Lima Indikator yang Digunakan Kiai Pesantren dalam Mengevaluasi Perkembangan Belajar Santri

0
919

BincangSyariah.Com – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim menelurkan empat program pokok kebijakan pendidikan “Merdeka Belajar”. Kebijakan yang paling ramai diperbincangkan yaitu diubahnya UN menjadi Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter peserta didik.

Singkatnya, untuk mengevaluasi kemampuan peserta didik, guru dan sekolah diberi keleluasaan dalam membuat penilaian. Sehingga guru dan sekolah sebagai orang yang paling mengetahui peserta didik dapat mengukur kemampuan peserta didik secara tepat. Akan tetapi tulisan ini tidak akan membahas hal tersebut.

Tulisan ini akan menggambarkan bagaimana para kiai, sufi nan bijak bestari mampu menilai untuk mengukur bagaimana motivasi atau niat belajar para santri dan muridnya dalam menuju tujuan utama pendidikan.

Pendidikan dalam dunia pesantren tidak diarahkan hanya untuk menguasai aspek kognitif dan psikomotorik. Pendidikan pesantren selain mengajarkan ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) dan mengembangkan ketrampilan juga sangat menekankan aspek afektif. Bahkan, nilai atau moralitas menjadi pilar utama pendidikan pesantren.

Tidak ada pemisahan antara tiga kompetensi pendidikan. Ilmu dalam tradisi pesantren diibaratkan seperti pedang. Orang yang berilmu dapat menggunakan ilmunya sebagaimana pedang untuk berbuat baik atau sebaliknya, berbuat buruk. Sehingga syekh Nawawi al-Bantani dalam kitab Maroqil Ubudiyah mendefinisikan ilmu yang sejati.

وَ الْعِلْمُ الْحَقِيْقِيْ هُوَ الَّذِيْ يَعْرَفُ اْلإِنْسَانُ بِهِ نَفْسَهُ وَرَبَّهُ

Artinya:

Ilmu yang sejati ialah ilmu yang menjadikan manusia mengetahui dirinya dan Tuhannya”.

 

Bahkan kiai Sholeh Darat dalam kitab Minhāj al-Atqiyā’ fi syarhi ma’rifati al-Adzkiyā’ menyebutkan bahwa pendidikan hanyalah sarana untuk mengetahui dan menuju Tuhannya. Puncak keberhasilan atau tujuan pendidikan di pesantren menghasilkan orang yang bertakwa.

Dengan demikian, para santri dan murid dididik sejak awal dalam belajar untuk tidak memiliki motivasi atau niat duniawi selain menggapai ridho Allah.

Baca Juga :  Teladan Sifat Nabi untuk Perbaiki Moral Bangsa

Lantas bagaimana para kiai mengontrol dan mengevaluasi para santri dan murid agar tetap memiliki niat yang benar dalam belajar. Sebagai seorang yang behubungan langsung dengan santri dalam aktivitas sehari-hari, kiai dapat secara langsung mengontrol perkembangan belajar santri, bahkan setiap saat.

Oleh karenanya, tidak sulit mengevaluasi perkembangan belajar santri hingga pada level batiniahnya seperti ketulusan niat belajar.

Kiai Sholeh Darat dalam kitab Minhāj al-Atqiyā’ fi syarhi ma’rifati al-Adzkiyā’ memberikan indikator untuk menandai seorang murid memiliki niat belajar selain mencari ridho Allah.

Pertama, seorang murid dalam kehidupan kesehariannya cenderung pada hal-hal yang menyenangkan. Santri atau murid semacam ini bisa ditandai sebagai orang yang sedang terjebak dalam nafsu dan syahwatnya. Sehingga sang kiai harus segera menyelamatkannya.

Kedua, memiliki motivasi tinggi dalam urusan dunia. Sehingga ia berusaha melakukan apapun untuk mendapatkannnya. Seperti terobsesi pada jabatan, pengakuan, dan lainnya.

Ketiga, santri atau murid yang tidak mempelajari ilmu yang seharusnya terlebih dahulu dipelajari. Dalam hal ini kiai Sholeh Darat mencontohkan mereka yang belum menguasai ilmu muhlikāt (perilaku yang merusak) dan munjiyāt (perilaku yang menyelamatkan) dan belajar ilmu alat (nahwu dan saraf).

Keempat, bermalas-malasan untuk melaksanakan salat berjamaah tanpa adanya halangan. Dalam tradisi pesantren, Kiai akan sangat mudah mengetahui mana santri atau murid yang tidak berjamaah karena berada pada sebuah lingkungan yang sama.

Kelima, mudah meninggalkan salat sunah dan melalaikan ibadah-ibadah sunah.

Dengan lima indikator ini, para kiai pesantren mengukur dan mengevaluasi perkembangan santrinya. Tentu dalam rangka untuk menjaga motivasi belajar mereka hanya untuk mencapai ridho Allah.

Hasil akhirnya pesantren akan melahirkan manusia yang mewarnai berbagai sektor kehidupan seperti politik, ekonomi, dan sebagainya dengan kemampuan kognitif dan psikomotoriknya tanpa meninggalkan prinsip ketakwaan dalam beragama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here