BincangSyariah.Com- Sebagai bangsa yang mempunyai berbagai macam keragaman baik manusia maupun sumber daya alamanya. Indonesia merupakan zamrud yang akan menjadi rebutan banyak pihak yang menginginkan keuntungan darinya. Eksistensi Indonesia sebagai bangsa tentu mempunyai posisi yang sangat strategis bagi bangsa-bangsa lainnya. Deskripsi yang demikian sesuai dengan pepatah bahwa ada gula, ada semut.

Keragaman yang dimiliki oleh bangsa Indonesia merupakan warisan berharga yang tidak ternilai harganya. Masyarakat Indonesia sejak dahulu kala sudah terbiasa dengan keragaman yang melekat pada diri mereka. Meskipun mereka belum mengenal konsep multikulturalisme atau pluralisme. Bangsa Indonesia sudah terbiasa hidup rukun antara satu sama lain dengan sikap saling menghormati dan menghargai, serta bergotong-royong dalam menjalankan aktivitas kehidupan.

Seni bergotong-royong (ta’awun) yang dimiliki oleh bangsa Indonesia merupakan modal besar dalam merealisasikan pembangunan nasional di masa depan. Banyak masyarakat di berbagai negara melakukan setiap tindakan karena pertimbangan tertentu. Sedangkan sikap yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia adalah lebih mengutamakan kepentingan orang lain lain daripada dirinya (isyar).

Keragaman kultur yang terdapat pada bangsa Indonesia terakomodasi melalui Pancasila yang kemudian menjadi bagi kohesi sosial di antara penduduknya. Sebagai bangsa yang besar, tentu kita sangat bersyukur karena mempunyai Pancasila yang mengikat kita dalam keragaman (bninneka tunggal ika). Para cendekiawan menyimpulkan bahwa bangsa Indonesia bisa berdiri tegak karena disatukan oleh komponen yang heterogen antara satu sama lain.

Pendiri bangsa kita yang berasal dari Sabang sampai Merauke tentu memahami bahwa Pancasila merupakan wadah yang akan menampung kepentingan bersama. Banyak pemikir maupun ulama dan kalangan agamawan manapun yang menerima Pancasila sebagai ideologi negara. Mereka menyadari bahwa di Indonesia terdapat bermacam-macam agama yang berbeda. Sehingga mereka sepekat bahwa Pancasila adalah ideologi negara tidak bertentangan dengan konsep ajaran agama manapun.

Baca Juga :  Ngabuburit dalam Pandangan Islam

Pancasila merupakan wadah yang akan menampung seluruh kepentingan agama. Sejarah telah mencatat bahwa negara Indonesia berdiri karena latar belakang agama yang dipelopori oleh kalangan agamawan dalam melawan kolonialisme dan imperialisme bangsa asing. Latar belakang historis inilah yang kemudian menjadikan Indonesia sebagai negara yang nasionalis-religius.

Agama merupakan ajaran suci yang berasal dari Tuhan dan tidak perlu dipertentangan dengan Pancasila. Sebab Pancasila bukanlah agama yang memberikan ketentuan-ketentuan khusus berupa syariat agama kepada masyarakat Indonesia. Tujuan dijadikannya Pancasila sebagai ideologi bangsa adalah agar kita menjadi warga yang berdaulat dalam wilayah, berkepribadian dalam budaya dan berdikari dalam ekonomi.

Sejak awal kemerdekaan, Pancasila telah menjadi payung bersama yang menaungi kita dalam berbagai macam perbedaan. Eksistensi Pancasila bagaikan kapal besar yang akan mengangkut seluruh penumpang dengan latar belakang yang berbeda kepada tujuan bersama. Setiap penumpang kapal mendapatkan asuransi dan jaminan. Mereka juga diperbolehkan untuk beribadah sesuai dengan keyakinannya. Bagi penumpang muslim, mereka diperbolehkan sholat diatas dek kapal, disediakan musholla, air untuk berwudhu dan juga sajadah untuk bersujud. Begitu juga dengan ummat agama lain yang beribadah sesuai dengan kepercayaannya masing-masing.

Mempertentangkan agama dengan Pancasila merupakan tindakan yang dapat menenggelamkan bangsa Indonesia kepada konflik yang tidak berguna. Tindakan ini adalah ulah manusia yang tidak bertanggung jawab dan dapat merugikan semua pihak. Ketika terdapat satu atau beberapa orang yang melubangi kapal. Maka ia akan tenggelam dan seluruh penumpangnya akan karam.

Tindakan yang dapat menyebabkan tenggelamnya kapal harus dicegah sedini mungkin melalui usaha yang bersifat prefentif agar tidak mendatangkan mudharat bagi seluruh penumpangnya. Jika kita membiarkan sekelompok kecil orang melubagi/merusak kapal, maka kita semua akan tenggelam. Islam sebagai agama merupakan payung besar yang akan menjadi pelindung utama bagi kapal bernama Indonesia. Mereka sadar bahwa mereka berwudhu, bersujud, hidup dan kembali kepada sang pencipta di atas tanah Indonesia. Oleh karena itu, kalangan nasionalis-religius senantiasa bersikap toleran sebagaimana yang dicontohkan oleh nabi Muhammad yang melindungi orang yang berbeda kepercayaan.

Baca Juga :  Demokrasi Bukan Agama

Penetapan hari lahirnya Pancasila pada 1 Juni kemarin oleh Presiden Jokowi merupakan moment yang sangat berharga bagi bangsa Indonesia. Terutama bagi ummat Islam yang merupakan mayoritas dari penduduk Indonesia. Sebab penetapan ini bersamaan dengan bulan puasa yang merupakan moment berharga bagi ummat Islam untuk meningkatkan amal ibadah dengan memperbanyak kebaikan.

Perayaan Pancasila pada bulan Ramadhan seharusnya dapat menjadi perekat yang kuat diantara komponen bangsa. Ummat Islam yang merupakan mayoritas mempunyai tanggung jawab yang besar sebagai pangayom (peneduh) bagi ummat yang lainnya. Bulan suci Ramadhan sebagai sebuah momentum untuk memperbanyak kontribusi kebaikan. Mewujudkan Islam yang ramah di Indonesia dapat menjadi contoh bahwa Islam adalah agama yang cinta damai yang mempunyai kepedulian sosial yang besar.

Tidak selayaknya bulan Ramadhan yang bertepatan dengan lahirnya Pancasila diperkeruh dengan tindakan yang tidak bertanggung jawab atas nama agama. Tindakan yang demikian hanya akan menimbulkan problem sosial yang dapat merugikan semua pihak. Tidak pantas ketika orang yang beragama berpandangan sempit dengan menetang Pancasila sebagai ideologi bangsa. Sebab Pancasila tidak melawan agama, Pancasila menjamin eksistensi agama di Indonesia dengan sila ketuhanan yang maha esa. Pancasila juga menjamin hak asasi manusia dengan sila kemanusiaan yang adil dan dan beradap. Termasuk sila persatuan Indonesia yang dapat merekatkan kita dalam sebuah silaturrahmi agar menjadi sebuah bangsa yang besar dimasa depan.

Menjaga kapal besar bernama Indonesia adalah tanggung jawab seluruh penumpangnya, yakni seluruh element rakyat Indonesia. Kapal ini harus tetap berlayar terus melintasi samudra yang luas hingga sampai kepada tujuan yang diinginkan. Sebagaimana cita-cita founding father kita yang dipelopori oleh kalangan cendekiawan dan agamawan. Menjadi bangsa yang baldatun thoyyibatun warabbun ghafur, (gemah ripah loh jinawe).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here