Ngaji al-Hikam: Ingin Menjadi Orang Luar Biasa, Tapi Kok Masih Santi Aja?

0
28

BincangSyariah.Com – Barangkali kita sangat akrab sekali dengan sebuah pepatah “Hidup berawal dari mimpi” yang diturunkan lintas generasi dari nenek moyang kita. Pepatah tersebut, bagi saya dan mungkin bagi sebagian besar kalangan masyarakat lainnya, sering digunakan sebagai basis awal untuk menata masa depan yang cemerlang dan menjadi orang luar biasa.

Melalui mimpi-mimpi tersebut, kita tentu dapat melakukan perhitungan-perhitungan, mengerti keadaan yang nanti akan dihadapi, dan tentu akan ke arah mana langkah kita untuk mewujudkannya.

Hal ini, sebagaimana nasihat yang disampaikan Syekh Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari (w. 709 H)—Allah Yarham—dalam kitabnya al-Hikam yang memulai penjelasan terkait hal ini dengan menyampaikan redaksi nasihat sebagai berikut:

كَيْفَ تُخْرَقُ لَكَ الْعَوَائِدَا وَأَنْتَ لَمْ تَخْرَقْ مِنْ نَفْسَكَ الْعَوَائِدُ

“Bagaimana mungkin engkau akan mendapatkan hal-hal yang luar biasa sedangkan engkau tidak melepaskan kebiasaan-kebiasaan buruk dari diri Anda”.

Memiliki mimpi yang luar biasa di kemudian hari sangat dianjurkan oleh Syekh Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari. Mimpi, dalam konteks ini dapat berupa apa saja. Dapat berupa mimpi untuk menjadi orang kaya, mimpi untuk mendapatkan nilai terbaik dalam masa studi, maupun mimpi untuk mendapatkan tempat terbaik di kemudian hari (baca: surga).

Selain memberikan anjuran untuk mempunyai mimpi-mimpi yang luar biasa, Syekh Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari juga memberikan nasihat bahwa mimpi-mimpi tersebut haruslah disertai dengan sebuah tindakan melepaskan suatu kebiasaan buruk kita dan juga sesuatu yang biasa-biasa saja.

Misalnya, dalam konteks ingin menjadi kaya. Bagaimana mungkin kita akan menjadi kaya jika tidak ada satu usaha pun untuk mewujudkannya, meskipun dalam setiap malamnya senantiasa berdoa kepada Allah Swt.

Bagaimana mungkin kita akan mendapatkan nilai terbaik dalam studi, jika tidak pernah masuk sekolah, tidak pernah membaca buku, tidak pernah memperhatikan guru saat menerangkan materi. Justru lebih tertarik untuk memainkan smartphone kita.

Bagaimana mungkin kita akan mendapatkan tempat terbaik di kemudian hari jika dalam menjalankan segala anjuran dan ketentuan-Nya saja masih jarang-jarang, atau bahkan yang lebih parah lagi justru tidak pernah. Kita justru lebih tertarik pada urusan-urusan duniawi.

Orang-orang yang demikian, sebagaimana disampaikan oleh Syekh Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari, merupakan termasuk dalam sekelompok orang yang berada di jurang kebobrokan dan kehinaan.

Jika sudah begitu, kita hanya akan menjadi orang yang biasa-biasa saja dan tidak ada kedudukan yang istimewa di hadapan-Nya.

Maka, dambakanlah sesuatu yang sangat luar biasa di kemudian hari, dan jangan sekali-kali enggan untuk menjauhi segala tindakan yang justru akan membuat kita binasa. Wallahu’alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here