberikan suasana layaknya berada di abad pertengahan bagi para pengunjung.

Keindahan masjid bertambah saat malam hari, dimana lampu penerang yang menyorot ke arah masjid membuat warna kuning keemasan masjid tersebut semakin menyala.

Sebagai monumen kebanggan masyarakat Tunisia, masjid ini memiliki banyak peranan penting. Tidak hanya sebagai tempat ibadah, namun juga sebagai tempat belajar mengajar yang kemudian dikenal dengan nama Ta’lim Zaituni. Ta’lim Zaituni ini merupakan cikal bakal berdirinya Universitas Zaitunah, salah satu universitas paling tua di dunia.

Ta’lim Zaituni telah melahirkan sejumlah tokoh terkemuka, seperti Ibnu Khaldun (bapak sosiologi), Ibnu Arafah (Ahli Tafsir), Ibnu Asyur (Ahli Maqasidussyariah), Tahir Haddad (Tokoh Feminisme Tunisa) Ats Tsaalabi (Tokoh Pahlawan Kemerdekaan Tunisia) hingga Muhammad Khidr Husain (Syekh al-Azhar tahun 1952).

Disisi lain, Masjid Zaitunah dikelilingi oleh pasar kuno. Pasar ini berbentuk menyerupai lorong raksasa yang memiliki banyak persimpangan. Karena dibangun dibawah ruangan tertutup, air hujan tidak menembus pasar dan hanya mengalir di setiap persimpang jalan.

Konon, selain berfungsi sebagai media perekonomian, pasar ini juga berfungsi sebagai pertahanan agar pasukan musuh tidak dapat menerobos langsung ke arah masjid.

Baca Juga :  Abu al-Qasim Asy-Syabbi; Penyair Tunisia yang Diabadikan dalam Lagu Kebangsaan 

Uniknya, dulu pasar tersebut disusun menjadi tiga lapisan yang melingkar mengelilingi masjid. Lapisan pertama berada paling dekat dengan masjid, sedangkan lapisan ketiga berada paling jauh dari masjid. Penempatan pedagang di setiap lapisan dibagi sesuai dengan barang yang dijual. Hal ini dilakukan demi kenyamanan para jamaah.

Lapisan pertama diisi oleh para pedagang parfum sehingga dapat memberikan aroma wangi kepada para jemaah. Selain itu, ditempati juga oleh penjual emas dan pedagang produk kecantikan tradisional seperti minyak zaitun, minyak argan dan lainnya.

Sedangkan di lapisan kedua, diisi oleh para penjual pakaian. Mereka menjajakan banyak jenis pakaian, diantara yang paling terkenal adalah syasiyah sebuah peci khas Tunisia berwarna merah. Sebagaimana kota Tunis merupakan pusat pengrajin sasyiyah.

Lalu di lapisan ketiga ditempati oleh para pengrajin besi. Mereka membuat kerajinan tangan seperti cinderamata. Keahlian ini telah diwariskan nenek moyang secara turun temurun. Para pedagang ini ditempatkan paling jauh dari masjid agar tidak mengganggu kekhusyukan  beribadah.

Sebab membuat kerajinan berbahan besi mengeluarkan bunyi yang cukup kencang. Pasar kuno ini terus mengalami perkembangan, dan untuk sekarang pembagian pedagang ini tidak lagi diterapkan.

Barang dagang yang dijual pun kian bervariasi mulai dari makanan tradisional, bumbu – bumbu tradisional, produk tekstil khas Tunisia, buku – buku pelajaran  hingga kebutuhan oleh – oleh untuk para wisatawan.

Di sekitar pasar, masih terdapat sejumlah peninggalan bersejarah lainnya seperti rumah peninggalan Ibnu Khaldun, makam pahlawan, madrasah dan masjid – masjid tua peninggalan Dinasti Utsmaniyah.

Jika berjalan ke arah pusat kota dari masjid Zaitunah, akan ada sebuah benteng bernama “Bab Bahr”. Benteng tersebut dulunya difungsikan untuk menjaga wilayah Tunisia dari serangan musuh. Jika dilihat lebih detail, posisinya berada sejajar dengan monumen patung Ibnu Khaldun dan Monggela (sebuah jam gadang raksasa) yang ada di pusat kota.

Baca Juga :  Beberapa Temuan tentang Orang Nusantara Masuk Islam Sejak Masa Khalifah Umar

Kemudian, jika terus berjalan menyusuri arah kiri dari Masjid Zaitunah, akan menjumpai makam Ali bin Ziyad. Ia adalah seorang ulama yang pertama kali membawa mazhab Maliki ke Afrika Utara. Selain itu, terdapat juga rumah sakit Aziziah Utsmanah peninggalan Dinasti Utsmaniyah. Dibangun oleh seorang perempuan dari uang pribadinya untuk kepentingan masyarakat.

Tata letak serta banyaknya warisan sejarah di kota tua, menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelancong. Terbukti, hampir setiap hari kota tua ini dikunjungi oleh sejumlah wisatawan asing yang berasal dari berbagai penjuru dunia. Kebersihan area ini cukup terjaga sebab setiap malam, kota tua ini dibersihkan oleh para petugas kebersihan.

Kekayaan warisan sejarah islam di kota tua ini tidak terlepas dari eratnya hubungan masyarakat dengan peradaban Islam. Dimana Tunisia telah sejak lama dikuasai oleh banyak dinasti Islam yang berbeda – beda sebut saja Aghlabiah, Hafsiyah, Husainiyah, Muradiyah dan lain – lain. Setiap dinasti memiliki ciri khasnya masing – masing sehingga membuat melimpahnya nuansa sejarah Islam di negara ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here