Menjadi Wali Karena Sering Memperingati Maulid Nabi

1
23

BincangSyariah.Com – Rabiul Awal adalah bulan yang istimewa. Dalam diksi yang indah, K.H.R. Ahmad Azaim Ibrahimy, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo, menyebut, Rabiul Awal adalah musim semi ruhani. Hal ini tidaklah berlebihan sebab pada bulan ini, dilahirkan Rasulullah Muhammad Saw., manusia terbaik yang kelak kita harap syafa’atnya.

Bagi kalangan muslim, khususnya di Indonesia, memperingati kelahiran Nabi Muhammad Saw. dengan ragam kreativitas dan kearifan lokal masing-masing, dapat disebut sebagai tradisi yang telah mendarah daging dan susah dipatahkan. Tradisi ini nampak masih sangat kuat di tengah masyarakat.

Resistansi ini bisa kita baca dari sebuah temuan menarik yang paparkan dalam buku Wajah Muslim Indonesia. Di sana dinyatakan bahwa “Ada sebanyak 90% responden yang mengaku ikut memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Ritual ini sangat terasa tidak hanya oleh masyarakat Muslim di pedesaan saja, tetapi demikian juga oleh masyarakat Muslim di perkotaan. Pria maupun wanita, usia muda maupun tua ikut merayakannya.” Demikianlah relaitas yang terhampar di hadapan kita hari ini.

Sekarang mari sejenak kita flash-back pada masa Dinasti Abbasiyah, tepatnya, pada masa kepemimpinan Sultan Harun al-Rasyid. Pada masa itu, di daerah Bashrah tepatnya, hidup seorang pemuda yang gemar berfoya-foya. Sebab kelakuannya yang dianggap menjijikkan itu, ia pun dipandang hina oleh masyarakatnya.

Namun demikian, yang membuat pemuda ini istimewa adalah bahwa ia sangat antusias menyambut datangnya bulan kelahiran Nabi. Dikisahkan bahwa setiap kali bulan Rabiul Awal datang, ia mencuci pakaiannya, memakai wewangian (parfum), berhias diri, kemudian menggelar walimah yang mana di dalamnya dibacakan Maulid al-Nabi. Pemuda tersebut pun mendawamkan amaliyah ini dalam rentang waktu yang relatif panjang.

Baca Juga :  Mengenal Istilah-istilah dalam Ilmu Fikih (Bagian II)

Syahdan, ketika nafas pemuda ini telah direnggut ajal, penduduk kota Bashrah mendengar sebuah seruan ghaib. “Wahai penduduk kota Bahsrah, hadir dan saksikanlah jenazah seorang wali dari sekian wali Allah. Sesungguuhnya ia memiliki kedudukan yang mulia di sisi-Ku!”

Mendengar seruan misterius itu, seketika penduduk kota Bashrah mengahadiri jenazah itu, kemudian ikut serta menguburkannya.

Kemudian, setelah peristiwa mengejutkan itu, penduduk Bashrah pun bermimpi melihat jenazah itu berjalan melambaikan dalam balautan pakaian sutra nan megah. Dalam mimpi itu, penduduk Bhasrah menanyainya perihal apa gerangan yang telah menyebabkan ia beroleh karunia itu. Ia pun menjawab, “Keutamaan ini aku dapat sebab pengagunganku terhadap Maulid Nabi.” (Baca: Siapakah Orang yang Pertama Kali Memperingati Maulid Nabi?)

Dalam I’anah al-Thalibin,  juz 3, Syekh Abu Bakar Syatha al-Dimyathi menyitir Makruf al-Karkhi (seorang tokoh sufi agung yang disebut-sebut sebagai orang pertama yang mendefinisikan tasawuf) yang mengatakan,

“Kelak pada hari kiamat, Allah akan mengumpulkan orang yang menyiapkan makan untuk memperingati Maulid Nabi, mengundang saudara-saudaranya, menyalakan lentera, memakai pakaian baru, menggunakan wewangian, dan berhias –lantaran menghormati kelahiran Nabi Muhammad Saw., bersama rombongan pertama, yakni dari kalangan para Nabi.”

Dari sudut pandang orang menghadiri acara dan memperingati Maulid Nabi, al-Sari al-Saqathi menegaskan bahwa orang yang menuju suatu tempat di mana pada tempat tersebut dibacakan Maulid al-Nabi, sejatinya orang itu tengah menuju surga. Sebab tiada lain hal yang mendorongnya untuk bergegas menuju tempat itu kecuali karena cintanya kepada Sang Rasul. Sementara itu, Rasullah Saw., sendiri bersabda:

مَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الجَنَّةِ

….Barangsiapa yang mencintaiku, ia akan bersamaku di surga.” (HR. Al-Turmudzi No. 2678)

Baca Juga :  Hilyat Al-Auliya’ Fi Thabaqat Al-Ashfiya’: Ensiklopedia Wali Allah

Dalam suatu kesempatan, Rasulullah Saw., pernah ditanya oleh seorang laki-laki tentang kapan datangnya hari kiamat. Beliau lantas balik bertanya perihal bekal apa yang telah dipersiapkannya untuk hari kiamat. Lelaki itu menjawab “Aku tidak menyiapkan banyak solat, juga tidak banyak puasa untuk menyongsong. Melainkan aku sungguh-sungguh mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Rasulullah Saw memungkasi dialognya bersama sang lelaki dengan sabdanya,

الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ وَأَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

“….Seseorang akan bersama yang ia cinta. Dan engkau akan bersama yang engkau cintai.” (HR. Al-Turmudzi No. 2385)

Kisah lelaki yang menjadi wali sebab penghormatannya terhadap Maulid Nabi, berikut pernyataan dari ulama terkait keutamaan perayaan Maulid Nabi sebagaimana telah disebut di awal, adalah sebagian bagian kecil dari argumen-argumen teologis yang semoga semakin memantapkan kita untuk senantiasa mendulang berkah dari momentum kelahiran Nabi yang mulia ini.

Semoga pula segala amaliyah kita dalam menyambut dan menyemarakkan kelahiran Sang Rasul, dihitung sebagai bukti cinta kita kepadanya. Sehingga dengan bekal cinta itu, kita berharap limpahan syafa’at, berharap dikumpulkan dengan beliau di surga kelak.

Selamat ber-Maulid Nabi. Allahumma Shalli ‘ala Muhammad.

1 KOMENTAR

  1. […] Kedua, al-mahabbah wa al-mawaddah lah (mencintainya). Hal ini juga menjadi hak bagi Nabi Muhammad saw. yang seharusnya ditunaikan umatnya sejak zaman sahabat hingga sekarang. Sebuah hadis muttafaq alaih menyebutkan bahwa iman seseorang tidak sempurna sehingga ia lebih mencintai Nabi Muhammad saw. dari pada orang tua, anak, dan seluruh manusia. (Baca: Menjadi Wali Karena Sering Memperingati Maulid Nabi) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here