Mengupas Kamus al-Marbawi Karya Ulama Nusantara

0
235

BincangSyariah.Com – Orang-orang Nusantara sudah biasa melanglang buana ke berbagai negara dengan berbagai tujuan, termasuk mencari ilmu. Kepergian mereka ke negeri yang jauh itu, tidak dalam waktu yang singkat. Ada juga yang bermukim di sana untuk waktu yang lama, lalu pulang ketika sudah menjelang tua ke kampung halamannya.

Potret sekilas ini boleh jadi cocok untuk kita tujukan kepada salah seorang putra bangsa Melayu yang menjadi bagian dari jaringan pelajar di Tanah Suci yang belajar di sana selama berpuluh-puluh tahun. Adalah Syaikh Muhammad Idris bin Abdul Rouf al-Marbawi, putra kelahiran Misfallah, Mekkah 10 Mei 1896/28 Dzulqaidah 1313 H.  Kedua orang tuanya sebenarnya berasal dari daerah Perak (kini menjadi salah satu daerah di Malaysia). Beliau wafat pada 13 Oktober 1989.

Jika dilihat tahun wafat beliau, maka besar kemungkinan kamus beliau muncul ketika beliau masih belajar di al-Azhar. Syekh Idris al-Marbawi, keturunan Perak, Malaysia kelahiran Mekkah ini lama menimba berbagai ilmu di Mesir. Yang menarik, – sebagai seorang yang sejak lahir di Mekkah – banyak dari karya-karyanya justru ditulis dalam bahasa Melayu. Beliau juga menulis kitab al-Bahr al-Madzi, terjemahan dan syarah atas Sunan al-Tirmidzi. Jumlahnya mencapai lebih dari 10 jilid.

Selayang Pandang Metodologi

Penulis berpegang kepada edisi kamus yang dicetak oleh Dar al-Fikr, Beirut dalam tulisan ini. Pada edisi tersebut, tidak tertulis bulan dan tahun berapa yang dicetak. Menurut satu sumber, ditulis pada tahun 1930-an. Pada halaman paling belakang edisi ini, tertulis buku-buku Idris al-Marbawi lainnya yang dicetak oleh Dar al-Fikr.

Beberapa karangan yang disebut adalah, Bahr al-Madzi: Keterangan Mukhtashar Shahih al-Tirmidzi, Tafsir Yasin: yang diterjemahkan daripada Tafsir Fath al-Qadir, Asas al-Islam: Pada Bicara  Mengambil Wudhu’ dan Sembahyang dan Lainnya dengan Gambar, dan Ringkasan Kamus Melayu-Arab Bergambar Dan Teladan Belajar ‘Arabnya yang Senang.

Dalam situs Wikipedia berbahasa Melayu, disebutkan bahwa Kamus ini diterbitkan kembali pada tahun 90-an di Malaysia, dengan Penerbit bernama Darun-Nu’man

Baca Juga :  Risalah Al-Ladunniyyah dan Cara Al-Ghazali Membantah Kaum Rasionalis

Kamus ini disusun mulai dari mukadimah, kaidah menggunakan kamus (kaidah menggunakan kamus ini), hadis-hadis tentang “menggambar”, beberapa kosakata yang disertai dengan gambar, serta konten kamus itu sendiri. Bagian tentang hadis kebolehan menggambar paling menarik.

Beliau menyitir hadis yang membolehkan menggambar dan tidak. karena beliau menghadirkan dalam kamus ini lebih dari 1200 kata yang kebanyakan disertai gambar untuk membantu pemahamannya.

Pada masa al-Marbawi, perdebatan mengenai larangan fotografi masih hangat diperdebatkan. Namun, fotografi tidak bisa masuk dalam pengertian menggambar (yang didefinisikan sebagai ihdaathu al-shuurah wa iijaaduhaa). Sementara itu, fotografi dengan cara menangkap bayangan objek seperti orang bercermin kemudian dituangkan kedalam kertas khusus foto, tidak bisa disebut menggambar.

Mengutip pernyataan al-Khattabi yang menyatakan kalau gambar hewan mudah-mudahan bukan termasuk larangan dari hadis ini, menjadi penutup pendapatnya tentang bolehnya menggunakan gambar hewan, apalagi dalam konteks belajar bahasa.

Dalam dunia Islam, aksara Arab Melayu (Arab Jawi) telah lama digunakan. Al-Marbawi pun ikut menuliskannya dalam aksara Arab Jawi. Hemat penulis, pilihan mengapa al-Marbawi memilih aksara ini adalah karena, pertama, huruf Jawi masih menjadi huruf yang lazim digunakan orang Nusantara ketika berada di negara-negara Arab, baik sebagai pelajar, ulama, atau ketika bekerja.

Kedua, huruf latin belum populer sebagai bahasa masyarakat. Huruf latin umumnya digunakan oleh pemerintah kolonial untuk urusan-urusan resmi. Ketiga, penggunaan huruf latin di dunia Islam hadir ketika muncul gagasan-gagasan “modernisasi” dalam dunia Islam yang tidak terlepas dari bagian kuasa kolonial.

Jika kamus ini digunakan di dunia Islam sekarang ini, ia akan menemui kendala ketika para pembaca kamus adalah orang yang awam dalam aksara Arab, dimana ia hanya mengetahui aksara Arab sebagai aksara Alquran dan berbahasa Arab. Sehingga, kamus ini bisa dimasukkan kedalam kategori pembaca khusus, setidaknya kaum santri.

Baca Juga :  Ramadan sebagai Momentum untuk Memperbaiki Diri

Selain itu, beberapa terjemahan harus menghadapi penyesuaian dengan bahasa yang digunakan saat ini. Meski sesama berbahasa Melayu, Indonesia, Malaysia, sebagian masyarakat Singapura, dan Brunei memiliki standar baku bahasa masing-masing, sehingga butuh penyesuaian kembali mana bahasa yang masih bisa digunakan – dalam konteks Indonesia misalnya – mana yang tidak.

Mencari Entri Kata

Kamus ini mengikuti kaidah asal-usul kata adalah kata kerja (fi’il). Sehingga, semua kata yang hendak dicari pembaca, perlu dikembalikan kepada bagaimana bentuk dasar dari kata tersebut, yaitu bentuk tsulatsi (kata kerja dengan tiga huruf dasar) atau ruba’i (kata kerja dengan empat huruf dasar).

Kaidah ini –menurut pengamatan penulis– cocok untuk mereka yang baru dalam mempelajari bahasa Arab. Sementara kata yang tidak masuk kedalam asal-usul kata yang bisa diambil derivasinya, dimasukkan sesuai dengan abjad bersama dengan kata kerja dengan huruf dasar saja.

Contohnya, pada kelompok huruf alif, entri awal dimulai dengan hamzah (أ). Hamzah diterjemahkan dengan banyak arti sesuai fungsinya, baik sebagai kata tanya, kata panggil (baik untuk panggilan terhadap yang jauh maupun yang dekat/al-nidaa li al-ba’iid aw li al-qariib). Yang terakhir ini misalnya, kata (أ) diartikan dengan “hai” (untuk panggilann dekat) dan “haaai dan hooi” (untuk panggilan jauh). Untuk entri yang tidak masuk terhadap kata kerja dasar, contohnya misalnya kata (آب) (baca: Aaab) yang berarti bulan agustus.

Untuk kata yang memiliki kata dasar, al-Marbawi juga mencantumkan perbedaan fi’il mudhari’ dari satu entri. Misal kata abba (أَبَّ) yang memiliki dua fi’il mudhari’ yaitu yaubbbu dan yaibbu. Meski memiliki dua fi’il mudhari’ dan mashdar yang berbeda, al-Marbawi menerjemahkan dengan arti yang sama.

Baca Juga :  Parenting Islam; Ini 14 Tipikal Karakter Anak yang Harus Kamu Tahu

Beberapa kata yang muncul dari pengembangan kata dasar (tsulatsi mujarrad) juga dimasukkan kedalam entri alif, meskipun kata aslinya berawalan bab, seperti abaaha (kata asli berawalan baaha), abaada (kata asli berawalan baada), ibtahaja (kata asli berawalan bahaja), dan lainnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here